Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

Banjir

- Cerita Wahyu Chandra -
 
 
Sumber foto: bisnis.jabar.com
Hujan deras masih mengguyur seluruh kota. Dari balik jendela kamar kulihat butiran-butiran air mengguyur deras membenamkan apa saja di permukaan. Sesekali terdengar suara petir menggemuruh, dan kilatan cahaya putih kemerahan membelah langit, menciutkan hati siapa saja yang sedang berada di jalanan.

Tiga hari. Hujan tak pernah berhenti dengan jeda yang panjang. Sungai-sungai, kanal-kanal, airnya mengalir melimpah ke dataran yang lebih tinggi.

”Dua orang anak hilang terbawa arus air akibat derasnya hujan tiga hari ini...,” terdengar berita di radio yang baru saja kunyalakan. Aku mengeraskan volume untuk menandingi suara gemuruh hujan.
Lalu kuputar chanel lain. Terdengar lagu Top Indonesia terkini dari sebuah radio swasta anak muda.

Peterpan, Samson, Radja, Ratu dan sederetan musisi muda pendatang baru lainnya.

Kuganti chanel, berita tentang kudeta yang gagal di Filipina. Beberapa petinggi militer dan anggota parlemen yang dianggap dalang rencana kudeta tersebut ditangkap. Fidel Ramos, mantan presiden yang dulunya pendukung utama Presiden Arroyo Maccapagal (dibaca Makkapagal) mengecam tindakan refresif Mrs Presiden, yang dianggap sebagai tak ubahnya diktator Marcos.

Kuganti Chanel. Wawancara dengan seorang anggota dewan dan pejabat pemerintah kota dengan topik ”Banjir 2006: Prospek dan Tantangannya”. Mirip judul tesis mahasiswa.

Si anggota dewan, pengusaha sukses yang memiliki beberapa perusahaan konstruksi, mengomentari banjir sebagai produk buruknya manajemen penataan kota selama ini. Tampaknya ia memposisikan diri sebagai oposan.

Panelis lain, seorang birokrat, seperti biasanya lebih banyak memaparkan program penanggulangan banjir yang berada dalam tanggung jawabnya. Lagi-lagi masalah anggaran yang dijadikan kambing hitam.

”Kami akan segera menanggulangi bencana banjir ini secepatnya,” ujarnya mengumbar janji.

Akan? kataku spontan, mirip desahan. Mungkin setelah seluruh kota tergenang baru akan ada tindakan penyelamatan. Posko-posko pengungsian dibentuk. Anggaran darurat pun dikucurkan. Tak pernah ada yang tahu berapa anggaran yang akan dihabiskan.

Aku memutar chanel lain. Wawancara tentang penanggulangan pendemi flu burung. Lagi-lagi anggaran yang menjadi masalah. ”Kami mengharap masyarakat tidak terlalu mempersoalkan dana pengganti, karena jumlahnya sangat sedikit. Kami mengharap pengertiannya..,” ungkap seorang pejabat pemerintah di daerah lain.

Puih, lalu anggaran yang telah disediakan mau dikemanakan? Itu sama saja jika pejabat itu berkata: ’Dari pada pusing-pusing memikirkan uang pengganti, lebih baik dana itu dimasukkan saja ke kantong kami. Hitung-hitung sebagai balas saja atas apa yang telah kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa kalian’.

Lalu berita lain. Seorang anak berumur 8 tahun meringkuk di sel orang dewasa hanya karena mencoba membela diri dari gangguan temannya yang jauh lebih tua (menurut berita umurnya 14 tahun). Si hakim seorang ibu, berdalih penegakan hukum, memerintahkan penahanan si anak, yang tak pernah habis pikir bahwa sebuah upaya membela diri dianggap sebagai kejahatan. Sementara sang Ketua Pengadilan setempat sibuk membela diri dan menganggap kasus itu sebagai kasus biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.

”Ini biasa koq di pengadilan kami. Sudah banyak anak-anak lainnya yang kami adili seumur dengan dia dan selama ini tidak ada masalah,” katanya dengan gagah perkasa melawan opini publik.
Hujan masih saja terus merobek-robek keheningan malam. Kota dari kejauhan seperti sebuah kota mati. Jalanan yang tergenang hingga ke lutut. Petugas PLN sibuk menerima laporan gangguan korslet listrik dimana-mana.

Radio masih kunyalakan. Kali ini laporan pandangan mata tentang suasana kota:
”Hampir seluruh ruas jalan utama kini telah tergenang banjir. Orang-orang mulai mengungsi ke tempat yang lebih tinggi,” ungkap reporter tersebut.

Uh, untung aku berada di daerah yang lebih tinggi. Meski demikian, selokan di depan rumah mulai meluap, berwarna coklat kehitaman dan bau yang kurang sedap.

Berita lagi:

”Sepanjang jalan AP Pettarani yang selama ini bebas banjir kini mulai ikut tergenang. Menurut seorang warga banjir kali ini adalah yang terparah selama ini.”

Setiap tahun aku sering mendengar ungkapan seperti itu. Dan dari tahun ke tahun banjir selalu saja masih menjadi masalah. Kanal-kanal dibangun, namun di sisi lain, laut juga dibendung, pohon-pohon ditebangi. Daerah resapan air pun semakin mengecil. Upaya pembangunan yang sia-sia dan hanya mengenyangkan segelintir pengusaha konstruksi dan segelintir pejabat. Pembangunan pun lebih bermakna sebagai penghabisan anggaran, alih-alih meningkatkan derajat kehidupan masyarakat.

Terdengar lagi suara gemuruh guntur di udara. Cahaya kilat menyambar sebuah pohon akasia tak jauh dari rumah, yang lalu roboh menutup jalan. Genangan air di jalan pun semakin meninggi.

Malam belum larut. Kurebahkan diri di kasur yang mulai terasa lembab. Tertidur. Dan aku bermimpi tentang sesuatu yang sangat menyeramkan.
**
”Kini seluruh kota mulai tergenang banjir, bahkan di daerah yang selama ini dikenal sebagai daerah yang paling aman pun mulai digenangi air setinggi atap rumah,” terdengar suara teriak reporter di radio membangunkan aku.

Aku merasakan tubuhku mulai basah. Ya Tuhan, aku mengambang di atas air. Ini benar-benar banjir.

Aku mencoba meraih gagang pintu yang kini tak terlihat lagi dari pandangan mata.

Terdengar teriakan panik dimana-mana. Suara reporter di radio masih terdengar seperti sebuah teriakan ketakutan. ”Banjir..banjir...saya melaporkan dari atas rumah penduduk.”

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku mengambang bersama kasur dan barang-barang lain. Dan aku tidak sendiri. Ratusan atau bahkan ribuan orang juga mengambang di atas permukaan air yang semakin meninggi dan semakin menenggelamkan kota.

Di kejauhan terlihat seorang berseragam coklat muda sedang diwawancarai di atas atap rumah penduduk. ”Kami masih akan terus berusaha mencari solusi dari banjir ini,” kata pria itu. Lalu sebuah helikopter membawanya entah kemana.**
Makassar, Februari 2006

Selasa, 04 Oktober 2011

Sang Malaikat Maut (22-Tamat)



Sebuah sms membuat wajahnya sumringah dan isi pesannya benar-benar melegakan hatinya. Maya menanyakan keberadaannya dan bertanya apa mereka bisa bertemu. Baru saja Coki akan membalas pesan itu ketika pesan lain datang. Lagi-lagi dari Maya. Ia ingin bertemu saja di rumahnya kontrakannya saat itu juga. Coki benar-benar bingung bercampur senang. Ia tak punya gambaran tujuan dari pertemuan itu. Ia menyanggupi dan menyatakan akan segera menuju rumah kontrakannya. Jalanan yang macet membuatnya agak telat sampai di rumah. Di kejauhan ia sudah melihat motor Maya terparkir di depan rumah kontrakannya. Tiba di depan rumah, terlihat Maya sedang mengobrol dengan salah seorang tetangganya. Maya berdiri tersenyum ringkih menyambutnya dan menyerahkan sebuah surat yang bertuliskan namanya. Untuk sesaat Coki merasa bingung, namun ia segera menerima surat itu dan membolak-balikannya mencari nama dan alamat pengirim.

“Seseorang menitipkan surat ini di sekolah barusan dan harus segera diberikan padamu karena katanya sangat penting.” Nada suara Maya terdengar canggung.

Coki benar-benar bingung. Ia duduk di kursi sebelah kursi Maya yang juga segera duduk. Tetangga Coki yang menemani Maya sudah berlalu dari tempat itu.

“Siapa?”

Maya menggeleng, “Mungkin aku yang harus bertanya demikian,” terdengar nada dingin di suara Maya. Ada getaran kecil di sana.

Coki menatap heran ke Maya menunjukkan ketidakmengertiannya, dan Maya berujar kemudian, “Ia menitipkannya pada seorang siswaku dan aku tidak sempat menanyakan ciri-ciri orang yang menitipkan surat itu. Kalau ini bagian dari permainanmu, maka ini benar-benar tidak lucu.”

Coki menjadi semakin heran. Ia menatap sendu ke Maya seakan ingin berkata ‘sumpah, bukan aku yang mengirim surat ini pada diriku sendiri’. Maya tampaknya percaya dengan tatapan heran dan tak berdaya itu, namun ia tetap menunjukkan sikap dingin. Ia harus menunjukkan sikap ketegaran dan tak mudah dibodohi.

Coki pun segera membaca surat itu. Sepertinya ditulis secara tergesa-gesa. Ia membaca isinya:

Bapak Surahman atau Coki atau siapapun anda sekarang. Turut berduka cita dengan apa yang telah menimpa istri anda setahun silam. Ia pasti sangat bahagia kini di alam sana, sesuatu yang selalu diinginkannya. Apakah anda tahu bagaimana ia mati? Atau tepatnya apakah anda ingin tahu bagaimana ia mati? Saya maupun anda sama yakinnya bahwa kematiannya tidak benar-benar seperti yang terlihat. Apakah anda tidak punya keinginan untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi? Saya dengan bangga mengatakan berada di sana ketika kematian meradangnya. Apakah anda tidak tergelitik untuk mengetahui apa yang diucapkannya menjelang kematiannya? Apakah anda tahu apa yang benar-benar diinginkannya selama ini? Kebenaran mungkin terasa pahit namun tetap penting untuk mengetahuinya. Saya mungkin bisa memberi jawab atas semua itu dan semuanya bisa saya berikan secara gratis. Anda hanya perlu bertemu dengan saya di tempat yang saya inginkan. Permintaan saya hanya satu, ajaklah wanita cantik yang kini berada di depan anda. Jika anda menolak mengabulkannya, maka lupakan saja dengan pertemuan itu ataupun isi surat ini. Saya berharap anda cukup bijak dalam memutuskan pilihan yang akan anda pilih. Sekali lagi, kebenaran mungkin memang akan terasa pahit, tapi setiap orang akan tetap meraihnya karena kebenaranlah yang bisa membebaskan anda dari belenggu masa lalu dan itu bisa berarti anda harus mengorbankan masa depan anda. Pilihan akan selalu berada di tangan anda. Trims.

Nb: waktu kamu hanya dua jam dari saat kau membaca surat ini untuk memutuskan dan harus segera berada di tempat yang ditentukan.

Lembar lain di surat itu adalah sebuah brosur hotel yang bertuliskan nomor 304. Ini mungkin petunjuk dimana ia bisa menemui orang itu.

Wajah Coki terlihat sangat pucat. Dan berkeringat. Melihat perubahan itu, Maya yang sebelumnya mencoba bersikap dingin malah kini menjadi khawatir dan bersimpati. Isi surat itu pastilah sesuatu yang sangat menakutkan. Beberapa saatnya Coki terdiam membatu dan ia seperti tidak berada dimana ia berada.

“Bang, ada apa? Abang baik-baik saja, kan?”

Coki mengangguk tapi kemudian menggeleng. Ia tak mampu berpikir jernih dalam situasi yang kini dihadapinya. Surat itu jelas berasal dari orang yang kemungkinan bertanggungjawab atas kematian istrinya setahun lalu. Dan jika orang itu mencoba mencuri perhatiannya dengan mengungkap hal itu maka tampaknya ia berhasil. Sebuah bayangan kelam tiba-tiba berkelebat di depannya, yang membuatnya sangat rapuh.

“Abang benar baik-baik saja?”

Coki tak mampu berkata apa-apa. Ia sepertinya memutuskan untuk menemui orang itu, yang entah dengan tujuan apa ingin bertemu dengannya. Coki benar-benar kehilangan akal sehatnya. Emosi yang menggebu menguasai dirinya. Tapi kemudian ia sadar bahwa pertemuan itu takkan terjadi jika ia tidak mengikutsertakan Maya. Ini merasakan pilihan yang sulit dan benar apa yang dikatakan orang itu di surat bahwa ‘kebenaranlah yang bisa membebaskan kita dari belenggu masa lalu dan itu bisa berarti harus mengorbankan masa depan yang kita miliki’. Istrinya adalah masa lalu, yang telah memberinya beribu makna dan mengubah jalan dan pandangan hidupnya justru di saat kematiannya, dan Maya adalah masa depan yang seharusnya memberinya makna yang lebih. Di manakah yang akan ia korbankan? Mengikutsertakan Maya jelas adalah sebuah resiko besar, karena bisa jadi ini hanya sebuah permainan yang dimainkan si penulis surat itu. Mungkin pula Maya akan dijadikan tameng yang bisa melindungi orang itu dalam situasi kritis tertentu. Si penulis surat mungkin telah tahu betapa Maya kini adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya dan bisa menjadi alat tawar menawar.

Coki harus segera memutuskan tindakan apa yang akan diambilnya, dan semua pilihan tindakannya mengandung resiko kehilangan yang sama baginya. Ia harus memilih dalam pertaruhan masa lalu dan masa depannya.

Maya terlihat mulai sangat khawatir dengan perubahan ekspresi Coki, “Boleh aku tahu isi surat itu?” desaknya.

