Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Agustus 2011
Buku Gratis 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
MICHAEL H. HART adalah seorang keturunan Yahudi yang menuliskan buku berjudul “The 100“, pada tahun 1978. Buku tersebut memuat 100 tokoh yang memiliki pengaruh terkuat dalam sejarah manusia.
Bukunya secara hangat diperdebatkan, konsep bukunya secara luas ditiru. Penting untuk dicatat bahwa Hart tidak memasukkan orang terbesar. Kriterianya ialah orang yang berpengaruh.
Buku ini dicetak kembali pada 1992 dengan beberapa revisi nyata terhadap daftar urutan 100 dan pangkat luar biasa mereka. Terutama di antara revisi itu ialah penurunan pangkat tokoh komunis seperti Lenin dan Joseph Stalin, dan pengenalan Mikhail Sergeyevich Gorbachev.
Edisi ini juga memuat Edward de Vere menggantikan William Shakespeare. Hart menggantikan Niels Henrik David Bohr dan Antoine Henri Becquerel dengan Ernest Rutherford, juga membetulkan kesalahan dalam edisi pertama. Henry Ford juga dimasukkan di sini dari yang sekedar “Tokoh-tokoh Terhormat”, menggantikan Pablo Picasso. Akhirnya, urutan itu ditata kembali.
Dapatkan bukunya secara gratis di link ini:
http://www.4shared.com/get/I6XUyxZZ/100_tokoh_paling_berpengaruh_d.html
Minggu, 15 Mei 2011
The Power: Dahsyatnya Kekuatan Cinta Membentuk Kehidupan
Judul : The Power
Penulis : Rhonda Byerne
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun : 2010
Halaman : 295+xii
Setelah sukses dengan bukunya ‘The Secret’, yang konon mengispirasi jutaan orang di dunia dalam mengubah sudut pandang mereka akan hidup dan kehidupan, Rhonda Byerne menulis buku lain yang tak kalah jauh berbobotnya berjudul ‘The Power’.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tahun : 2010
Halaman : 295+xii
Setelah sukses dengan bukunya ‘The Secret’, yang konon mengispirasi jutaan orang di dunia dalam mengubah sudut pandang mereka akan hidup dan kehidupan, Rhonda Byerne menulis buku lain yang tak kalah jauh berbobotnya berjudul ‘The Power’.
Sama dengan yang ditulisnya di The Secret, pada bukunya kali ini Byerne
juga membeberkan kekuatan hukum tarik menarik semesta sebagai kekuatan tak
terhingga, yang membentuk perilaku dan jalan hidup manusia. Dunia akan bekerja
sebagaimana yang kau pikirkan. Begitulah kira-kira tesis utama dari kedua buku
ini.
Pada The Power ini, Byerne pun banyak
mengutip ungkapan-ungkapan bijak dari tokoh-tokoh sejarah yang dinilai memiliki
persepsi dengan tesis yang dibangunnya, mulai dari tokoh-tokoh spritual seperti
Yesus, Muhammad, Gandhi, Paulus, hingga pengarang-pengarang klasik semisal
Prentice Mulford, Robert Browning, dan sebagainya.
Dalam buku The Power ini, menurut Byerne, daya
untuk segala sesuatu yang positif dan menyenangkan itu adalah cinta, karena ‘bila
anda mencintai, anda sedang menggunakan sang daya di alam semesta’, kata
Byerne.
Hanya saja cinta
yang dimaksud Byerne dalam buku ini bukanlah cinta yang dipahami sebagian besar
orang. Cinta dalam hal ini bukan sekedar cinta dalam keluarga, teman dan cinta
terhadap berbagai kesenangan, karena cinta buakn hanya perasaan; cinta adalah
kekuatan positif. Cinta tidak lemah dan cengeng atau lembek. Cinta adalah
kekuatan positif kehidupan. Cinta adalah sumber segala sesuatu yang psoitif dan
indah. Kekuatan positif dalam hidup ini tidaklah berjumlah seratus; melainkan
hanya satu. Itulah CINTA.
Buku ini menarik
untuk dibaca karena selain menggunakan bahasa yang santai dan mudah dicerna,
juga memberi pemahaman baru tentang diri dan alam semesta serta hubungan
manusia dengan alam semesta sebagai suatu kesatuan kosmis yang tak terpisahkan.
Byerne tak sedang mengajarkan dogma atau nilai-nilai tertentu, tetapi lebih
pada penanaman kesadaran positif bagaimana alam semesta ini bekerja sebagai
suatu symponi yang harmonis dengan manusia dan semua makhluk sekitarnya. Alam
semesta akan bekerja sebagaimana pikiran dan perilaku manusia yang mendiaminya.
Konsep yang sebenarnya tak asing bagi penganut paham new age.