Coki menggeleng dan menatap Maya kosong. Apakah ia harus melibatkan Maya dalam kisaran masa lalunya adalah pertanyaan yang sama absurdnya. Jika ia melakukannya mungkin ia akan mendapatkan sedikit kebenaran tentang apa yang memang ingin diketahuinya selama ini, namun apakah adil tindakannya dengan menyeret Maya ke dalamnya?

“Jika surat itu ada kaitannya dengan aku maka demi Tuhan aku harus tahu isinya, Bang!” Maya setengah menjerit membuat seorang pejalan kaki yang lewat sekilas melirik ke mereka.

“Mungkin sebaiknya kamu pulang saja, Maya. Mungkin memang sebuah kesalahan nasib yang mempertemukan kita. Petanda yang kuceritakan tempo hari hanyalah karanganku belaka demi menarik simpatimu. Aku terbuai dengan hasrat sesaat ketika itu dan bingung bagaimana meraih hatimu yang sekokoh karang. Kamu benar jika membenciku dan kuharap akan tetap begitu hingga kapan pun. Aku hanyalah seorang lelaki gagal yang mencoba bereksprimen dengan hidup yang dikiranya mampu dikendalikannya semudah menjetikkan jari. Kamu dan semua orang tahu, aku memang seharusnya telah terkubur dengan masa lalu. Aku tak pantas masa sekarang dan tak pantas lagi untuk masa-masa yang akan datang. Pulanglah. Ketika besok kamu terbangun berharaplah aku memang tak pernah benar-benar ada dalam kehidupanmu.”

Maya merasa begitu terpukul dengan sakrasme yang diucapkan Coki. Ia mencoba membenci lelaki itu tetapi apa yang diucapkannya bukanlah cacian ataupun umpatan baginya. Itu adalah bahasa keputusasaan. Itu bukanlah dirinya yang berkata. Penolakan itu hanyalah sebuah ungkapan ketakutan yang harus ia ketahui sumbernya. Tapi bagaimana ia bisa memaksa lelaki itu menceritakan segalanya yang terjadi?

Coki masih memegang surat itu dengan tatapan kosongnya. Ia tak memilih di antara dua pilihan yang diberikan hidup padanya. Ia bukan hanya menolak masa lalunya namun ia pun harus melepaskan masa depannya. Membiarkan Maya masuk dalam kehidupannya hanyalah sebuah resiko lain yang harus dihindarinya. Meski ia tidak akan membawa Maya ke tempat itu, namun ia pun tak mungkin mempertahankan keberadaan Maya dalam hidupnya. Jika ada resiko yang harus ditanggungnya maka ia berharap hanya dialah sendiri yang kelak menanggungnya.

Maya yang tak berdaya dalam kebingungannya akhirnya tak tahan menahan tangisnya. Ia beranjak meninggalkan tempat itu. Coki sendiri tak berusaha menahan dan hanya menatap kepergiannya dengan perasaan hancur. Tak ada lagi yang mampu dilakukannya. Ia benar-benar merasa sangat kosong. Ia beranjak masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Ia mematikan lampu dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia berharap ketika bangun nanti mimpi buruk ini pun akan segera berlalu.



Dua jam berlalu Coki terbangun ketika handponenya bergetar. Dengan malas ia melirik ke pesan yang tertera di layar. Maya. Dengan malas membaca pesannya: kamu merasa berat membawa wanita itu kemari bersamamu? Bagaimana kalau aku memberimu jalan keluar? Kamu tak usah membawanya kemari. Ia sudah di sini menantimu.


Coki terhentak bangun dari tidurnya. Orang itu benar-benar gila. Ia pasti telah menculik Maya. Ia berpikir untuk menelpon polisi, tapi kemudian mengurungkannya. Ia menarik kasar kasur tidurnya. Di sudut bagian dalam ranjang itu terlihat sebuah bungkusan yang terbungkus rapi. Coki mengambil bungkusan itu yang ternyata sebuah pistol. Coki memeriksa isinya dan masih terisi penuh. Pistol itu tak pernah benar-benar ingin ditembakkannya. Ia menyimpannya semata-mata untuk berjaga-jaga dalam situasi-situasi tertentu, seperti halnya sekarang. Awalnya ia berpikir mungkin ia akan menodongkan pistol itu ke seorang perampok yang masuk ke rumahnya, namun ternyata ia harus menggunakannya untuk hal lain yang jauh lebih menakutkannya.

Ia pun mengenakan pakaian terbagus yang dimilikinya, dan bergegas menuju hotel yang ditunjuk si penulis surat itu. Tak begitu jauh dari tempatnya yang hanya butuh waktu sepuluh menit dalam keadaan lalu lintas normal. Ia memang tidak lagi dalam posisi memilih akan pilihan hidupnya, hidup itu sendirilah yang telah memilihkannya untuknya.



Inspektur Alex yang telah merasa yakin dengan targetnya, mulai mempersiapkan diri untuk sebuah penangkapan. Ia telah menelpon ke pusat dan menceritakan semua yang diperolehnya kepada komandannya. Dan komandannya berjanji segera menyiapkan sebuah operasi penyergapan. Persoalan salah tangkap bukanlah hal yang sepele dan apalagi jika itu dilakukan terhadap orang yang berpengaruh. Satu-satunya harapannya adalah dengan menggunakan pijakan UU Anti-Teroris yang memungkinkannya melakukan penangkapan dan penahanan secara lebih longgar. Resikonya memang ia benar-benar harus melibatkan sepasukan Densus 88 yang efek beritanya akan sangat besar namun terkadang sangat efektif. Penggunaan isu teroris dalam penangkapan beresiko politik yang kurang karena masyarakat pun tengah dilanda phobia teroris yang justru karena ekspos media yang berlebihan.


Ia sudah tahu lokasi dimana orang itu berada. Dan sepanjang harinya pun ia harus berada di sekitar rumah itu, yang sepertinya sebuah rumah kontrakan murahan.

Inspektur Alex melihat sebuah insiden kecil terjadi di rumah kontrakan itu. Awalnya seorang wanita muda datang dengan motor matiknya. Lelaki si pemilik rumah tampaknya belum datang sehingga wanita itu harus menunggu beberapa lama. Lalu si lelaki itu datang beberap saat kemudian. Wanita itu memberinya sebuah surat, dan terlihat sebuah perubahan besar terjadi ketika lelaki itu selesai membaca surat itu. Terjadi sebuah pertengkaran kecil dan wanita itu lalu menangis dan segera berlalu dari tempat rumah itu, dan si lelaki tak berusaha menahannya. Lelaki itu masuk ke dalam rumah dan tak keluar untuk waktu yang agak lama.

Inspektur Alex mengamati semua itu dengan cermat, termasuk ketika setelah beberapa jam lelaki itu keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, dengan pakaian yang sangat rapi, sehingga Inspektur Alex semakin melihat kecocokan antara lelaki itu dengan profil lelaki incarannya. Lelaki itu lalu menghentikan sebuah taksi dan melaju secara cepat meninggalkan tempat itu. Inspektur Alex juga menstop sebuah taksi yang kebetulan lewat di tempat itu. Pasti sesuatu telah terjadi, pikirnya, sehingga ia memutuskan mengikuti lelaki itu. Jalanan yang sedikit macet membuatnya hampir kehilangan lelaki itu. Untung sopir taksi itu gesit dan mengerti kebutuhan penumpangnya. Awalnya ia merasa keberatan melakukan pengejaran, namun setelah Inspektur Alex memperlihatkan lencananya sopir taksi itu tak dapat berbuat apa-apa.

Taksi lelaki itu melambat di depan sebuah hotel, dan itu adalah hotel yang ditempatinya. Inspektur Alex benar-benar bingung dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu di hotel dimana ia menginap. Apakah ia telah menerima sebuah ancaman dan pelaku pengancam berada di hotel itu?

Inspektur Alex menyuruh sopir untuk memelankan laju taksinya. Taksi itu merengsek memasuki hotel mengikuti taksi di depannya itu yang sepertinya tak curiga sedikit pun sedang diuntit. Di depan lobi hotel taksi itu berhenti dan tanpa menunggu lebih lama lagi Inspektur Alex berjalan pelan menuju lobi, setelah melemparkan selembar uang seratusan ribu, yang diterima sopir taksi dengan wajah sumringah. Lelaki itu ternyata sudah dikenal baik di hotel itu. Manajer hotel bahkan yang langsung menjemputnya dan bersalaman secara ramah seakan mereka adalah mitra bisnis yang sudah lama saling kenal. Perlakuan khusus lainnya adalah tidak digunakannya alat pendeteksi logam pada orang itu sebagaimana pada tamu lainnya.

Inspektur Alex semakin yakin dengan dugaannya. Lelaki itu tidak menuju meja resepsionis, ia malah langsung menuju lift. Inspektur Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia berlari kecil menuju lift yang segera terbuka dan ia pun menerobos masuk ke dalam lift. Kini tinggal mereka berdua dalam jarak yang sangat dekat. Lelaki itu benar-benar tidak perduli dengan kehadiran orang lain di sekitarnya. Inspektur Alex tak perlu menekan tombol lift karena, tentu saja, tujuannya sama dengan tujuan lelaki itu. Lelaki itu lalu mengambil sebuah brosur hotel dari balik jasnya yang di salah satu bagiannya tertulis angka 304 yang ditulis besar berwarna merah. Inspektur melirik ke brosur itu dan segera tahu tujuan yang akan didatanginya. Di lantai tiga lift itu berhenti. Inspektur Alex menahan nafas dan memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Lelaki itu yang pertama kali keluar dan Inspektur Alex menyusul di belakang dan berusaha menjaga jarak. Di depan sebuah pintu kamar yang bertulis 304 lelaki itu mengetuk pintu, salah satu tangannya mengambil sesuatu di balik jas, yang dari jauh sangat jelas terlihat sebagai sebuah pistol. Inspektur Alex mengendap mengintip di kejauhan. Pintu kamar itu lalu terbuka dan lelaki itu masuk ke dalam kamar. Pintu itu lalu tertutup kembali. Inspektur Alex yang juga sudah memegang senjatanya mengendap mendekati kamar itu.

Inspektur Alex terus mengendap mendekati pintu kamar 304. Di depan kamar itu, ketika ia mencoba mendorongnya ternyata terbuka dengan sendirinya. Inspektur Alex yang dalam posisi siaga terhenyak dan belum sempat menghilangkan kekagetannya ketika terdengar suara berat dari dalam, “Masuklah Pak Inspektur, kami sudah lama menunggumu. Mungkin anda sedikit terlambat, tapi semuanya kuyakin memaklumi.”

Inspektur Alex benar-benar tak mampu memahami apa yang sedang terjadi. Lelaki itu jelas sudah mengetahui dan bahkan menunggu kehadirannya. Ia tak melepaskan genggaman pistol di tangannya yang siap meledakkan apa saja. Kekagetannya bertambah ketika mengetahui bahwa ada beberapa orang di ruangan itu, Surahman, sang pengusaha yang diincarnya, seorang wanita yang dilihatnya di rumah lelaki itu dan seorang wanita yang benar-benar membuatnya panik, istrinya sendiri. Ketiga orang itu duduk berjejer di lantai yang menatapnya dengan tatapan pasrah. Tangan mereka tidak terikat, sebagaimana biasanya sandera. Seorang lelaki di balik pintu duduk di sebuah kursi dengan pistol di tangan dengan gaya memerintah. Di tangan yang satunya lagi lelaki itu memegang sesuatu yang mirip remote control, yang ternyata diketahuinya adalah sebuah alat pemicu bom. Bom yang diletakkan begitu saja di depan ketiga orang sandera itu.

Lelaki itu, yang tersenyum lebar padanya, memerintahkannya untuk meletakkan pistol. “Duduklah bergabung dengan kami, tak usah sungkan-sungkan, Pak Inspektur.”

Inspektur Alex sepertinya tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan lelaki itu. Lelaki yang menyapanya di ruang makan itu. Ia pun ikut duduk tepat di samping istrinya yang segera memeluknya ketakutan.

“Maafkan atas ketidaknyamanan ini. Anda cukup menuliskan komplain anda di kertas aduan di dalam laci kamar anda,” kelakar lelaki itu tetap tersenyum lebar.

Lelaki itu kemudian menarik rambutnya sendiri, yang ternyata sebuah wig. Melepaskan kumis dan janggut palsunya. Inspektur Alex pun mengenalinya sebagai lelaki yang ditemuinya di bandara, seperti yang diperkirakannya selama ini. Yang tak diperkirakannya bahwa kehadiran lelaki itu berkaitan dengan dirinya sendiri.

“Mungkin ada banyak hal yang kalian ingin tanyakan, bagaimana aku bisa melakukan selama ini?” tanya lelaki itu dengan bangga.

“Itu karena ini!” ia menunjuk ke kepalanya, masih dengan sikap bangga. “Tapi ini bukan sekedar pertunjukkan kejeniusan. Manusia yang terlalu bangga dengan dirinya hanya akan semakin terjerumus dalam kepongahan dan semakin tidak menyadari entitas lain dalam kehidupannya. Apakah anda tidak merasa tersinggung Pak Inspektur?

“Kepogahanlah yang membuat kalian berada di sini. Perasaan bahwa telah tahu dan memahami segalanya, padahal tak satu pun yang kalian pahami selain diri kalian. Bisakah aku bercerita bagaimana kalian bisa berada di sini, agar semuanya memahaminya dengan baik? Aku yakin tak satu pun diantara kalian yang berharap mati dalam ketidaktahuan dengan apa yang terjadi dengan diri kalian.”

Lelaki itu tampaknya sedang memainkan sebuah permainan dan sangat menikmatinya.