Cinta memang
menjadi fokus utama dalma buku ini dan terus diulang-ulang pembahasannya
dihampir setiap paragraf, namun itu tidak menjadikan buku ini membosankan untuk
dibaca. Byerne juga memberikan contoh-contoh atau kisah nyata yang dia dan
orang-orang alami ketika menerapkan konsepsi ini.
Apa yang
dibeberkan Byerne dalam buku ini sebenarnya bersumber utama dari agama-agama
yang ada di dunia ini. Dalam Islam cinta dan keikhlasan adalah tema yang
memiliki tempat istimewa, khususnya dalam Islam sufisme, yang memang meletekkan
ajarannya pada ajaran cinta. Yang berbeda adalah lebih pada arah tuju dan
pemaknaan cinta. Jika Byerne menggambarkan kekuatan semesta sebagai sumber
utama dari segala arah laku manusia, maka dalam ajaran Islam hukum semesta
adalah sebagai cara Allah bekerja. Semesta adalah makhluk sebagaimana halnya
manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang bekerja hanya semata atas se izinNya. Jika
Byerne tak memberikan label agama dalam tulisannya ini mungkin semata agar buku
ini bisa dibaca oleh siapapun, baik dia beragama ataupun tidak. Byerne dalam
hal ini hanyalah seorang ‘penemu’ dari sebagian kecil bagaimana Allah bekerja
dengan hukum-hukumnya.
Buku ini layak
untuk dibaca meskipun kita harus tetap kritis, karena bagaiamana pun sebuah
pemikiran selalu memiliki keterbatasan. Ide besar tentang bagaimana ‘cinta’
bekerja sebagai elemen penting penggerak kehidupan tentunya suatu pemikiran
yang sangat menarik, karena sebagaimana pemahaman para sufisme Islam, jika
bukan karena Cinta maka Allah takkan pernah menciptakan kehidupan ini.
Sabtu, 07 Mei 2011
Kesetiaan Para Ronin Sejati
Judul Kisah 47 Ronin
No. ISBN 979-1141-06-1
Penulis Jhon Allyn
Penerbit Matahati
Tanggal terbit Maret - 2007
Jumlah Halaman -
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) 125x190mm
Kisah 47 Ronin karya John Allyn adalah fiksi sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di Negara Matahari Terbit. Sejarah mencatat, pada tahun 1703, empat puluh tujuh ronin yang dipimpin oleh Ōishi Kuranosuke Yoshitaka menyerang rumah kediaman pejabat tinggi istana Kira Kōzuke no Suke Yoshihisa guna membalas dendam kematian majikan mereka yang bernama Asano Takumi no Kami.
Ronin adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya di zaman feodal Jepang (1185-1868). Samurai menjadi kehilangan tuannya ketika tuannya mati, atau akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah. Samurai yang tidak lagi memiliki tuan tidak bisa lagi disebut sebagai samurai, karena samurai adalah \"pelayan\" bagi sang tuan. Dalam tradisi samurai, ronin memiliki derajat dibawah samurai. Bagi seorang ronin hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi orang bayaran atau turun pangkat dalam kemiliteran.
Ada banyak kisah pembalasan dendam ronin terhadap kematian tuannya, namun yang paling terkenal dan menjadi legenda nasional Jepang adalah ‘Kisah 47 Ronin’. Di Jepang sebelum Perang Dunia II, kisah ini umum dikenal sebagai Akōgishi (Perwira Setia dari Ako) dan dijadikan teladan kesetiaan samurai terhadap majikannya. Seusai Perang Dunia II, kisah ini lebih dikenal sebagai Akō rōshi (ronin dari Akō) atau Shijūshichishi (47 samurai). Kisah ini kemudian ditulis kedalam sebuah novel oleh penulis Jepang Osaragi Jirō yang kemudian diangkat menjadi drama televisi. Selain itu kisah kepahlawan ini kerap dipentasakan di teater tradisional Jepang (Kabuki).
Di dunia barat kisah ini dikenal dengan sebutan Forty-seven Ronin atau Forty-Seven Samurai. Walau fakta sejarahnya jelas, namun keterangan rinci tentang peristiwa ini sangat kabur. Kisah ini memiliki berbagai versi dan sudut pandang. Salah satunya versi John Allyn, yang mengangkat kisah 47 ronin kedalam sebuah novel yang cetakan pertamanya terbitkan pada tahun 1970.
Dalam novelnya John Allyn menulis kisah ini dengan sudut pandang Oishi sebagai tokoh sentralnya. Allyn memulai novelnya dengan mendeskripsikan situasi di Jepang di di awal abad ke-18, dimana Istana Shogun marak dengan pameran kemewahan, korupsi, serta pesa pora. Kesenian berkembang dengan pesat, kelas pedagang semakin berkuasa sehingga pengaruh prajurit dan samurai mulai berkurang. Saat itu diterapkan pula Undang-undang Pelestarian Hidup yang melarang mahluk hidup (termasuk binatang). Hal ini merugikan petani karena tak seorangpun diperbolehkan membunuh binatang termasuk binatang hama. Hasil bumi menjadi merosot sehingga membuat Jepang di tepi jurang kehancuran ekonomi.
Dalam situasi seperti inilah Lord Asano, seorang daimyo dari Ako yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Shogun diundang ke Istana Shogun Tsuyanoshi untuk menghadiri upacara kenegaraan. Lord Asano adalah samurai sejati. Ia tak suka dengan kemewahan upacara istana, namun sebagai seorang daimyo yang setia terhadap Shogun Tsunayoshi ia tetap menghadirinya.
Kira, seorang pejabat istana betindak sebagai Pemimpin Upacara untuk semua acara di istana. Ia dikenal sebagai pejabat yang korup dan memanfaatkan jabatannya untuk mengambil keuntungan bagi siapa yang berhubungan dengannya. Lord Asano membenci Kira, begitupun Kira menganggap Lord Asano adalah samurai sejati yang jujur dan dididik dengan cara lama sehingga menjadi ancaman bagi gaya hidupnya.
Ketika upacara berlangsung Kira menghina Lord Asano. Tersinggung dengan ucapan Kira, Asano menyerang Kira hingga terluka. Akibatnya Asano ditangkap dan dipaksa melakukan seppukku, mati dengan merobek perut sendiri dan diakhiri dengan kepala yang terpancung. Setelah itu kastil dan wilayah kekuasaan Asano di Ako harus diserahkan pada Shogun. Para pengikut Lord Asano yang dipimpin oleh Oishi tak menerima kematian yang menimpa pemimpinnya. Otomatis mereka menjadi Ronin dan segera berkumpul untuk membalas dendam. Saat itu terkumpul sekitar 300 ronin.
Namun Oishi tidak larut dalam emosi dan gegabah mengambil tindakan, dan lagi undang-undang melarang perbuatan balas dendam. Ketika teman-temannya memilih untuk mempertahankan kuil Asano dan segera membalas dendam kematian pemimpinnya, dengan kepala dingin Oishi memilih untuk patuh pada Undang-undang. Membiarkan kuil diambil alih secara damai sambil mengajukan petisi kepada Shogun untuk menuntut keadilan.
Waktu berlalu tanpa ada kejelasan atas petisi tersebut. Para Ronin hidup secara terpisah dan menjalani aktifitasnya masing-masing. Oishi sendiri hidup bersama seorang geisha dan selalu berada dalam intaian mata-mata Kira. Dua tahun berlalu sejak kematian Lord Asino, saat pembalasan dendam para Ronin untuk membela kehormatan pemimpinnya akhirnya tiba. Setelah melalui ujian waktu dan kesabaran , Oishi berhasil mengumpulkan kawan-kawannya, namun jumlah ronin yang memiliki tekad untuk membalas dendam kematian Asano semakin menyusut hingga akhirnya hanya 47 Ronin yang tersisa dan bersumpah uintuk melakukan balas dendam yang kelak akan dikenal sebagai peristiwa balas dendam paling berdarah dalam sejarah kekaisaran Jepang.
Novel ini ditulis dengan menarik, sedari awal pembaca akan dibawa pada satu pertanyaan besar, berhasilkan ke 47 ronin membunuh Kira yang menyebabkan kematian pemimpinnya ?. Bagi mereka yang mengetahui sejarah Jepang tentu saja ini bukan pertanyaan karena sejarah telah mencatat bagaimana akhir dari peristiwa berdarah ini. Namun kisah ini tetap menarik karena seperti diungkap diatas banyak sekali versi dari kisah ini, dan pembaca yang ‘melek’ sejarah tetap akan dibuat penasaran bagaimana kisah ini menurut versi John Allyn. Sehingga bagi siapapun novel ini tetap menarik dan menggiring pembacanya untuk segera sampai pada halaman terakhir.
Sayang profil John Allyn, tak terdapat dalam buku ini. Siapa John Allyn dan darimana ia memperoleh sumber-sumber untuk menulis novelnya ini ? Jika memang dalam buku yang menjadi sumber terjemahan novel ini tak ada keterangan apapun tentang penulisnya, tentunya penerbit bisa mencarinya dari sumber-sumber lain.
Selain itu yang agak disayangkan, buku ini tak menyertakan peta dimana kejadian ini berlangsung. Padahal dengan adanya sebuah peta, pembaca akan lebih memahami isi novel ini terutama dari segi geografisnya. Misalnya pembaca akan lebih mengetahui dimana Ako tempat Oishi dan Lord Asano berasal, berapa jauh letaknya dari Edo. dll.
Terlepas dari kekurangan di atas, novel ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui sepenggal sejarah Jepang. Walau tema utama novel ini adalah balas dendam, bukan berarti novel yang kental dengan aroma sejarah ini sarat dengan kekerasan. Tebasan tajamnya pedang samurai/ronin hanya akan ditemui di awal dan akhir novel ini.