“Mungkin kita harus mulai satu persatu,” ujar lelaki itu duduk di kursi yang kini berada tepat di depan keempat orang itu. “Kita mulai dari Maya. Aku sudah tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Aku tahu, karena cinta dan benar-benar ini karena cinta, Surahman atau Coki atau siapalah ia menyebut dirinya, tidak mengubris isi suratku, yang seharusnya akan segera berada kesini bersama wanita impiannya. Rasa cintalah yang mengalahkan rasa ingin tahunya akan cerita masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya terdampar di tempat ini, memulai hidup baru sebagai orang lain. Aku bisa mengetahui kilatan cinta itu bahkan tanpa menanyakannya, karena tubuh tak pernah bohong. Ia selalu adalah bahasa universal. Aku tahu ia takkan memberitahu isi dan permintaan dari surat itu. Maya, gadis yang malang, yang dilanda keputusaasaan dan rasa ingin tahu yang besar kuyakin akan melakukan apa saja untuk mengetahui isi surat itu, maka aku menelponnya. Aku bilang akulah yang menulis surat itu dan jika ingin mengetahui apa yang kutulis dalam surat itu maka ia harus datang sendiri ke tempat ini. Betapa mudahnya perasaan mengalahkan akal sehat. Apakah kita semua setuju akan hal ini?

“Dan tentu saja, Tuan Surahman eh Coki, aku sudah tahu akan apa yang anda lakukan. Ini memudahkan pilihan anda. Dengan sekali memancing anda akan mendapatkan dua hasil pancingan. Anda mungkin akan mendapatkan wanita anda, dan jika sedikit beruntung akan mengetahui apa yang selama ini ingin anda kau ketahui, seperti janjiku di surat itu.”

Lelaki itu melihat ke Coki tanpa melepaskan senyumnya. Senyum yang sebenarnya tidak menakutkan andai dalam situasi yang berbeda.

“Inspektur Alex, apakah aku mengenal anda? Ya, tentu saja. Semua orang seperti aku pasti mengenal anda. Ironisnya justru andalah yang tidak mengenalku. Aku bahkan tahu semua yang anda sembunyikan dari orang lain, termasuk dari istri anda,” lelaki itu sekarang malah tertawa lebar.

“Bagaimana kau melakukan semua ini? Itu pasti yang sangat anda tanyakan. Mudah saja inspektur. Istri anda sebagaimana istri lain di dunia ini senantiasa khawatir jika suaminya berpergian ke luar kota. Apakah aku perlu menceritakan masa lalu kehidupan kalian berdua? Ya, istri anda yang merasa tahu dan memahami segalanya, tak bisa mengabaikan sebuah telpon dari seseorang bahwa suaminya kini sedang bersama seorang wanita idaman lain di sebuah hotel. Ia akan sangat percaya dengan pesan itu inspektur. Betapa mudahnya perasaan mengalahkan akal sehat. Apakah kita semua setuju dengan ini? Dan di sinilah istri anda sekarang inspektur. Justru dialah sekarang yang berada di kamar hotel ini bersama lelaki lain.”

Istri inspektur tampak tak mampu menahan isakan tangisnya dan desakan rasa bersalah karena kecerobohan dan rasa cemburunya yang tak tertahankan. Inspektur Alex memeluk istrinya mencoba menenangkan.

“Lalu ada yang mungkin bertanya, kenapa pak Inspektur kita ini berada di sini?

“Semuanya tentu karena Pak Surahman, Coki atau siapapun ia menyebut dirinya. Seorang pengusaha sukses yang menghilang setelah kematian istrinya tentu menimbulkan banyak pertanyaan, khususnya bagi seorang inspektur handal. Apakah anda sudah tahu penyebab kematian istri pengusaha kita ini, inspektur? Kenapa terlalu lama untuk mengetahuinya? Aku benar-benar berharap anda mengetahuinya lebih awal sehingga tidak melibatkan orang lain dalam situasi ini. Tapi apa memang hanya karena pengusaha inilah anda berada di tempat ini? Kenapa anda membuka kasus kematian wanita itu setelah sekian lama?”

Coki tampak terkejut dengan semua penjelasan lelaki itu. Betapa ia tahu segalanya. Betapa ia telah merencanakan semuanya dengan matang.

“Apakah anda pikir aku begitu bodoh untuk tidak memahami segalanya, Inspektur. Benar, akulah Malaikat Maut, orang yang sebenarnya kamu cari. Orang yang telah membunuh wanita itu dan banyak yang lainnya lagi. Akulah Malaikat Maut, tamu yang tak pernah kalian harapkan kedatangannya.”

Coki yang mengetahui lelaki itu sebagai pembunuh istrinya tak mampu menahan diri untuk melompat menyerang lelaki itu. Tetapi lelaki itu sepertinya sudah mengantisipasi segalanya. Dengan sebuah tendangan keras ia mampu menghentikan laju Coki seketika. Jelas ia sangat terlatih mengantispasi sebuah serangan mendadak.

“Tak usah terburu-buru tuan. Aku punya kabar baik untuk anda dan semoga ini bisa menuntaskan rasa ingin tahu anda selama ini. Anda pasti akan sangat berterima kasih padaku pada saatnya nanti.

“Pertanyaan utama dari semua ini adalah mengapa aku di sini? Itulah yang kuyakin ingin kalian tahu. Betapa nasib telah begitu bijaksana mempertemukan kita semua di tempat ini. Kataku, inilah saatnya kebenaran akan mewujudkan diri. Kebenaran yang mesti pahit namun seperti obat akan menyembuhkan kita semua.

“Semua ini di luar rencanaku jika kalian ingin tahu. Suatu hari seseorang menelponku untuk membunuh atasannya sendiri, yaitu anda Tuan Surahman.”

Coki terkesiap dan menerka-nerka siapa yang dimaksud lelaki itu sebagai seseorang yang ingin membunuhnya.

“Awalnya aku ingin menolak, karena ia terlalu berambisi untuk membunuh anda hingga rela membayar dengan bayaran yang sangat besar. Ini tentu saja mencurigakan. Tapi keraguan itu hilang ketika aku mengetahui bahwa andalah menjadi targetnya. Aku punya banyak utang penjelasan untuk anda dan sejak lama aku ingin menemui anda namun selama ini terlalu sibuk. Inilah kesempatan itu dan disinilah aku sekarang.

“Anda tahu mengapa aku sangat ingin bertemu dengan anda?” orang itu menatap tajam ke Coki, “Ini semua karena sesuatu yang istri anda ingin sampaikan melalui aku. Dia ingin anda tahu betapa dia mencintai anda selama ini dan cinta pulalah yang membuatnya tak ingin hidup lebih lama. Dan di sisi lain kematian akan mengekalkan segalanya. Apakah anda tidak merasakan cinta yang berlebih padanya setelah kematiannya? Kalau bukan karena cinta, lalu apa yang membawa anda dalam pengasingan anda di kota ini?

Coki menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya sejak kematian istrinya ia menangis seperti itu. Maya yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan dengan membelai rambutnya.

“Ia mati dengan bahagia, jika itu yang ingin anda tahu dan ia berharap anda pun kelak akan mengalami kebahagian serupa di akhir kehidupan anda.”

Coki semakin terisak. Ia tidak lagi begitu membenci lelaki itu. Lelaki pembunuh istrinya. Mengapa ia harus membenci orang yang telah memberi kebahagiaan pada istrinya melebihi apa yang ia berikan selama ini.

“Apa kamu jujur bahwa ia bahagia di saat-saat akhir hidupnya?”

Malaikat Maut mengangguk sambil tersenyum bijak. Ia merasakan begitu banyak cinta di ruangan itu. Maya mulai mendekap Coki, seperti dekapan seorang ibu pada anaknya. Begitupun Inspektur Alex yang memeluk erat istrinya penuh kasih.

“Kenapa anda melakukan semua ini?” tanya Maya pada akhirnya. Matanya pun mulai sembab oleh rasa haru yang tak bisa ditahannya.

Lama Malaikat Maut hanya terdiam menatap mereka satu persatu, lalu katanya, “Mungkin karena aku berhutang banyak pada kehidupan. Jika kau telah mengambil begitu banyak kehidupan orang lain, maka kau akan tersadar betapa banyak utang yang harus kau tanggung. Beban yang akan terus mengganggumu hingga kau melunasinya. Ini hanya sebagian dari utang yang harus aku tuntaskan, karena dengan memberi kalian cinta sama halnya dengan memberi kalian setengah dari kehidupan.”

Ruangan itu menjadi senyap untuk beberapa saat. Semua orang sepertinya sedang meresapi apa yang dikatakan orang itu.

“Apakah anda tetap akan membunuhku?” tanya Coki akhirnya. Maya melirik padanya dengan pandangan putus asa. Inspektur itu pun tampaknya memiliki pandangan yang sama.

“Apakah anda akan membunuh kami semua?” tanya Inspektur Alex.

Malaikat Maut mengangguk pelan. Dan itu membuat semua orang di ruangan itu tampak panik. Namun katanya kemudian, “Mungkin bukan sekarang. Kalian terlalu sedih untuk meninggal saat ini. Masih banyak cinta yang menunggu di masa depan kalian. Suatu saat mungkin aku akan datang dari jendela kalian, atau dimana pun kalian berada. Apakah kalian pikir bisa menghindari kematian?” Coki kembali mengulang kisah pemuda yang mencoba mengindari kematian dengan mendatangai tempat tertinggi di dunia. Tempat dimana justru malaikat maut sudah menantinya.

“Aku punya pekerjaan yang lebih penting sekarang dibanding mengurusi kalian,” katanya sambil tersenyum. Ia kemudian melirik ke sebuah laptop yang berada di atas kasur. Di layar komputer itu terlihat sepasukan bersenjata lengkap tengah memasuki hotel, sebagian lagi telah berada di dalam lift dan beberapa saat kemudian pasti sudah akan berada di depan pintu kamar itu. Malaikat Maut tidak terlihat panik dengan situasi itu, keempat sandera itulah yang justru terlihat panik. Ia malah berdiri membelakangi para sandera itu, menghadap ke pintu, dengan sikap melindungi.

Pasukan Densus 88 pun mulai mendobrak pintu, yang tidak begitu sulit karena memang tidak terkunci rapat. Mereka langsung menerobos dengan melepaskan beberapa tembakan. Rentetan tembakan mengenai badan Malaikat Maut dari bagian dada hingga perut yang membuatnya tersungkur ke lantai. Darah pun mengalir membanjiri ruangan itu. Para sandera yang ketakutan dengan serbuan tiba-tiba itu hanya bisa menatap terbelalak setengah tak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka segera diamankan keluar dari ruangan itu, kecuali Inspektur Alex yang memaksa untuk tetap berada di ruangan itu. Ia memperlihatkan lencana dan surat izin khususnya.

Inspektur Alex memperhatikan baik-baik-baik jasad yang kini terbaring kaku di depannya. Setelah mengetahui lokasi target di kamar 304, sebagaimana diketahuinya di brosur hotel itu di tangan si pengusaha di dalam lift, ia mengirim sebuah pesan tingkat ke komandannya. Ketika memasuki kamar 304 di hotel itu dan menyadari apa yang telah terjadi, salah satu tangannya memencat handpone di sakunya, yang menghubungkannya langsung ke komandannya. Sang komandan pun mendengarkan semua pembicaraan mereka dan segera menelpon polisi lokal untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Polisi lokal pun merespon dengan mengirimkan pasukan Densus 88 karena target diperkirakan bersenjata dan sangat berbahaya.

Jasad sang Malaikat Maut pun dimasukkan ke kantong mayat dan ditandu keluar dari ruangan itu. Inspektur Alex yang teringat istrinya segera pamit keluar. Istrinya dan dua sandera lainnya kini berada di salah satu kamar hotel itu dibantu oleh beberapa tenaga medis. Istrinya langsung memeluknya dengan erat sambil menangis dan masih saja terus mengucapkan kata maaf.

Coki yang masih shock dengan apa yang terjadi mencoba untuk memahami semuanya dengan baik. Ia ingat bahwa keberadaan orang itu bertujuan untuk membunuhnya, tapi mengurungkannya. Lelaki itu memang tak menyebutkan orang yang bermaksud membunuhnya dengan mengirimkan pembunuh bayaran, tapi Coki sudah tahu siapa yang lelaki itu maksud. Satu-satunya di perusahaan yang bisa mengetahui keberadaannya hanyalah Maskito, orang yang justru sangat dipercayainya selama ini. Ia tak habis pikir kenapa Maskito tega melakukannya dengan semua kepercayaan yang diberikannya selama ini. Pada akhirnya toh ia akan meningggalkan semua itu dan Maskito lah satu-satunya orang yang dipercainya akan menggantikannya.

Coki mencoba melupakan kebencian itu untuk sementara waktu. Pada saatnya nanti ia harus memberi perhitungan pada orang itu. Yang paling penting sekarang adalah wanita yang kini di sampingnya.

“Kenapa kamu kemari, sayang. Kamu tak harus melakukan semua ini?” katanya lembut pada Maya.

“Kenapa kamu tidak menceritakan isi surat itu?” balas Maya merenggut, “Apakah kamu pikir aku tidak rela berkorban apa saja jika itu bisa mengeluarkanmu dari masalahmu?”

Coki yang kini malah kebingungan sendiri. Karena cinta, katanya dalam hati. Karena cintalah semua ini bermula. Jika kau mencintai seseorang maka kau akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya dan menjauhkannya dari segala mara bahaya. Begitulah cinta membentuk kehidupan.



Inspektur Alex mendapat ucapan selamat dari komandannya. Bahkan Presiden dan Kapolri sendiri juga telah menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan operasi yang mereka lakukan. Jasad lelaki itu itu, sebagaimana permintaannya pada polisi lokal, segera diberangkatkan ke Jakarta. Esoknya, kedua agen FBI dari Amerika datang dengan pesawat khusus untuk mengidentifikasi jasad itu. Setelah memastikan bahwa memang orang itulah yang mereka cari, jasad untuk segera diberangkatkan ke Amerika untuk sebuah penelitian lebih lanjut.





EPILOG




Di sebuah hotel bintang lima Jakarta, pegawai hotel yang bermaksud membersihkan salah satu suite histeris melihat sesosok mayat terbaring di lantai berlumuran darah. Di jendela kamar itu terlihat sebuah lubang sebesar bola tennis, seperti habis dilalui sebuah peluru dengan kaliber besar. Isi kepala orang itu berhamburan di lantai, dan hampir tak bisa dikenali. Dari dompetnya polisi kemudian mengidentifkasi korban bernama Maskito dengan pekerjaan sebagai pengusaha.