Diantara bagian itu pembaca akan disuguhi aneka peristiwa yang memperkaya pembacanya baik dari sejarah, kultur kekaisaran jepang di awal abad ke 18, semangat kesatriaan para samurai / ronin dalam menegakkan kehormatan, kesetian dalam pengabdian, kesabaran dan strategi dalam menghadapi musuh, dll. Semua itu mewarnai novel ini sehingga tak heran Prof. Dr. I. Ketut Surajaya dalam endorsmentnya mengatakan bahwa buku ini akan memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya tentang kesabaran, kesetiaan, dan pengorbanan yang ditegakkan melalui ajaran Bushindo.
Di tengah serbuan novel-novel terjemahan berlatar negara-negara barat, tampaknya kehadiran novel-novel dengan setting Asia atau Jepang akan membawa angin segar dan pilihan yang lebih beragam bagi para pembaca buku tanah air. Dan jangan lupa seperti karakteristik novel-novel berlatar sejarah Jepang lainnya (Musashi, Klan Otori, dll), novel ini mengandung muatan filosofis yang tinggi. Hal yang perlu dibaca dan dicerna oleh pembaca buku di indonesia.
Ini Dia Buku-Buku yang Layak Dicuri!!
OLEH WAHYU CHANDRA
Setelah membaca buku Allison Hoover Bartlett “The Man Who Loved
Book Too Much.” yang bercerita tentang Gilkey, seorang pencuri buku
langka yang mencuri karena kecintaannya pada buku, dan Ken Sanders,
sang detektif buku, saya menjadi tahu banyak tentang hal mengenai buku.
Bagi sebagian orang buku tidak hanya sekedar bacaan berisi pengetahuan,
buku juga menjadi simbol status sosial. di masa lalu hanya segelintir
orang saja yang memiliki hak istimewa untuk membaca dan memilki buku.
mereka haruslah seorang bangsawan, kaya atau seorang yang sangat
berpengaruh di masyarakatnya.
Buku juga bagi sebagian orang adalah jembatan menuju masa lalu, menuju
pusaran kenangan. maka tidak heran jika sejumlah buku kemudian memiliki
harga yang sangat mahal karena ketuaannya, penulisnya yang tersohor,
jumlahnya yang terbatas ataupun keunikan lain dari buku tersebut.
Melalui buku ini juga saya menjadi tertarik untuk mengetahui 100 daftar
buku terbaik sepanjang masa versi Modern Library, buku-buku yang menjadi
incaran para kolektor. saya pun membuka situs Modern Library di
http://www.randomhouse.com/modernlibrary/100bestnovels.html.
Situs ini memang berisi buku-buku terbaik dan terpopuler, baik itu novel
maupun nonfiksi. termasuk di dalamnya the satanic verses karangan
salman rusdie yang sangat kontraversial menyusul adanya fatwa mati
Khomeni terhadap penulis buku ini.
Jika anda berminat menjadi pencuri buku langka, maka yakinlah diri anda
buku-buku tersebut adalah termasuk buku-buku yang layak untuk dicuri
yang termasuk dalam daftar di Modern Library berikut ini:
THE BOARD’S LIST
- ULYSSES by James Joyce
- THE GREAT GATSBY by F. Scott Fitzgerald
- A PORTRAIT OF THE ARTIST AS A YOUNG MAN by James Joyce
- LOLITA by Vladimir Nabokov
- BRAVE NEW WORLD by Aldous Huxley
- THE SOUND AND THE FURY by William Faulkner
- CATCH-22
- DARKNESS AT NOON by Arthur Koestler
- SONS AND LOVERS by D.H. Lawrence
- THE GRAPES OF WRATH by John Steinbeck
- UNDER THE VOLCANO by Malcolm Lowry
- THE WAY OF ALL FLESH by Samuel Butler
- 1984 by George Orwell
- I, CLAUDIUS by Robert Graves
- TO THE LIGHTHOUSE by Virginia Woolf
- AN AMERICAN TRAGEDY by Theodore Dreiser
- THE HEART IS A LONELY HUNTER by Carson McCullers
- SLAUGHTERHOUSE-FIVE by Kurt Vonnegut
- INVISIBLE MAN by Ralph Ellison
- NATIVE SON by Richard Wright
- HENDERSON THE RAIN KING by Saul Bellow
- APPOINTMENT IN SAMARRA by John O’Hara
- U.S.A. (trilogy) by John Dos Passos
- WINESBURG, OHIO by Sherwood Anderson
- A PASSAGE TO INDIA by E.M. Forster
- THE WINGS OF THE DOVE by Henry James
- THE AMBASSADORS by Henry James
- TENDER IS THE NIGHT by F. Scott Fitzgerald
- THE STUDS LONIGAN TRILOGY by James T. Farrell
- THE GOOD SOLDIER by Ford Madox Ford
- ANIMAL FARM by George Orwell
- THE GOLDEN BOWL by Henry James
- SISTER CARRIE by Theodore Dreiser
- A HANDFUL OF DUST by Evelyn Waugh
- AS I LAY DYING by William Faulkner
- ALL THE KING’S MEN by Robert Penn Warren
- THE BRIDGE OF SAN LUIS REY by Thornton Wilder
- HOWARDS END by E.M. Forster
- GO TELL IT ON THE MOUNTAIN by James Baldwin
- THE HEART OF THE MATTER by Graham Greene
- LORD OF THE FLIES by William Golding
- DELIVERANCE by James Dickey
- A DANCE TO THE MUSIC OF TIME (series) by Anthony Powell
- POINT COUNTER POINT by Aldous Huxley
- THE SUN ALSO RISES by Ernest Hemingway
- THE SECRET AGENT by Joseph Conrad
- NOSTROMO by Joseph Conrad
- THE RAINBOW by D.H. Lawrence
- WOMEN IN LOVE by D.H. Lawrence
- TROPIC OF CANCER by Henry Miller
- THE NAKED AND THE DEAD by Norman Mailer
- PORTNOY’S COMPLAINT by Philip Roth
- PALE FIRE by Vladimir Nabokov
- LIGHT IN AUGUST by William Faulkner
- ON THE ROAD by Jack Kerouac
- THE MALTESE FALCON by Dashiell Hammett
- PARADE’S END by Ford Madox Ford
- THE AGE OF INNOCENCE by Edith Wharton
- ZULEIKA DOBSON by Max Beerbohm
- THE MOVIEGOER by Walker Percy
- DEATH COMES FOR THE ARCHBISHOP by Willa Cather
- FROM HERE TO ETERNITY by James Jones
- THE WAPSHOT CHRONICLES by John Cheever
- THE CATCHER IN THE RYE by J.D. Salinger
- A CLOCKWORK ORANGE by Anthony Burgess
- OF HUMAN BONDAGE by W. Somerset Maugham
- HEART OF DARKNESS by Joseph Conrad
- MAIN STREET by Sinclair Lewis
- THE HOUSE OF MIRTH by Edith Wharton
- THE ALEXANDRIA QUARTET by Lawrence Durell
- A HIGH WIND IN JAMAICA by Richard Hughes
- A HOUSE FOR MR BISWAS by V.S. Naipaul
- THE DAY OF THE LOCUST by Nathanael West
- A FAREWELL TO ARMS by Ernest Hemingway
- SCOOP by Evelyn Waugh
- THE PRIME OF MISS JEAN BRODIE by Muriel Spark
- FINNEGANS WAKE by James Joyce
- KIM by Rudyard Kipling
- A ROOM WITH A VIEW by E.M. Forster
- BRIDESHEAD REVISITED by Evelyn Waugh
- THE ADVENTURES OF AUGIE MARCH by Saul Bellow
- ANGLE OF REPOSE by Wallace Stegner
- A BEND IN THE RIVER by V.S. Naipaul
- THE DEATH OF THE HEART by Elizabeth Bowen
- LORD JIM by Joseph Conrad
- RAGTIME by E.L. Doctorow
- THE OLD WIVES’ TALE by Arnold Bennett
- THE CALL OF THE WILD by Jack London
- LOVING by Henry Green
- MIDNIGHT’S CHILDREN by Salman Rushdie
- TOBACCO ROAD by Erskine Caldwell
- IRONWEED by William Kennedy
- THE MAGUS by John Fowles
- WIDE SARGASSO SEA by Jean Rhys
- UNDER THE NET by Iris Murdoch
- SOPHIE’S CHOICE by William Styron
- THE SHELTERING SKY by Paul Bowles
- THE POSTMAN ALWAYS RINGS TWICE by James M. Cain
- THE GINGER MAN by J.P. Donleavy
- THE MAGNIFICENT AMBERSONS by Booth Tarkington
- ATLAS SHRUGGED by Ayn Rand
- THE FOUNTAINHEAD by Ayn Rand
- BATTLEFIELD EARTH by L. Ron Hubbard
- THE LORD OF THE RINGS by J.R.R. Tolkien
- TO KILL A MOCKINGBIRD by Harper Lee
- 1984 by George Orwell
- ANTHEM by Ayn Rand
- WE THE LIVING by Ayn Rand
- MISSION EARTH by L. Ron Hubbard
- FEAR by L. Ron Hubbard
- ULYSSES by James Joyce
- CATCH-22 by Joseph Heller
- THE GREAT GATSBY by F. Scott Fitzgerald