Inspektur Alex yang mendengar kejadian itu segera ke lokasi kejadian. Ia memang bukan datang sebagai penyidik. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana korban menemui ajalnya.

Melihat tingkat kerumitan kematian itu, bagaimana pembunuh dapat menembakkan senjatanya dari balik jendela yang berada di tingkat 20, dan tak ada bangunan tinggi lainnya di sekitar tempat itu, adalah pertanyaan yang sulit dicari jawabnya. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan adalah penembak menggunakan tali dari lantai atas dan berayunan, dan hanya bisa dilakukan oleh pasukan khusus.

Siapa yang mampu melakukan semua ini? bingung Inspektur Alex.

Telponnya lalu berdering. Telpon dari komandannya, “Ada kabar buruk dari AS,” ujar komandannya terdengar panik, “FBI baru saja menelpon bahwa jasad Malaikat Maut hilang beberapa saat setelah pesawat mendarat bberapa hari lalu.”

Inspektur Alex hanya bisa merinding membayangkan apa yang kemungkinan terjadi.





TAMAT

Minggu, 02 Oktober 2011

Sang Malaikat Maut (21)



Inspektur Alex terbangun setelah sekian waktu tertidur di kamarnya. Ia melirik jam tangan. Tanpa terasa sejam lebih ia tertidur lelap. Tak biasanya ia secapek ini. Mungkin karena antuasiasme atas kasus yang tanganinya membuatnya harus ekstra berpikir dan beraktivitas. Ia melirik handponenya, dan tertera 5 kali panggilan tak terjawab dan dua pesan yang belum dibaca.

Bergegas ia membaca asal panggilan dan pesan itu. Tiga panggilan dari komandannya dan 2 pangilan dari istrinya. Dua pesan singkat juga dari komandan dan istrinya dengan pertanyaan yang sama: bagaimana penerbangannya?

Inspektur Alex menjawab sms itu sekali untuk dua orang sekali kirim berisi permohonan maaf karena tertidur dan ia baik-baik saja, hanya sedikit jetlag.

Sesaat ia menunggu balasan sms itu, dan setelah sekian lama menunggu tanpa ada respon sedikit pun, ia pun beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Siraman air di kepalanya membuatnya merasa segar kembali. Tiba-tiba ia teringat percakapan aneh Maskito dengan seorang tentang ‘peti mati’. Jika melihat percakapan Maskito yang lain, maka percakapan tentang peti mati ini tidak memiliki relevansi sekalipun.

Inspektur Alex memejamkan mata mencoba memikirkan kemungkinan lain. Bukankah peti mati juga bisa berkaitan dengan kematian itu sendiri? Inspektur Alex terhenyak ketika secara tiba-tiba memikirkan kemungkinan lain. Apakah ini berarti bahwa Maskito sedang membicarakan kematian seseorang? Peti mati adalah bahasa kiasan untuk sebuah pembunuhan yang akan dilakukannya melalui jasa seseorang. Bisa jadi si penelpon itu bersuara berat itu adalah seorang pembunuh bayaran dan ketika itu mereka sedang melakukan sebuah transaksi. Lalu siapa pembunuh pembayaran itu? Siapa calon korban yang diincar Maskito?

Inspektur Alex segera mengeringkan badannya dengan handuk putih yang tergantung di sampingnya. Ia mencoba fokus dengan menepis pikiran-pikiran lain yang mencoba merasukinya dan berpotensi mengalihkan konsentrasinya pada kasus yang sedang ditanganinya. Tapi bagaimana jika semua itu berkaitan? Pikirannya benar-benar tak bisa berdamai. Ia malah terjebak dalam pikirannya sendiri.

Setelah mengenakan pakaian santai, ia membuka laptop dan mengambil foto si pegusaha tersebut, yang tergeletak di atas media. Melihat dari raut wajah dan penampilannya, Inspektur Alex memperkirakan usia orang itu sekitar 35 tahun. Ia punya profil singkat si pengusaha yang tampaknya sangat cemerlang. Di usia 25 tahun ia sudah memimpin sebuah perusahaan kecil yang perlahan namun pasti berkembang menjadi sebuah perusahaan berskala besar dan menasional. Tak seorang pun yang mengetahui darimana ia berasal. Ia bukanlah putra seorang pengusaha terkenal, yang kemudian mewariskan perusahaan padanya. Tak ada informasi yang jelas tentang dirinya sebelum akhirnya memimpin perusahaan yang dipimpinnya sekarang. Ia seperti jatuh dari langit. Perusahaannya terus berkembang hingga memiliki cabang dimana-mana. Orang ini jelas memahami konsep diversifikasi usaha untuk meningkatkan deviden perusahaan mengingat beragamnya jenis usaha yang dikelolanya, mulai dari jasa konstruksi, farmasi, tekstil hingga sejumlah media lokal. Perusahaan ini pun tercatat memiliki reputasi tak tercela dan beberapa kali meraih penghargaan sebagai perusahaan dengan perfomance terbaik.

Si pengusaha kemudian menikahi seorang selebriti muda yang sedang naik daun, gadis yang diimpikan oleh lelaki mana pun. Dilihat dari sejumlah foto mereka berdua, yang diunduhnya dari internet, terlihat bahwa mereka bahagia dengan perkawinan mereka. Pesta perkawinan mereka yang sangat meriah dan dihadiri oleh sejumlah pejabat, pengusaha dan ratusan selebriti jelas menunjukkan kualitas pasangan ini. Lalu apa yang kemudian terjadi dengan perkawinan mereka? Jelas ada yang salah, jika kemudian sang istri dinyatakan meninggal karena over dosis.

Betapa anehnya dunia ini. Rumit dan tak terjelaskan. Jika kekayaan, kuasa dan ketenaran tak menjamin kebahagiaan, mengapa semua orang masih menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir hidup mereka? Begitu banyak pasangan, yang oleh media disebut sebagai pasangan paling ideal di awal perkawinan mereka namun akhirnya harus berakhir di pengadilan perceraian. Terlalu banyak contoh yang bisa dikemukakan. Konon cinta dalam perkawinan paling lama bisa bertahan selama 7 tahun? Sebagian yang mampu bertahan hanya karena hadirnya buah hati di antara mereka. Anak memang menjadi salah satu alasan utama bertahannya sebuah perkawinan ketika cinta tidak lagi memiliki keampuhannya atau ketika cinta yang dulunya 100% menyusut drastis menjadi 0%.

Inspektur Alex membayangkan pernikahannya dengan istrinya yang sudah dijalaninya selama 12 tahun dan telah memberinya dua putra. Ia meraba pada kehidupannya sendiri. Apakah cintanya pada istrinya telah susut dan mungkin hilang dalam 7 tahun pernikahan mereka? Inspektur Alex mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ia menyatakan cinta pada istrinya. Dan seberapa hambarkah hubungan mereka selama ini? Jika istrinya menelponnya menanyakan keadaannya, bahkan belum sehari ia meninggalkannya menunjukkan bahwa ‘rasa’ itu masih setia menemani mereka. Atau jangan-jangan itu menunjukkan ketidakpercayannya padanya? Ia kembali mengingat sesaat yang lalu ketika ia membaca sms istrinya dan segera dibalasnya. Apa yang dia rasakan dengan sedikit perhatian itu? Apa yang istrinya rasakan ketika menelpon dan mengirim pesan padanya? Rindu atau curigakah ia padanya?

Mereka pernah melalui badai perkawinan sebagaimana hampir semua pasangan pernah merasakannya. Tapi semua badai itu berhasil mereka lewati dan menjadi awal baru bagi mereka untuk memulai lagi semuanya dari awal. Tapi apakah semuanya bisa baik-baik seperti semula hubungan mereka?

Inspektur Alex tersenyum sendiri dengan pikirannya yang liar. Ia benar-benar tak ingat kapan terakhir ia memikirkan tentang cinta, baik pada istrinya, anak-anaknya ataupun pada orang lain. Ketika ia menembak seseorang karena kejahatan yang dilakukannya, apakah ia pernah memikirkan bahwa orang itu bisa saja adalah kekasih atau istri, ayah ataupun anak seseorang yang begitu mencintanya. Ia tak pernah memikirkan bagaimana nasib orang-orang terkasih yang ditinggalkan orang yang dimatikannya, karena baginya semua orang bersalah mendapatkan balasan yang setimpal. Semua hal yang terjadi pada mereka dan keluarga yang ditinggalkannya adalah konsekuensi yang telah dipilihnya sendiri. Siapa yang harus disalahkan dalam di situasi ini? Bukankah hidup sudah merupakan resiko yang harus ditanggung setiap orang yang menjalaninya? Bukankah setiap orang menjalani perannya masing-masing dalam hidup ini? Dan setiap orang yang mencoba menghindar dari peran yang seharusnya dilakoninya sama halnya menolak takdir itu sendiri?

Inspektur Alex menatap foto close up pengusaha itu lekat-lekat. Ia jelas bukan tipe seorang pembunuh ataupun bajingan kelas kakap dengan melihat guratan di wajahnya. Wajah yang sendu, beribawa dan kemungkinan cerdas. Ia sendiri belum yakin dengan apa yang sedang dicarinya dengan mengikuti orang itu. Semuanya tentunya lebih karena sebuah intuisi yang semakin menguat seiring dengan temuan mengejutkan bahwa istri pengusaha itu meninggal bukan seperti yang dilaporkan. Lalu jika ternyata wanita itu memang mati karena dibunuh suaminya sendiri, apa keterkaitannya dengan pencariannya dengan sang Malaikat Maut, target utama dalam perburuan ini?

Secara logika ia tak mampu memahami jalan pikirannya sendiri. Jelas-jelas ia tidak berpikir secara jernih ketika memutuskan untuk mencari tahu tentang si pengusaha. Ini pastilah pekerjaan alam bawah sadarnya, yang entah kenapa, menggiringnya ke tempatnya sekarang.

Inspektur Alex mencoba mengumpulkan keyakinannya. Ia benar-benar hampir lupa bahwa dengan tindakannya sekarang ia tengah mempertaruhkan banyak hal. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang-orang yang kini sangat bergantung pada yang sedang dilakukannya. Hasil dari tindakannya sekarang secara jelas memiliki makna yang besar dalam dua sisi. Positif maupun negatif. Ketenaran ataupun kekalahan.

Pertaruhan atas nama pekerjaan adalah yang lumrah dalam institusi kepolisian. Dengan besarnya tuntutan masyarakat atas profesionalisme kepolisian, mau tidak mau kepolisian setiap saat harus menunjukkan kinerja terbaik mereka. Kehadiran televisi di ruang private keluarga tentunya membantu kepolisian dalam mensosialisasikan apa yang telah mereka lakukan atau bagaimana kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat memang sangat dibutuhkan. Kasus-kasus narkoba yang melibatkan para selebritis yang diungkap pihak kepolisian juga setidaknya mendongkrak popularitas kepolisian di tengah masyarakat. Biasanya kasus-kasus seperti ini akan terus diekspos oleh media secara berlebihan, karena media selalu berpandangan bahwa masyarakat menyukai sesuatu yang kontraversial. Publik akan secara berlebihan merespon berita-berita yang melibatkan tokoh idola mereka, entah sebagai wujud simpati ataupun sekedar cermin dalam menilai diri mereka sendiri bahwa ketenaran tidak selalu membawa kepada kebahagiaan. Para petinggi polisi pun dapat nebeng mendongkrak popularitas mereka dalam kasus-kasus ini.

Namun media tidak selamanya menjadi teman yang baik bagi polisi atau bagi siapa pun. Jika media dapat mendongkrak popularitas seseorang dalam sekejap, maka sebaliknya ia dapat merebutnya, juga sekejap. Seorang petinggi polisi bisa tiba-tiba dicopot dari jabatannya karena media menginginkannya demikian.

Pada pukul 9 malam, rasa lapar melilit perutnya. Ia segera menuju resto di lantai bawah dengan baju kaos berkerah dan celana pendek hingga selutut beralas kaki sendal hotel yang tipis. Resto di hotel menawarkan banyak makanan lokal dan semuanya tampak lezat untuk dicicipi, yang disajikan secara prasmanan. Setiap orang bebas memilih makanan apapun yang diinginkannya. Ia memilih mencicipi udang dan cumi-cumi yang sangat jarang dikonsumsinya selama ini. Untuk sayur ia memilih sup jamur bercampur brokoli yang terlihat sangat menggoda.

“Serasa ingin mencicipi semua yang ada di sini.” Seseorang yang berada di sampingnya, seperti halnya dirinya, memilih makanan yang akan dinikmatinya sebagai makan malam membuatnya sedikit terkejut. Ia melirik sejenak dan tersenyum ramah.

“Ini memang benar-benar saat sulit tapi terus saja kita hadapi, ketika harus memilih sesuatu yang malah akan menghancurkan hidup kita jika tak terkontrol.”

Lelaki di sampingnya tersenyum lebar sangat bersahabat. Sesaat Inspektur Alex merasa ada yang aneh dengan lelaki itu. Entah itu model rambut, bulu kening dan rambutnya yang lebat. Rasa laparnya membuat daya analisisnya melemah dan ia mencoba tidak menjebak dirinya dalam spekulasi yang tak penting. Tapi ia benar-benar merasa ada yang aneh dengan lelaki itu.

Inspektur Alex menuju sebuah meja kosong dan lelaki itu ternyata memilih tempat tak begitu jauh dari tempatnya duduk. Dalam posisinya, orang itu jelas mampu mengamatinya secara leluasa. Posisi duduk yang sering dipilihnya jika sedang memat-matai seseorang. Sesekali Inspektur Alex melirik ke samping dengan pura-pura menjatuhkan sendok atau apa pun benda di sampingnya. Lelaki itu tampaknya sibuk dengan santapannya dan tak ada indikasi ia sedang mengamatinya. Inspektur Alex bernafas lega dan mengutuk dirinya yang tak pernah benar-benar percaya dengan orang lain, khususnya untuk yang berlaku ramah padanya. Beberapa saat kemudian ia kembali melirik sekali lagi ke lelaki itu, dengan berpura-pura menggaruk kakinya, lelaki itu sudah tidak lagi berada di sana. Ia melihat di sekeliling dan tak ada satu pun tempat dimana lelaki itu berada. Ia menghilang secara tiba-tiba sebagaimana kedatangannya. Inspektur Alex menepis berbagai spekulasi di kepalanya. Apa kira-kira yang aneh dengan lelaki itu?

Setelah selesai menikmati santapannya, Inspektur Alex ke ruang lobi mencari bahan bacaan koran lokal. Penting baginya mengetahui sedikit seluk beluk dan perkembangan terakhir kota yang sedang didatanginya. Di lobi pun ia bisa mendengar berbagai perbincangan orang lain dan bisa saja salah seorang dari orang yang ada di lobi itu adalah orang yang sedang diincarnya.

Dengan duduk bersilang kaki, Inspektur Alex membolak-balik koran bacaannya. Lelaki itu kembali terlihat di kejauhan dan tampaknya berusaha tersenyum padanya. Inspektur Alex berpura-pura tidak melihat dan sibuk dengan bacaannya. Lelaki itu menuju ke luar. Si pintu keluar masuk ia berhenti untuk berbicara dengan salah seorang satpam hotel. Mungkin ia seorang pendatang, sebagaimana halnya dirinya dan sedang menanyakan sesuatu tempat yang ingin didatanginya pada pegawai hotel. Inspektur Alex tiba-tiba merasa pernah melihat lelaki itu, setidaknya dari tatapan mata, postur tubuh dan caranya berjalan. Sesaat ia mencoba mengingat-ingat. Ia menjadi tidak berkonsenterasi dengan bacaannya. Namun ia tak menemukan jawab sedikit pun. Sesaat ia melihat lelaki itu seperti melirik dan tersenyum padanya, tapi itu mungkin hanya imajinasinya, pikirnya. Ia pun menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran itu agar bisa lebih konsentrasi dengan bacaannya.

Setengah jam kemudian ia kembali ke kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk. Ia rebah dengan kedua tangan menyilang di belakang kepalanya. Ia kembali merasa begitu mengantuk dan untuk beberapa saat tertidur. Namun ia tiba-tiba terhentak bangun. Ia menemukan apa yang ia cari. Bukankah lelaki itu adalah lelaki yang dilihatnya di bandara beberapa jam yang lalu? Tapi rambut dan kumisnya yang tebal berbeda dengan yang dilihatnya di bandara. Mereka sempat bersenggolan secara tidak sengaja dan ia meminta maaf secara sopan dan sangat ramah. Inspektur Alex merasa yakin dengan apa yang dipikirkannya dan sebuah kesimpulan pun terbersit di kepalanya: Lelaki itu jelas-jelas sedang menyamar atau setidaknya menyembunyikan identitas dirinya. Kenapa? Itulah yang tak mampu dijawabnya.






Malaikat Maut mungkin akan menolak andai saja tidak mengetahui siapa yang akan menjadi korbannya. Klien dengan tawaran pembayaran yang sangat besar atau terlalu dermawan bisa menjadi hal yang sangat mencurigakan. Bisa saja itu adalah sebuah jebakan dari seseorang yang menginginkan kematiannya. Kalau hal itu terjadi, maka ia harus segera mengubah cara kerjanya. Seseorang mungkin telah mengendus keberadaan dirinya dan sepasukan orang bersenjata lengkap bisa saja telah menantinya di tempat yang tak diketahuinya. Ketika ia menerima profil dan foto calon korbannya ia pun memutuskan untuk mengambil resiko itu. Ia punya perhitungan yang harus dituntaskannya dengan orang itu dan baginya ini adalah waktu yang tepat.


Malaikat Maut pun menyiapkan segalanya. Tak banyak peralatan yang akan dibawanya. Bahkan tak ada sepucuk senjata yang menemaninya seperti selama ini. Sejak maraknya kasus terorisme, pengamanan berbagai fasilitas publik semakin diperketat. Tidak hanya bandara, mall-mall, hotel-hotel, dan berbagai fasilitas vital lainnya dilengkapi berbagai peralatan pendeteksi. Ini tentu saja dimulai pada tahun 2002 ketika sekelompok turis mancanegara menjadi sasaran pengeboman di Bali, yang dikenal sebagai peristiwa Bom Bali I. Pada peristiwa ini seratusan warga Australia menjadi korban, yang memicu sentimen anti Indonesia di negara Kangguru tersebut. Polisi akhirnya berhasil menangkap tiga pelaku pengeboman tersebut, yang dikenal sebagai Trio Bom Bali, yaitu Amrozi, Imam Samudra dan Ali Gufran alias Muklas. Mereka bertiga pun menghadapi hukuman mati beberapa tahun kemudian di depan regu tembak.

Pada masa-masa selanjutnya tindakan refresif pemerintah semakin meningkat. Di Makassar, ledakan di sebuah rumah cepat saji juga dituduhkan sebagai aksi terorisme yang menyeret sejumlah aktivis Islam sebagai pelaku. Pemerintah juga menangkap Abu Bakar Ba’syir, Presiden Jamaah Islamiyah (JI) yang dianggap sebagai dalang berbagai aksi terorisme di Indonesia di Asia Tenggara. Abu Bakar Ba’syir kemudian dibebaskan karena tidak kuatnya bukti melibatkan dirinya pada berbagai aksi tersebut, meski ia tetap mendapat pengawasan ketat setelah kebebasannya.

Keseriusan pemerintah ditunjukkan pula dengan dibentuknya Densus 88, yaitu pasukan elit di kepolisian sebagai destamen anti-teroris, pada tahun 2005, yang konon dibiayai oleh pemerintah AS dan personelnya dilatih oleh agen CIA dan FBI. Keberadaan Densus 88 ini tidak serta merta diterima masyarakat dengan baik, karena dalam aktivitasnya kerap menjadi pasukan eksekusi yang sangat agresif. Dalam beberapa aksinya mereka bisa menghancurkan apa saja. Para tersangka teroris langsung dieksekusi tanpa melalui proses pengadilan. Proses pengadilan mungkin dianggap berbiaya tinggi dan kadang menjadi beban politik bagi pemerintah.

Densus 88 semakin membanggakan diri dengan ditembak matinya sejumlah gembong teroris, mulai dari Dr Azhari hingga Noordin M Top, dua orang warga Malaysia yang dituding sebagai pimpinan utama kelompok teroris di Indonesia dan memiliki keterkaitan dengan Al-Qaidah pimpinan Osama bin Laden.

Dalam kenyataannya pemerintah justru melahirkan ketakutan baru bagi masyarakat. Tak ada rasa aman dan nyaman lagi bagi masyarakat untuk berada di mana saja yang mereka kehendaki seperti selama ini. Kebebasan telah terampas dengan dalih kepentingan keamanan nasional. Dan yang paling ironis lagi bahwa korban dari upaya refresif pemerintah ini adalah masyarakat Islam. Pesantren-pesantren diawasi secara ketat. Streotip teroris pada kelompok-kelompok dengan identitas tertentu pun dilakukan dan dikekalkan oleh media massa. Sweeping untuk orang-orang berjanggut, bercadar dan berjubah kerap dilakukan. Begitulah, dunia pun berubah menjadi tanah yang penuh ancaman untuk dipijak untuk orang-orang dengan identitas tertentu.

Malaikat Maut tak membawa sepucuk senjata pun karena ia selalu tahu dimana mendapatkannya di mana saja. Lagi pula, senjata bukanlah hal yang benar-benar merepotkannya, karena apapun bisa menjadi senjata baginya. Pengalaman berada beberapa bulan dengan aktivis Moro di Filipina membuatnya bisa merakit senjata dari berbagai jenis hanya dengan menggunakan benda-benda sederhana yang mudah didapatkannya di manapun ia berada. Ia tahu sejumlah bahan obat ataupun tumbuh-tumbuhan yang diracik dengan kadar tertentu bisa menjadi racun senjata yang sangat mematikan. Dengan semua potensi yang dimilikinya, apalagi yang bisa menjadi penghalang dari rencananya?

Mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar matanya langsung tertuju pada seseorang yang tidak begitu asing baginya. Intuisinya mengatakan bukanlah hal kebetulan jika dalam pesawat yang sama ia berada dengan seorang penyelidik dan penyidik khusus dari kepolisian yang memiliki reputasi tak tercela. Melalui kontaknya di kepolisian ia tahu semua orang yang bisa saja menjadi ancaman baginya. Ia mencoba mendekat ke polisi itu dan secara sengaja menyenggol, lalu menyatakan permohonan maafnya secara ramah. Itu memang sengaja dilakukannya karena mencoba menguji peruntungannya apakah polisi itu mengenalinya. Kenyataannya tak ada tatapan terkejut dari polisi itu padanya. Ia menunggu beberapa saat di kejauhan, hingga polisi itu mendapatkan taksi yang diinginkannya.

Setelah taksi yang membawa polisi itu melaju, ia pun mengikuti dengan taksi berikutnya. Ia berpekulasi bahwa polisi itu akan menuju sebuah hotel dimana ia pun akan menginap di hotel itu. Ia harus tahu alasan keberadaan polisi itu di tempat dimana ia akan beraksi. Dan jika itu memang terkait dengan rencana yang akan dilakukannya, maka ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya.

Taksi itu memang menuju sebuah hotel bintang lima di tengah kota. Setelah mengetahui hotel yang dituju polisi itu, Malaikat Maut tidak langsung masuk ke hotel itu. Ia malah menuju ke sebuah mall. Di mall itu ia segera mencari toilet dimana ia akan berganti penyamaran. Dan setelah yakin dengan segala penyamarannya, ia pun menuju hotel dimana polisi itu menginap.

Tak sulit baginya untuk mengetahui kamar polisi itu. Ia hanya tinggal menunggu di ruang makan dimana polisi pasti akan berada di saat jam makan tiba. Setelah beberapa jam menunggu, di sebuah sudut ruangan yang sedikit remang-remang ia mengamati polisi itu akhirnya datang memilih makanannya. Ia pun mendekat dan menyapa untuk, sekali lagi, mengetahui seberapa hebat penyamarannya. Dan sekali lagi polisi itu tampaknya tidak mengenalinya. Ia terus mengamati di kejauhan. Polisi itu, yang mungkin merasa sedang diamati, sesekali melirik padanya dengan berpura-pura menjatuhkan sesuatu. Malaikat Maut tersenyum geli sendiri. Setelah puas dengan pengamatannya, ia pun meninggalkan tempat itu secara diam-diam. Setidaknya ia kini tahu dengan siapa kemungkinan ia berhadapan kelak. Ia sudah punya rencana khusus untuk orang itu.






Coki berusaha tak meratapi apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Maya. Jika ingin memulai sesuatu dengan hasil yang baik maka mulailah dengan awal yang baik. Prinsip itu yang kini coba dijalaninya. Apalagi yang terjadi kini lebih pada kesalahpahaman belaka. Hanya butuh waktu dan sedikit kesabaran untuk memulai sesuatu yang baru dalam hubungan mereka.


Setiap siang, di saat-saat jam pulang sekolah ia akan sudah berada di depan sekolah dimana Maya mengajar. Di kejauhan ia hanya bisa menatap penuh harap. Bagi orang lain, mungkin ini sebuah kebodohan, namun baginya ini merupakan wujud dari kesungguhannya untuk meresapi perasaannya. Ia tak mencoba melawan perasaannya, seperti yang biasa banyak orang lakukan. Ia mengikuti irama cinta yang menggelora dalam hatinya. Dengan hanya menatap Maya di kejauhan, Coki merasa mendapat kehidupannya kembali. Ini benar-benar hanyalah masalah waktu hingga ia dapat meyakinkan Maya akan perasannya yang sesungguhnya.

Setiap pagi, siang dan malam ia selalu mengirim sms dengan hanya sekedar menyapa ataupun dengan kata-kata maaf. Meski sms itu tak pernah dibalas Coki tidak perduli. Ini benar-benar hanya butuh kesabaran. Ia berharap Maya akan membaca kesungguhannya dengan semua pesan singkatnya itu.



Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga tak terasa sebulan lebih keterputusan komunikasinya dengan Coki. Sebenarnya bukan benar-benar terputus, karena setiap hari Coki mengiriminya sms yang berisi banyak hal. Dalam hati, ia mensyukurinya dan bahkan seakan menjadi rutinitas baginya menerima sms yang kadang hanya berisi hal yang sama. Kadang sms itu hanya berisi hal-hal yang sepele, namun Maya merasakan begitu banyak cinta yang tak tertuliskan dalam pesan-pesan itu yang Coki coba ungkapkan padanya. Perlahan, perasaan hampa yang menderanya menghilang berganti rasa rindu. Tak ada benci dalam hatinya. Hanya ego yang belum bisa dikalahkannya. Maya seperti larut dalam permainan ini. Akankah takdir benar-benar mempertemukan kami? bisiknya terkadang dalam kesunyian malamnya. Jika cinta begitu indah, mengapa terkadang malah terasa menyakitkan dan menelantarkan?




Maya sedang bersiap untuk pulang ketika seorang siswanya menghampiri membawa sepucuk surat. Belum sempat ia bertanya asal surat itu ketika si siswa itu berlalu bergabung bersama teman-tamannya yang bergerombol pulang. Surat itu bukan untuknya. Di amplop itu tertulis nama yang dituju dengan tulisan tangan yang buruk: Coki. Maya mengerutkan kening merasa heran dengan surat itu. Selembar kertas yang dilekatkan di surat itu bertuliskan: Mohon bantuannya memberikan surat ini pada Coki. Penting.