- DUNE by Frank Herbert
- THE MOON IS A HARSH MISTRESS by Robert Heinlein
- STRANGER IN A STRANGE LAND by Robert Heinlein
- A TOWN LIKE ALICE by Nevil Shute
- BRAVE NEW WORLD by Aldous Huxley
- THE CATCHER IN THE RYE by J.D. Salinger
- ANIMAL FARM by George Orwell
- GRAVITY’S RAINBOW by Thomas Pynchon
- THE GRAPES OF WRATH by John Steinbeck
- SLAUGHTERHOUSE FIVE by Kurt Vonnegut
- GONE WITH THE WIND by Margaret Mitchell
- LORD OF THE FLIES by William Golding
- SHANE by Jack Schaefer
- TRUSTEE FROM THE TOOLROOM by Nevil Shute
- A PRAYER FOR OWEN MEANY by John Irving
- THE STAND by Stephen King
- THE FRENCH LIEUTENANT’S WOMAN by John Fowles
- BELOVED by Toni Morrison
- THE WORM OUROBOROS by E.R. Eddison
- THE SOUND AND THE FURY by William Faulkner
- LOLITA by Vladimir Nabokov
- MOONHEART by Charles de Lint
- ABSALOM, ABSALOM! by William Faulkner
- OF HUMAN BONDAGE by W. Somerset Maugham
- WISE BLOOD by Flannery O’Connor
- UNDER THE VOLCANO by Malcolm Lowry
- FIFTH BUSINESS by Robertson Davies
- SOMEPLACE TO BE FLYING by Charles de Lint
- ON THE ROAD by Jack Kerouac
- HEART OF DARKNESS by Joseph Conrad
- YARROW by Charles de Lint
- AT THE MOUNTAINS OF MADNESS by H.P. Lovecraft
- ONE LONELY NIGHT by Mickey Spillane
- MEMORY AND DREAM by Charles de Lint
- TO THE LIGHTHOUSE by Virginia Woolf
- THE MOVIEGOER by Walker Percy
- TRADER by Charles de Lint
- THE HITCHHIKER’S GUIDE TO THE GALAXY by Douglas Adams
- THE HEART IS A LONELY HUNTER by Carson McCullers
- THE HANDMAID’S TALE by Margaret Atwood
- BLOOD MERIDIAN by Cormac McCarthy
- A CLOCKWORK ORANGE by Anthony Burgess
- ON THE BEACH by Nevil Shute
- A PORTRAIT OF THE ARTIST AS A YOUNG MAN by James Joyce
- GREENMANTLE by Charles de Lint
- ENDER’S GAME by Orson Scott Card
- THE LITTLE COUNTRY by Charles de Lint
- THE RECOGNITIONS by William Gaddis
- STARSHIP TROOPERS by Robert Heinlein
- THE SUN ALSO RISES by Ernest Hemingway
- THE WORLD ACCORDING TO GARP by John Irving
- SOMETHING WICKED THIS WAY COMES by Ray Bradbury
- THE HAUNTING OF HILL HOUSE by Shirley Jackson
- AS I LAY DYING by William Faulkner
- TROPIC OF CANCER by Henry Miller
- INVISIBLE MAN by Ralph Ellison
- THE WOOD WIFE by Terri Windling
- THE MAGUS by John Fowles
- THE DOOR INTO SUMMER by Robert Heinlein
- ZEN AND THE ART OF MOTORCYCLE MAINTENANCE by Robert Pirsig
- I, CLAUDIUS by Robert Graves
- THE CALL OF THE WILD by Jack London
- AT SWIM-TWO-BIRDS by Flann O’Brien
- FARENHEIT 451 by Ray Bradbury
- ARROWSMITH by Sinclair Lewis
- WATERSHIP DOWN by Richard Adams
- NAKED LUNCH by William S. Burroughs
- THE HUNT FOR RED OCTOBER by Tom Clancy
- GUILTY PLEASURES by Laurell K. Hamilton
- THE PUPPET MASTERS by Robert Heinlein
- IT by Stephen King
- V. by Thomas Pynchon
- DOUBLE STAR by Robert Heinlein
- CITIZEN OF THE GALAXY by Robert Heinlein
- BRIDESHEAD REVISITED by Evelyn Waugh
- LIGHT IN AUGUST by William Faulkner
- ONE FLEW OVER THE CUCKOO’S NEST by Ken Kesey
- A FAREWELL TO ARMS by Ernest Hemingway
- THE SHELTERING SKY by Paul Bowles
- SOMETIMES A GREAT NOTION by Ken Kesey
- MY ANTONIA by Willa Cather
- MULENGRO by Charles de Lint
- SUTTREE by Cormac McCarthy
- MYTHAGO WOOD by Robert Holdstock
- ILLUSIONS by Richard Bach
- THE CUNNING MAN by Robertson Davies
- THE SATANIC VERSES by Salman Rushdie
THE BOARD’S LIST (NON FICTION)
- THE EDUCATION OF HENRY ADAMS by Henry Adams
- THE VARIETIES OF RELIGIOUS EXPERIENCE by William James
- UP FROM SLAVERY by Booker T. Washington
- A ROOM OF ONE’S OWN by Virginia Woolf
- SILENT SPRING by Rachel Carson
- SELECTED ESSAYS, 1917-1932 by T. S. Eliot
- THE DOUBLE HELIX by James D. Watson
- SPEAK, MEMORY by Vladimir Nabokov
- THE AMERICAN LANGUAGE by H. L. Mencken
- THE GENERAL THEORY OF EMPLOYMENT, INTEREST, AND MONEY by John Maynard Keynes
- THE LIVES OF A CELL by Lewis Thomas
- THE FRONTIER IN AMERICAN HISTORY by Frederick Jackson Turner
- BLACK BOY by Richard Wright
- ASPECTS OF THE NOVEL by E. M. Forster
- THE CIVIL WAR by Shelby Foote
- THE GUNS OF AUGUST by Barbara Tuchman
- THE PROPER STUDY OF MANKIND by Isaiah Berlin
- THE NATURE AND DESTINY OF MAN by Reinhold Niebuhr
- NOTES OF A NATIVE SON by James Baldwin
- THE AUTOBIOGRAPHY OF ALICE B. TOKLAS by Gertrude Stein
- THE ELEMENTS OF STYLE by William Strunk and E. B. White
- AN AMERICAN DILEMMA by Gunnar Myrdal
- PRINCIPIA MATHEMATICA by Alfred North Whitehead and Bertrand Russell
- THE MISMEASURE OF MAN by Stephen Jay Gould
- THE MIRROR AND THE LAMP by Meyer Howard Abrams
- THE ART OF THE SOLUBLE by Peter B. Medawar
- THE ANTS by Bert Hoelldobler and Edward O. Wilson
- A THEORY OF JUSTICE by John Rawls
- ART AND ILLUSION by Ernest H. Gombrich
- THE MAKING OF THE ENGLISH WORKING CLASS by E. P. Thompson
- THE SOULS OF BLACK FOLK by W.E.B. Du Bois
- PRINCIPIA ETHICA by G. E. Moore
- PHILOSOPHY AND CIVILIZATION by John Dewey
- ON GROWTH AND FORM by D’Arcy Thompson
- IDEAS AND OPINIONS by Albert Einstein
- THE AGE OF JACKSON, Arthur Schlesinger by Jr.
- THE MAKING OF THE ATOMIC BOMB by Richard Rhodes
- BLACK LAMB and Grey Falcon by Rebecca West
- AUTOBIOGRAPHIES by W. B. Yeats
- SCIENCE AND CIVILIZATION IN CHINA by Joseph Needham
- GOODBYE TO ALL THAT by Robert Graves
- HOMAGE TO CATALONIA by George Orwell
- THE AUTOBIOGRAPHY OF MARK TWAIN by Mark Twain
- CHILDREN OF CRISIS by Robert Coles
- A STUDY OF HISTORY by Arnold J. Toynbee
- THE AFFLUENT SOCIETY by John Kenneth Galbraith
- PRESENT AT THE CREATION by Dean Acheson
- THE GREAT BRIDGE by David McCullough
- PATRIOTIC GORE by Edmund Wilson
- SAMUEL JOHNSON by Walter Jackson Bate
- THE AUTOBIOGRAPHY OF MALCOLM X by Alex Haley and Malcolm X
- THE RIGHT STUFF by Tom Wolfe
- EMINENT VICTORIANS by Lytton Strachey
- WORKING by Studs Terkel
- DARKNESS VISIBLE by William Styron
- THE LIBERAL IMAGINATION by Lionel Trilling
- THE SECOND WORLD WAR by Winston Churchill
- OUT OF AFRICA by Isak Dinesen
- JEFFERSON AND HIS TIME by Dumas Malone
- IN THE AMERICAN GRAIN by William Carlos Williams
- CADILLAC DESERT by Marc Reisner
- THE HOUSE OF MORGAN by Ron Chernow
- THE SWEET SCIENCE by A. J. Liebling
- THE OPEN SOCIETY AND ITS ENEMIES by Karl Popper
- THE ART OF MEMORY by Frances A. Yates
- RELIGION AND THE RISE OF CAPITALISM by R. H. Tawney
- A PREFACE TO MORALS by Walter Lippmann
- THE GATE OF HEAVENLY PEACE by Jonathan D. Spence
- THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTIONS by Thomas S. Kuhn
- THE STRANGE CAREER OF JIM CROW by C. Vann Woodward
- THE RISE OF THE WEST by William H. McNeill
- THE GNOSTIC GOSPELS by Elaine Pagels
- JAMES JOYCE by Richard Ellmann
- FLORENCE NIGHTINGALE by Cecil Woodham-Smith
- THE GREAT WAR AND MODERN MEMORY by Paul Fussell
- THE CITY IN HISTORY by Lewis Mumford
- BATTLE CRY OF FREEDOM by James M. McPherson
- WHY WE CAN’T WAIT by Martin Luther King by Jr.