Maya mencoba menerka-nerka apa yang kemungkinan sedang terjadi. Jangan-jangan ini hanya permainan Coki sekedar alasan untuk bertemu dengannya? Ia bermaksud mengabaikan surat itu, namun sebuah perasaan lain muncul di benaknya. Ia tak mungkin mengabaikan sebuah tanggung jawab yang dipercayakan padanya. Bagaimana jika surat itu benar-benar sangat penting. Tapi kenapa bukan orang itu yang langsung mengirim surat itu ke Coki atau pula menitip padanya? Mengapa orang itu menitipkannya melalui salah seorang siswanya?



Inspektur Alex benar-benar bingung dengan pencariannya. Tak ada sedikit pun informasi yang bisa membantu pencariannya. Tak ada kabar dari pusat tentang keberadaan orang itu. Tak ada kabar baru dari timnya tentang telpon baru dari pengusaha itu kepada Maskito sehingga mereka bisa mendapatkan data geografis yang jelas lokasi dimana ia berada. Dan seminggu sudah berlalu. Ia juga tak pernah bertemu lagi dengan lelaki misterius itu.


Inspektur Alex mencoba lebih agresif lagi dalam pencariannya. Ia pun mulai tempat-tempat keramaian. Ia mendatangi hotel demi hotel berbintang untuk mencari pengusaha itu. Tak begitu sulit baginya untuk memperoleh informasi dari manajer hotel karena ia punya surat sakti yang tak bisa ditolak oleh siapa pun. Penolakan atas keinginannya sama saja dengan penolakan tugas kepolisian dan itu bisa berarti subversif. Terkadang ia harus menggertak untuk mendapatkan informasi itu dan hasilnya tetap nihil. Di sela-sela pencariannya, ia mengabiskan waktu di mall, tempat yang sebenarnya sangat kecil kemungkinannya untuk didatangi si target dengan melihat pada reputasinya sebagai pengusaha ternama.

Inspektur Alex sedang menyeruput kopinya di sebuah kedia kopi modern, ketika secara tiba-tiba sebuah sosok yang dikenalinya berkelabat di depannya. Dengan terburu-buru ia mengikuti orang itu. Ia berada sekitar sepuluh meter di belakang orang itu. Ketika orang itu singgah di sebuah counter pakaian, Inspektur Alex memanfaatkan kesempatan itu untuk melihatnya dari dekat. Ia bahkan berada hanya satu meter di depan orang itu, berpura-pura sedang memilih pakaian sebagaimana orang itu. Dari segi struktur wajah memang orang itu sangat mirip dengan orang yang dicarinya. Tetapi melihat penampilannya, dengan seragam kerja, yang tampaknya dari sebuah perusahaan pembiayaan sangatlah tidak mungkin. Targetnya itu takkan mungkin berada di sebuah counter pakaian murahan dan diobral. Orang itu kemudian mengambil beberapa potong celana dan memasuki ruang ganti yang berada tak jauh di tempat dimana mereka berada. Hampir saja Inspektur Alex memutuskan untuk mengabaikan orang itu dan berlalu dari tempat itu ketika telponnya berdering. Nama salah seorang anggota timnya tertera di layar HP. Tanpa menunggu deringan selanjutnya Inspektur Alex segera mengangkat telponnya dan bergeser mencari tempat yang lebih sunyi.

“Yap,” sapanya pada si penelpon.

“Kita baru saja mendapatkan data baru keberadaan target kita,” terdengar suara yang terburu-buru.

“Ia menelpon. Kapan?”

“Sekarang. Bahkan ia masih menelpon sekarang ini. Tunggu…ia baru saja mematikan telponnya, tapi kami sudah tahu lokasinya.”

“Jangan katakan kalau ia menelpon dari sebuah mall…!”

“Bagaimana komandan tahu, ia memang….”

Inspektur Alex segera menutup telponnya dan berlari kecil ke arah tempat ganti itu. Ia melihat tumpukan pakaian bergelantung di pintu kamar ganti itu. Inspektur Alex bernafas lega. Ia memutuskan untuk menunggu beberapa saat. Hampir lima menit ia menunggu namun orang di dalam kamar ganti belum juga keluar. Tak tahan menunggu lebih lama Inspektur Alex memutuskan untuk menghampiri kamar itu dan membuka pintunya secara paksa. Baru saja tangannya hendak meraih gagang pintu kamar ganti itu ketika pintu itu terbuka dan orang yang hendak keluar dari kamar itu terhenyak kaget, begitu pun dengan Inspektur Alex. Orang itu bukanlah yang diinginkannya.

Inspektur Alex menjadi panik untuk sesaat. Ia meminta maaf pada orang itu dan segera melebarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia berjalan cepat dari ujung ke ujung dan tetap saja tak ditemukannya orang itu. Inspektur Alex benar-benar putus asa. Tiba-tiba ia berlari ke lantai dasar menuju pintu masuk-keluar. Tak perduli dengan pandangan aneh semua orang Inspektur Alex bahkan menerobos rombongan pengunjung melawan arus. Beberapa orang sempat memaki namun Inspektur Alex tak menghiraukannya. Ia harus segera berada di pintu keluar-masuk sekarang. Ketika seorang satpam mencoba menghalanginya ia memperlihatkan lencananya dan tanpa berkata apapun terus mencari di keramaian pengunjung. Berjam-jam lamanya ia menunggu dengan menatap pengunjung yang keluar satu persatu namun hasilnya tetap nihil. Inspektur Alex yang lelah dan frustasi menyesali kelalaiannya yang sejenak itu. Ia mengumpat berkali-kali dan sempat membuat beberapa orang melirik sinis padanya.

Di tengah-tengah keputusaasaan ini tiba-tiba sebuah ide baru berkelebat di kepalanya. Bukankah tadi orang itu mengenakan pakaian kerja sebuah perusahaan pembiayaan? Ia berusaha keras mengingat nama perusahaan itu. Karena tak ada sedikit pun bayangan di kepalanya, ide lain bermunculan. Ia segera masuk kembali ke dalam mall. Kali ini ia ke sebuah kios koran. Ia membeli beberapa koran lokal dan mulai membolak-balik koran itu mencari bagian iklan. Perusahaan itu pasti mengiklankan diri di koran, karena semua perusahaan pembiayaan pasti melakukannya agar dikenal luas masyarakat. Ikhtiarnya tidak sia-sia, karena beberapa saat kemudian ia menemukan iklan yang dicarinya. Meski tidak mengingat nama perusahaan itu namun ia ingat betul logo dan warna tulisannya.

Dalam setengah jam kemudian, atas jasa sopir taksi, ia sudah berada di depan perusahaan itu. Ia tidak segera masuk. Ia memikirkan cara lain untuk mendekati orang itu. Jika memang orang itu memang yang dicarinya maka suatu hal yang pasti ia telah mengganti identitasnya. Pasti ada sebuah penjelasan yang rasional atas semua ini. Inspektur Alex mulai merasakan adanya sebuah titik terang yang mampu menghubungkan segalanya. Ia tak mungkin merusak keseluruhan rencana yang sudah dibangunnya hanya karena sebuah kecerobohan kecil. Jika pengusaha itu mengganti identitasnya maka itu berarti ia memang tak ingin diketahui oleh siapa pun. Ia hanya perlu menahan diri untuk sementara waktu.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Sang Malaikat Maut (20)



Pesawat yang ditumpangi Inspektur Alex tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tiga jam sejak ia meninggalkan ruangan komandannya. Selain beberapa pasang pakaian santai, sepucuk pistol yang beramunisi penuh, surat penugasan dan sejumlah uang tunai di dompetnya, sebuah laptop dan HP canggih pinjaman FBI, tak ada lagi yang dibawanya. Penting baginya untuk tidak membebani dirinya dengan barang bawaan banyak, yang hanya akan merepotkannya.

Bandara Hasanuddin tampak berbeda semenjak ia menginjakkan kakinya di Makassar beberapa tahun lalu. Bandara ini, yang diproyeksikan sebagai bandara internasional telah direlokasi ke tempat yang lebih luas dan kondusif. Bangunannya pun dipercantik dan menunjukkan nuansa lokal yang kuat. Konon bandara ini dibangun dengan menggunakan sumber daya lokal yang tidak seperti bandara utama lainnya di Indonesia, yang menggunakan tenaga ahli dan konsultan dari luar negeri.













Sebagai seorang polisi yang dipersenjatai ia pun harus melalui sebuah prosedur khusus. Senjata memang barang yang paling diharamkan berada di pesawat sehingga prosedur membawa senjata di penerbangan sangat diperketat. Meski harus melalui sejumlah prosedur, namun ini tidaklah berlangsung lama. Dalam tiga puluh menit ke depan ia sudah berada di atas taksi yang akan membawanya ke sebuah hotel bintang lima di tengah kota Makassar.

Tidak seperti kebiasaan, ia tidak melapor ke Polda Sulsel sebagai otoritas kepolisian lokal. Komandannya pasti sudah menyelesaikan hal ini. Ia harus benar-benar fokus dan sesedikit mungkin melakukan kontak dengan polisi lokal.

Sesampai di hotel, ia segera membuka laptopnya dan memeriksa tampilan GPS lokasi dimana target menelpon beberapa jam sebelumnya. Ia membuka peta Makassar untuk membandingkan lokasi itu. Tempat yang dituju tidak terlalu jauh dari tempatnya kini berada. Jelas tempat itu bukan dari sebuah hotel, karena tak ada satu pun hotel berbintang di lokasi yang ditunjuk di peta digitalnya. Ia pun tidak bisa menjamin bahwa sang target akan tetap berada di lokasi itu untuk waktu yang lama. Yang jelas ia kini punya batu pijakan yang jelas.

Sebuah foto 10 R diambilnya dari bagian samping tas laptopnya. Ketika masih di Jakarta, melalui komandannya ia sudah mengajukan permintaan penyidikan polisi lokal atas foto itu. Dalam perintah itu hanya disampaikan permintaan informasi atas orang yang dimaksud tanpa ada penjelasan alasan pencarian orang itu. Meski pun ia punya akses untuk meminta langsung hasil pencarian itu di polisi lokal, Inspektur Alex tidak melakukannya. Ia memilih untuk menunggu hasil itu dari kantor pusat. Sangat penting baginya untuk menjaga kerahasiaan atas keberadaannya di kota itu. Kontak, tentu saja, akan tetap dilakukan pada saatnya nanti, jika memang sudah benar-benar diperlukan.






Cinta selalu datang tak terduga dan pergi dengan cara yang sama. Maya Calisa mencoba tidak meratapi apa yang tengah dihadapinya. Namun tetap saja ada perih yang tak tertahankan. Begitulah cinta bekerja. Semakin besar upaya mengenyahkannya, semakin ia mengakar kuat dan beranak pianak.

Maya mencoba merenungi apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan Coki. Sejujurnya, ia tidak memahami kebenciannya pada Coki. Bukankah kejujurannya, yang meski telat, adalah, seperti yang dikatakannya, adalah hal yang patut dihargai? Lalu ketika Coki menyatakan dirinya adalah masa depan yang harus diraihnya, sebagai petanda yang ditinggalkan istrinya, mengapa ia tidak bisa menerima kenyataan itu? Apa yang seharusnya ia harapkan dari hubungan mereka? Tidakkah cinta yang ditawarkan Coki sudah lebih dari yang seharusnya diharapkannya? Seberapa besar karat cinta yang benar-benar diharapkannya?

Maya Calisa berupaya melawan dorongan egonya yang begitu besar. Cinta memang selalu kemaruk, selalu ingin lebih dan lebih, selalu ingin segalanya. Jika seseorang yang dicintanya bertanya seberapa banyak cinta yang diharapkannya, maka ia akan segera menjawab seratus persen. Tapi, sanggupkah ia dengan semua totalias itu? Para pecinta tak pernah mempertimbangkan hal lain, karena cinta pun berarti mengabaikan hal lain. Dalam totalitas, cinta menjadi buta. Irasional. Emosional.

Kenapa ia tak belajar dari masa lalunya, ketika ia merasa cinta total terasa telah dimilikinya, tapi ternyata hanya fatamorgana belaka?

Maya pun terjebak dalam paradoksal yang diciptakannya sendiri. Dan di tengah kegalauannya ia justru memutuskan untuk menanggalkan semua perasaannya itu.

Maya mencoba menyibukkan diri dengan bekerja lebih giat. Ia tak memberi ruang bagi dirinya untuk kekosongan. Sepulang dari sekolah ia langsung mengerjakan hal lain. Tugas menumpuk dari sekolah, yang selalu menjadi momok, kini malah seperti dewa penolong baginya. Ia mengerjakan semuanya dengan semangat.

“Ada apa denganmu, tuan puteri?” Nita teman kerjanya tersenyum-senyum sambil geleng-geleng kepala dengan perubahan dirinya dalam sekejap itu.

Maya hanya tertawa cekikan kecil dan mengabaikan kritikan itu. “Kamu seharusnya mendukung. Ini hal baik kan?”

“Aku senang dengan perubahanmu, tapi seseorang yang biasanya mengeluh dengan pekerjaan yang menumpuk lalu tiba-tiba berubah antusias mencintai pekerjaan berjubel itu pastilah karena suatu sebab yang luar biasa. Apakah ini sesuatu yang juga ingin kamu sembunyikan sebagaimana masalah-masalahmu yang lain?” Nita mencoba bersimpati padanya dengan pandangan sedih dan Maya menjadi begitu bersalah, karena tiba-tiba menyadari betapa tertutupnya dirinya selama ini dari dunia luar, bahkan dari sahabatnya sendiri. Bukankah sahabat seharusnya adalah tempat berbagi suka dan duka?

Sesaat ia merasa tidak berlaku adil pada Nita. Nita yang selalu mendukungnya, sekaligus yang selalu diabaikannya. Ia rela Nita berjam-jam menangis di hadapannya dengan sejuta masalahnya, namun tak sedikit pun ia pernah berbagi pada sahabatnya itu.

“Apakah ini karena cinta?”

Nita mungkin membaca keraguan di wajahnya. Apakah ia melihat segalon air matanya yang sebentar lagi akan tumpah ruah?

Maya memeluk Nita dengan lembut. “Aku baik-baik saja. Semua orang tahu aku akan baik-baik saja. Bukankah selama ini aku baik-baik saja?”

“Kamu tidak sedang baik-baik saja, honey” bantah Nita, “Kita semua tahu kau tidak sedang baik-baik saja saat ini.” Nita sepertinya benar-benar memahami kegundahannya. Sehebat apapun wanita menyimpan kegalauannya ia takkan pernah benar-benar mampu untuk terus menyembunyikannya dari dunia luar.

“Kamu tak perlu menceritakan apapun sekarang jika kamu memang belum ingin melakukannya, tapi kamu tahu aku selalu ada jika kamu butuh, honey.”

Maya mengangguk. Sebentar lagi ia akan baik-baik saja. Pekerjaan pasti akan sangat ampuh menyembuhkannya dari apa pun, seperti juga selama ini.

(Bersambung)

Senin, 22 Agustus 2011

Gapura Kenangan



Saya punya kenangan tersendiri dengan acara 17-an. Ceritanya sekitar 16 tahun silam, ketika perayaan HUT RI ke-5o, tepatnya tahun 1995. Saya teringat perayaan 17-an tahun itu sangat berbeda, karena dinilai memiliki momentum tersendiri. Disebut HUT ‘emas’ karena usianya yang ke-50. Hiruk pikuk perayaan sangat terasa dimana-mana melebihi perayaan 17-an sebelum-sebelumnya. Tak terhitung baliho di jalanan untuk memeriahkannya. Om saya yang memiliki percetakan benar-benar kebanjiran orderan tahun itu.

Setiap jalan, lorong, sekolah-sekolah, instansi-instansi dan RT berlomba-lomba membangun Gapura atau pintu gerbang. Bahkan yang terhitung sebagai gang buntu pun tak ketinggalan ikut mendirikan gapura. Kebahagiaan merebak dimana-mana. Saya yang ketika itu baru saja tamat SMA juga kebanjiran orderan membuat baliho dan gapura. Saking banyaknya baliho yang saya buat sampai-sampai saya hapal betul logo HUT RI ke-50 ketika itu. Mungkin baru pada saat itu HUT RI dirayakan dengan logo khusus.

Lalu tiba-tiba saya harus berpindah kota dari Kabupaten Pinrang ke Kota Parepare, Sulsel, yang berjarak sekitar 30 km, dua minggu sebelum 17-an. Berbeda dengan tempat lain, RT dimana saya tinggal, kalau nggak salah namanya Kampung Pisang, tak memiliki gapura satu pun. Ada sekitar 4 jalanan di RT itu dan tak satu pun yang memiliki gapura. Terasa ada yang berbeda.

Saya baru beberapa hari di daerah tersebut dan saya belum mengenal tetangga seorang pun. Saya hanya kenal dengan tante dan dua orang anak dan 2 orang cucunya, tempat saya numpang hidup. Walhasil, teman bergaul saya hanya seorang saja, yaitu sepupu lelaki yang seumuran dengan saya.

Di depan rumah yang saya tempati adalah ujung jalan. Suatu sore, ketika sedang duduk di beranda rumah tiba-tiba kepikiran berbuat sesuatu. Saya tanya ke sepupu saya, ada nda bambu di sekitar tempat itu. Saya menyatakan niatan saya membuat sebuah gapura sederhana dari bambu, seadanya. Sepupu saya, yang bernama Budi ini ternyata tertarik dengan ide saya, maka sore itu juga ia pun mengumpulkan bambu-bambu tua yang ditemukannya berserakan di jalan. Kami tak punya kelengkapan apapun, selain sebuah parang (golok) untuk membelah bambu, maka peralatan lain seperti gergaji dan palu kami pinjam dari tetangga. Paku-paku dan tali untuk mengikat pun kami temukan di jalanan. Satu-satunya yang kami beli hanyalah cat merah, karena kebetulan persediaan cat putih Budi sepupu saya masih ada.

 
Sumber: http://dgi-indonesia.com/logo-1990-1999/

Setelah semua bahan dan alat terkumpul, yang tentu saja seadanya, kami berdua pun mulai membuat gapura sederhana. Karena dikerjakan di depan rumah, yang merupakan jalanan umum, maka aktivitas kami terpantau dari tetangga-tetangga. Menjelang magrib, satu dua orang tetangga mulai berdatangan untuk membantu. Tak lama kemudian tiba-tiba ada yang menyiapkan lampu penerang. Menjelang isya, tetangga, yang tak satu pun yang saya kenal, mulai banyak berdatangan. Bahkan ibu-ibu dan anak-anak gadisnya banyak yang datang membantu dan membawakan kue dan kopi. Kampung itu tiba-tiba ramai. Jika awalnya konsep gapura kami hanya seadanya, maka sekarang sepertinya akan dibuat lebih mewah, karena banyak yang kemudian membawa balok dan triplek dari rumah masing-masing. Tidak hanya itu, dalam waktu singkat seorang tokoh masyarakat bahkan melakukan pengunpulan dana untuk pembelian cat, lampu-lampu hiasan dan peralatan lainnya.

Aktivitas kami berlanjut hingga larut malam. Orang-orang yang berkumpul semakin banyak, dan saya pun, yang pendatang baru di kampung itu, tiba-tiba menjadi buah bibir pembicaraan warga. Malam itu, sebuah gapura, lengkap dengan lampu hias dan logo HUT RI 50 berhasil kami dirikan. Besoknya, warga melanjutkan aktivitas semalam dengan melakukan kerja bakti. Jalanan yang awalnya penuh dengan sampah dibersihkan. Selokan-selokan pun ikut dibersihkan. Menurut tante saya, ini baru pertama kali kerjasama warga dilakukan seperti saat itu.

Tidak hanya sampai di situ, besoknya, jalanan dan kampung sebelah, setelah melihat gapura kami berdiri dan mendengar aksi gotong royong yang kami lakukan, juga melakukan hal yang sama. Walhasil semua ujung jalan, yang berjumlah empat itu, sekarang berdiri gapura.

Saya takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika berniat mendirikan gapura tersebut, tak ada sedikit pun bayangan bahwa apa yang akan saya lakukan akan menjadi semeriah dan seheboh itu. Hanya dalam sekejap, seluruh warga di kampung itu mengenal saya tanpa saya harus memperkenalkan diri. Dalam sekejap, tiba-tiba seluruh warga merasa ada yang harus mereka lakukan bersama. Sebuah langkah kecil yang bermakna sangat besar.

Kejadian 16 tahun silam ini masih teringat-ingat setiap perayaan 17-an. Saya biasanya tersenyum jika mengingat kejadian hari itu. Dan jika saya ke kampung itu, pasti ada saja warga yang menyinggungnya. Ini mungkin kado HUT RI terindah yang pernah saya peroleh sepanjang hidup saya. Tahun ‘emas’ yang bernar-benar bermakna.

Sang Malaikat Maut (19)

OLEH WAHYU CHANDRA

“Aku sudah menikah,” ungkap Coki secara tiba-tiba ketika mereka sedang berada di pinggiran Pantai Losari, suatu hari dimana mereka telah sepakati untuk sebuah pertemuan.

Sesaat Maya terlihat terkejut dan tak mampu menyembunyikan ekspresi keterkejutan itu di wajahnya. Namun ia sepertinya mampu mengendalikan diri dan mencoba tersenyum. Getir.

“Waktu aku tanya di kafe itu kamu tidak bilang apa-apa selain memperlihatkan jari-jarimu dimana tak ada satu pun cincin di sana,” ujar Maya sedikit gugup. Ia melihat ke kiri kanan dengan gelisah dan ia sepertinya ingin segera beranjak meninggalkan tempat itu.

Coki yang merasa bersalah dengan semua itu, mengangguk lemah dan mencoba memegang salah satu tangan Maya, yang segera ditepis secara halus oleh Maya.

“Sori..” ujar Coki dengan rasa bersalah yang semakin dalam.

“Aku tak bermaksud….aku hanya ingin memulai segalanya dengan baik dan itu berarti aku harus belajar jujur sejak dari awal.”

Maya menatap dengan kening berkerut, tanda ketakmengertiannya dengan apa yang barusan Coki katakan. “Aku kira semuanya sudah sangat jelas. Dan apa maksud kamu memulainya dengan baik? Memangnya apa yang akan kita mulai?” suaranya terdengar ketus. Ya Allah, apakah aku perebut suami orang? Bagaimana aku bisa berada di situasi ini?

Coki kembali meminta maaf. Ia semakin sulit menemukan penjelasan lain pada wanita itu, yang sepertinya sudah membentengi dirinya agar tak tersentuh oleh apa pun dari luar dirinya.

“Sebelum kamu memutuskan berlalu dari tempat ini, bahkan dari kehidupanku, bolehkah aku bercerita sedikit hal padamu?”

Maya semakin gelisah dengan sekelilingnya, karena tiba-tiba merasa takut seseorang wanita akan datang ke tempat itu dan melabrak mereka. Kegelisahannya sudah cukup menjadi jawaban atas keinginan Coki tersebut.

“Aku memang sudah menikah. Atau tepatnya pernah menjalaninya dengan seseorang. Tidak seperti yang mungkin kamu duga, aku bukanlah seorang lelaki bersuami yang meninggalkan istrinya di rumah dengan segala harapan dan cinta demi sebuah petualangan dengan wanita lain yang lebih muda. Aku tidak berbohong ketika memperlihatkan jari manisku yang tak bercincin, karena aku memang sudah tidak bersama siapa pun lagi saat ini. Aku bersalah karena tidak menjelaskan ini lebih awal. Aku bingung saat itu dan kupikir memang bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya saat itu.”

Maya yang sudah merasa sedikit lega dan tak segelisah tadi masih tetap diam. Ia menatap matahari besar keemasan yang sebentar lagi meninggalkan ufuk. Meski sudah sedikit lega namun ia belum bisa menemukan dirinya kembali secara utuh.

Coki yang merasakan situasinya semakin baik lalu bercerita lebih jauh. Ia bercerita bagaimana ia kehilangan istrinya beberapa bulan sebelumnya. Meski tidak menceritakan segalanya, namun semua penjelasan itu ia harapkan setidaknya membuat Maya tidak langsung menilainya secara buruk. Ia mencoba menjelaskan bahwa ia adalah lelaki baik, yang mencintai istrinya secara tulus dan hubungan mereka selalu baik-baik saja hingga kematian memisahkan mereka.

“Aku turut berduka,” kata Maya kemudian, yang mungkin mulai merasa simpati atas yang menimpa Coki. “Ia pasti wanita yang hebat, kalau mendengar cerita-ceritamu.” Apakah ia tahu kalau aku cemburu dengan cintanya yang sangat besar pada istrinya yang telah tiada?

Coki mengangguk sambil tersenyum perih dan sekaligus lega telah menceritakan segala hal yang disimpannya selama ini. “Aku tak pernah berharap bisa menemukan kembali cinta itu hingga kemudian mengenalmu.”

“Maksud kamu?” dada Maya berdegup kencang. Sebuah serangan sporadis menerjang secara tiba-tiba.

“Aku tidak mencoba membandingkanmu dengannya meski betapa miripnya kalian dalam banyak hal. Aku hanya berpikir bahwa pertemuan kita bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan belaka.”

Maya terlihat semakin bingung dengan penjelasan Coki. Sebuah perahu yang melintas sedikit menyita perhatiannya. Ia melambai ke nelayan itu dan segera dibalas oleh sang nelayan dengan senyum sumringah.

Coki lalu melanjutkan ceritanya tentang apa yang dilakukannya setelah kematian istrinya dan pertemuannya dengan seseorang yang telah membuka hati dan pikirannya. Sebuah pencerahan tiba-tiba mengarahkannya pada sebuah kehidupan baru, pada sebuah tekad untuk menunjukkan betapa merasa bersalahnya ia dengan ketakmampuannya untuk menuruti keinginan istrinya ketika ia masih hidup. Dan sekedar menunjukkan rasa bersalah dan cintaya itulah ia pun memutuskan menjadi seorang debt collector.

“Awalnya aku tak melihat permintaan itu sebagai sesuatu yang bermakna. Aku menjalani kehidupan baruku ini hanyalah sebuah utang yang harus aku bayar, dan semakin aku menjalaninya, dan setelah bertemu denganmu, aku mulai menyadari hal lain.

“Ini sebuah petanda, Maya. Ini bukan suatu kebetulan belaka. Ini sebuah petanda bahwa aku harus menemukanmu. Istrikulah yang mempertemukan kita, karena ia selalu mencintaiku dan kuyakin setelah kepergiannya ia akan berharap aku akan menemukan wanita yang tepat.”

Maya sepertinya tidak puas dengan penjelasan itu. Suatu hal dari cerita itu tiba-tiba menganggunya. Menggugah egonya.

“Kalau itu semua adalah kebenaran, sebagaimana yang kau ceritakan, maka itu berarti kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Aku hanya sebuah pelarianmu dengan dalih sebuah ‘petanda’ yang harus kau temukan. Haruskah aku menerima cinta seseorang karena sebuah keterpaksaan?”

Coki menjadi kalang kabut. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapat serangan balik seperti itu, padahal bukanlah seperti itu yang benar-benar ingin dikatakannya. Ia hanya ingin mengatakan betapa ia telah menemukan seorang wanita yang mampu membuatnya bangkit kembali dan semua itu bukan semata karena kehendaknya, tapi karena sesuatu yang jauh lebih besar. Takdir.

“Bukan seperti itu, Maya. Maaf dengan penjelasanku tadi, tapi bukan seperti itu yang benar-benar ingin kukatakan…”

Maya yang sepertinya merasa tak nyaman di tempat itu segera berpaling dan bersiap-siap untuk segera beranjak. Lampu-lampu taman mulai menyala, jalanan pun mulai terasa sesak dan bunyi klakson bertautan menandakan betapa jalan itu mulai dipenuhi kendaraan yang lalu lalang.

“Aku harus segera pulang. Sudah magrib dan aku harus segera tiba di rumah sebelum benar-benar malam.” Maya terdengar dingin dengan kata-katanya. Ia benar-benar beranjak untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia memasang helm dan mulai menyalakan motornya dan sepertinya tak mengacuhkan upaya Coki untuk menahannya.

Coki yang masih terpana di tempatnya, dengan semua yang terjadi, terlihat begitu kalah. Sesuatu yang tak pernah mungkin bisa diterimanya di masa lalu. Meski ia tak menyesalinya. Ia malah bersyukur dengan kejujuran yang baru saja disampaikan pada wanita itu. Ia bersyukur bahwa setidaknya sudah berupaya memulai hidupnya dengan cara yang baik. Jika kini ia tak bisa lagi berharap wanita itu akan membuka hatinya untuknya, setidaknya ia kini bisa berharap menemukan jati diri yang baru bagi dirinya. Dirinya yang benar-benar baru.

Maya Calisa berkendara menyusuri jalanan yang sudah benar-benar padat dan bising, dengan setumpuk beban di hati. Ketika ia menerima sms siang tadi dari Coki mengajaknya ketemuan di Pantai Losari, ia tak mampu mendefinisikan betapa senangnya perasaannya saat itu. Ini adalah pertemuan ketiga mereka sejak di kafe itu. Dan dalam dua pertemuan sebelumnya mereka menikmati kebersamaan yang indah. Mereka sempat jalan ke mall dan makan di sebuah restoran atau pun ke sebuah pusat permainan yang baru saja buka. Setidaknya ia merasa harus mulai membuka kembali lembaran hidupnya secara baik dengan lelaki yang baik dan mencintainya.

Perbincangan mereka di pantai itu menjadi titik klimaks tertentu bagi hubungan mereka, yang sebenarnya mulai menapak menuju hubungan yang lebih serius. Ia merasa seperti berada di situasi dimana ia melepaskan sesuatu yang hampir saja diraihnya. Apakah ini arti dari mimpinya semalam? Ia bermimpi menapak sebuah gunung yang dipenuhi bunga-bunga indah. Salah satu bunga yang terindah di taman itu berada di tempat yang lebih tinggi dan ketika ia ingin meraihnya ia justru terbangun karena terjatuh dari tempat tidur. Apakah itu sebuah petanda yang buruk baginya?

Mimpi itu memang bisa berarti apa saja. Dan bagaimana ia terbangun dari mimpi itu, juga bisa berarti apa saja. Maya bergelut dalam pikiran-pikiran yang saling bertentangan. Kalau mimpi itu berakhir tanpa memberinya kejelasan akhir apakah ia berhasil meraih bunga itu atau tidak, apakah itu berarti bahwa takdirnya belum benar-benar diputuskan hingga ia sendiri memilih takdir mana yang akan dipilihnya?

Ia tak menemukan sedikit jawaban apapun hingga sampai di rumah dan langsung masuk dalam kamar. Ia ingin menutup dirinya dari apapun. Dan ketika terbangun esok hari ia berharap semuanya akan baik-baik saja, karena semua yang barusan dihadapinya hanyalah mimpi lain yang akan segera berakhir.






Inspektur Alex segera tahu dengan apa yang akan dilakukannya dengan izin penyadapan yang sangat tak mudah diperolehnya. Bukti hasil autopsi penyebab kematian istri pengusaha itu akibat racun setidaknya menguatkan alasan bagi terbitnya izin itu, meski benteng yang akan dihadapinya juga bukanlah hal yang mudah untuk ditembus.


Izin penyadapan, apalagi untuk seorang dengan koneksi yang besar pada kekuasaan, memang kerap kali terlalu sulit diberikan. Akan muncul banyak pertanyaan yang sulit dijawab jika penyadapan itu tidak didasari pada sebuah dugaan yang kuat. Bisa-bisa malah akan merembet ke masalah politik. Sejumlah kasus setidaknya telah membuktikan hal ini dan Kadivhumas Kapolri harus siap dengan segala argumen pembelaan atas semua tindak-tanduk jajaran mereka.

Dengan modal izin itu, Inspektur Alex pun menyusun rencana. Dikumpulkannya sejumlah petugas lapangan terpilih, yang memang sangat ahli dalam hal penyadapan dan penyamaran. Sebuah teknologi penyadapan terbaru juga dipinjamkan oleh FBI, yang begitu antusias dengan perkembangan baru ini dan berjanji akan melakukan atau memberikan apapun yang dibutuhkan asal target mereka segera diketahui keberadaannya.

Inspektur Alex masih sangat ingat tentang saran dari agen FBI itu bagaimana ia menemukan target yang layaknya hantu itu, “Kamu hanya bisa mengidentifikasinya dari korbannya. Ia akan memilih korban dari kelompok sosial tertentu dan akan sulit mengetahui jejak yang ditinggalkannya tanpa sebuah usaha yang kuat untuk mendapatkannya.”

Ini sebuah tantangan tersendiri bagi Inspektur Alex. Hal lain yang membuat tugasnya bermakna penting adalah kenyataan bahwa ini adalah sebuah pertarungan besar untuk sebuah profesionalisme.

Ia telah menyiapkan sebuah perencanaan yang matang dengan sejumlah personil lapangan pilihan. Sebuah mobil penuh teknologi komunikasi, tentu saja bantuan pemerintah AS melalui FBI, ditempatkan di radius tak begitu jauh dimana target penyadapan berada. Sejumlah intel juga bertugas mengawasi segala pergerakan Maskito. Hal yang mudah dari tugas ini adalah kemungkinan bahwa Maskito benar-benar tidak menyadari penyadapan atas dirinya. Diasumsikan bahwa ia tidak berupaya melindungi dirinya karena merasa bahwa ia telah mampu mengendalikan segalanya.

Dalam seminggu pengamatan atas diri Maskito, Inspektur Alex dan timnya belum menemukan hal-hal yang berarti. Sejumlah transaksi via telpon memang dilakukan dengan mitra asingnya, yang kemungkinan adalah transaksi narkoba. Namun instruksi Inspektur Alex pada timnya sangat jelas, bahwa bukan itu yang menjadi target mereka. Maskito hanyalah umpan untuk pancingan yang lebih besar. Sebuah telpon lain, yang terdengar sangat aneh, yaitu seperti sebuah transaksi peti mati, juga diabaikan, meski tetap menjadi sebuah catatan penting.

Dalam telpon itu, dimana Maskito adalah penerima telpon, si penelpon yang bersuara berat, bertanya apakah ia, Maskito, yang memesan peti mati lewat telpon.

Maskito mengiayakan, dan si penelpon kembali meminta klasifikasi peti yang diinginkan. Maskito melanjutkan bahwa ia menginginkan sebuah peti termahal dan ia tidak perduli dengan harganya.

“Anda yakin menginginkan peti mati ini?” suara si penelpon yang terdengar tegas dan dominan mencoba meyakinkan niat Maskito.

Maskito yang terdengar agak gugup kembali menegaskan niatnya dan ia bersungguh-sungguh dengan harga yang ditawarkannya.

“Bagaimana saya bisa memberikan detilnya pada anda?” tanya Maskito kemudian.

“Apakah kita sudah sepakat dengan harganya?” suara itu malah terdengar sedikit khawatir.

“Ya, saya sudah punya skema harga terendah dan tertinggi anda. Saya akan membayar dengan harga tertinggi full sebagai tanda jadi dan akan ada penambahan 30% setelah barangnya terkirim. Anda puas dengan penawaran saya?”

Beberapa saat si penelpon terdiam, seperti sedang mempertimbangkan tawaran itu, lalu kemudian terdengar lagi suara, “Ini tawaran yang sempurna. Jangan khawatir dengan barangnya. Saya yakin anda akan mendapatkan peti mati terindah seperti yang anda inginkan.”

“Jadi, bagaimana saya mengirimkan detilnya? Saya akan mengirimkannya secepatnya setelah saya merasa benar-benar siap. Tak ada masalah kan menunggu untuk beberapa hari? Maaf saya harus menelpon jauh-jauh hari agar saya yakin bahwa anda siap dengan ini.”

Pembicaraan itu benar-benar aneh dan boleh jadi sebuah transaksi narkoba seperti biasanya. Ini jelas-jelas sebuah bahasa kode yang biasanya memang dipergunakan oleh para pengedar narkoba. Peti mati? Apakah yang dimaksud “peti mati’ sungguhan yang berisi puluhan kilogram narkoba berkualitas tinggi atau itu hanya sebuah hiasan? Pikir Inspektur Alex. Istillah yang paling sering didengarnya dari sebuah transaksi narkoba adalah ‘duren’, sedangkan istilah ‘peti mati’ benar-benar tak pernah didengarnya. Kalau memang ini adalah narkoba dalam paket peti mati, tentu saja ini adalah tangkapan yang besar. Tapi Inspektur Alex berusaha fokus dengan apa yang dikerjakannya. Kasus narkoba Maskito, kalau memang ada, maka itu bisa menunggu. Tinggal mengontak divisi narkoba dengan bukti rekaman itu maka semuanya akan terselesaikan. Dan jika itu dilakukannya sekarang maka resiko yang dihadapinya adalah ia akan kehilangan tangkapan besar yang justru paling diinginkannya. Inspektur Alex berusaha menepis godaan itu.

Beberapa hari setelah telpon aneh itu muncul telpon lain. Inspektur Alex memiliki rekaman suara si pengusaha yang menjadi atasan Maskito dari sebuah rekaman wawancara di sebuah stasiun TV setahun lalu. Mendengar suara si penelpon tim penyadap segera memberi tanda bahwa mereka sudah mendapatkan target yang diinginkan. Sebuah alat GPS canggih diaktifkan, yang mampu mendeteksi asal penelpon meski mereka melakukan pengacakan asal telpon mereka. Suasana di van itu benar-benar tegang. Hanya dalam hitungan detik di layar komputer di depan mereka tertera lokasi geografis si penelpon. Inspektur Alex yang segera mendapat konfirmasi mengamati percakapan itu di tempat lain dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia tersenyum tipis. Ia sudah punya gambaran dimana posisi target mereka dan memerintahkan tim untuk tetap siaga hingga perintah pemberhentian penyadapan dilakukan.

Dengan tergesa-gesa Inspektur Alex bergegas menemui atasannya yang berada di ruangan lain. Beberapa teman menyapanya, yang dibalasnya dengan senyum dan menunjuk ke arah yang ingin ditujunya, yang sebenarnya ingin dikatakannya bahwa ia sedang tergesa-gesa dan ia tak punya waktu untuk meladeni mereka.

Lima menit kemudian ia sudah berada di ruangan komandannya melaporkan apa yang diperolehnya dan meminta surat perintah jalan, tiket pesawat PP untuk perbangan lokal.

“Kapan kamu akan berangkat?” tanya komandanya.

“Sebaiknya sore ini, setelah semuanya disiapkan. Kita tak punya banyak waktu. Target bisa saja akan segera berpindah ke tempat lain yang tidak kita ketahui.”

Komandannya mengangguk mengiayakan. Ia lalu menelpon sekretarisnya dan ke beberapa orang lainnya. Dalam setengah jam sepertinya semuanya sudah rampung karena, komandannya kemudian berkata, “Kamu segera berangkat sekarang juga. Saya berharap ini benar-benar seperti yang kamu perkirakan. Ingat, ini bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita semua.”

Inspektur Alex merasa merinding dengan tanggung jawab yang sangat besar yang tiba-tiba dibebankan padanya. Ia mengangguk dan segera pamit untuk berkemas.

“Tunggu sebentar!”

Komandannya kemudian menelpon ke beberapa orang lainnya. Tampaknya ia menelpon ke agen FBI yang dulu pernah datang ke kantornya. Lalu ia kembali menelpon orang lain, yang tampaknya orang penting di Mabes. Katanya kemudian pada Inspektur Alex:

“Agen FBI akan segera mendatangkan beberapa agen terbaik mereka. Mereka menunggu kepastian darimu dalam dua tiga hari ini. Aku juga mengontak komandan Densus 88 untuk kesiapan mereka jika untuk mengantisipasi hal-hal yang di luar perkiraan kita.”

Inspektur Alex tampak kikuk dan menyatakan keberatannya, “Apa tidak terlalu dini untuk itu, komandan? Mungkin sebaiknya kita tunda saja dulu keterlibatan mereka hingga ada kepastian di lapangan? Takutnya akan menimbulkan kehebohan, tidak seperti yang kita harapkan dari semula.”

Komandannya yang terlihat sangat antusias menggeleng, “Kamu salah, Lex. Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi? Kamu tahu sendiri siapa yang akan kita hadapi ini kan? Ini hanya sebuah tindakan jaga-jaga. Kalaupun ini akan menjadi kehebohan, saya yakin kita bisa meluruskannya. Kamu tahu sendiri bagaimana Densus menyelesaikan masalah seperti ini, kan?”

Sekilas Inspektur Alex melihat senyum kecil tersungging di wajah komandannya.

Mau tak mau Inspektur Alex menyetujui rencana komandannya. Pernyataannya tentang Densus 88 jelas sebuah sindiran halus atas kinerja Densus 88 selama ini yang banyak mendapat sorotan di masyarakat. Dalam beberapa kasus yang ditanganinya, Densus 88 selalu punya cara untuk meyakinkan masyarakat akan tindak-tanduknya dan kerusakan yang ditimbulkannya. Densus 88 terlatih untuk tidak perduli dengan apapun sorotan masyarakat selama itu dilakukan untuk menangkap ataupun membunuh seseorang yang dituduh sebagai teroris. Mereka berlindung dalam lisensi yang mereka miliki untuk melakukan apa saja yang dianggap perlu, termasuk menghilangkan nyawa seseorang.

Inspektur Alex tak bisa membayangkan jika memang Densus 88 benar-benar terlibat langsung dalam upaya penangkapannya ini. Ia tahu karena pernah menjadi bagian darinya, meski kemudian dimutasikan ke divisi lain karena sikapnya yang kadang bertentangan dengan sikap komandannya.

“Dan jangan lupa untuk terus memberi kabar perkembangan di sana,” pesan terakhir komandannya sebelum ia akhirnya berlalu dari tempat itu.