- THE RISE OF THEODORE ROOSEVELT by Edmund Morris
- STUDIES IN ICONOLOGY by Erwin Panofsky
- THE FACE OF BATTLE by John Keegan
- THE STRANGE DEATH OF LIBERAL ENGLAND by George Dangerfield
- VERMEER by Lawrence Gowing
- A BRIGHT SHINING LIE by Neil Sheehan
- WEST WITH THE NIGHT by Beryl Markham
- THIS BOY’S LIFE by Tobias Wolff
- A MATHEMATICIAN’S APOLOGY by G. H. Hardy
- SIX EASY PIECES by Richard P. Feynman
- PILGRIM AT TINKER CREEK by Annie Dillard
- THE GOLDEN BOUGH by James George Frazer
- SHADOW AND ACT by Ralph Ellison
- THE POWER BROKER by Robert A. Caro
- THE AMERICAN POLITICAL TRADITION by Richard Hofstadter
- THE CONTOURS OF AMERICAN HISTORY by William Appleman Williams
- THE PROMISE OF AMERICAN LIFE by Herbert Croly
- IN COLD BLOOD by Truman Capote
- THE JOURNALIST AND THE MURDERER by Janet Malcolm
- THE TAMING OF CHANCE by Ian Hacking
- OPERATING INSTRUCTIONS by Anne Lamott
- MELBOURNE by Lord David Cecil
THE READER’S LIST (NON FICTION)
- THE VIRTUE OF SELFISHNESS by AYN RAND
- DIANETICS:THE MODERN SCIENCE OF MENTAL HEALTH by L. RON HUBBARD
- OBJECTIVISM: THE PHILOSOPHY OF AYN RAND by LEONARD PEIKOFF
- 101 THINGS TO DO TIL THE REVOLUTION by CLAIRE WOLFE
- THE GOD OF THE MACHINE by ISABEL PATERSON
- AYN RAND: A SENSE OF LIFE by MICHAEL PAXTON
- THE ULTIMATE RESOURCE by JULIAN SIMON
- ECONOMICS IN ONE LESSON by HENRY HAZLITT
- SEND IN THE WACO KILLERS by VIN SUPRYNOWICZ
- MORE GUNS, LESS CRIME by JOHN R. LOTT
- PSYCHIATRY: THE ULTIMATE BETRAYAL by BRUCE WISEMAN
- FINGERPRINTS OF THE GODS by G. HANCOCK
- CLASSICAL INDIVIDUALISM: THE SUPREME IMPORTANCE OF EACH HUMAN BEING by TIBOR MACHAN
- FREE TO CHOOSE by MILTON AND ROSE FRIEDMAN
- AIN’T NOBODY’S BUSINESS IF YOU DO by PETER MCWILLIAMS
- THE ROAD TO SERFDOM by F. A. HAYEK
- FREEDOM IN CHAINS by JAMES BOVARD
- AMERICA’S GREAT DEPRESSION by MURRAY N. ROTHBARD
- THE ROOSEVELT MYTH by JOHN T. FLYNN
- THE TRUE BELIEVER by ERIC HOFFER
- VINDICATING THE FOUNDERS by THOMAS WEST
- THE DECLARATION OF INDEPENDENCE by CARL L. BECKER
- COGNITIVE THERAPY AND THE EMOTIONAL DISORDERS by AARON T. BECK
- DEATH by GOVERNMENT by R. J. RUMMEL
- A ROOM OF ONE’S OWN by VIRGINIA WOOLF
- LONGITUDE by DAVA SOBEL
- ORDINARILY SACRED by LYNDA SEXSON
- SPEAK, MEMORY by VLADIMIR NABOKOV
- THE ART OF MEMORY by FRANCES YATES
- DUMBING US DOWN by JOHN TAYLOR GATTO
- THE GOLDEN BOUGH by JAMES FRAZER
- UNDAUNTED COURAGE: MERIWETHER LEWIS, THOMAS JEFFERSON, AND THE OPENING OF THE AMERICAN WEST by STEPHEN E. AMBROSE
- A MODERN PROPHET by HAROLD KLEMP
- THE FLUTE OF GOD by PAUL TWITCHELL
- REAL PRESENCES by GEORGE STEINER
- OUT OF AFRICA by ISAK DINESEN
- WAYS OF SEEING by JOHN BERGER
- THE SHADOW UNIVERSITY: THE BETRAYAL OF LIBERTY ON AMERICA’S CAMPUSES by ALAN CHARLES KORS
- PROPERTY MATTERS: HOW PROPERTY RIGHTS ARE UNDER ASSAULT AND WHY YOU SHOULD CARE by JAMES V. DE LONG
- STORMING HEAVEN by JAY STEVENS
- THE TEXAN by C. S. BARRIOS
- HOMAGE TO CATALONIA by GEORGE ORWELL
- THE VARIETIES OF RELIGIOUS EXPERIENCE by WILLIAM JAMES
- HOW TO LIE WITH STATISTICS by DARRELL HUFF
- BUT IS IT TRUE? by AARON WILDAVSKY
- A MATHEMATICIAN READS THE NEWSPAPER by JOHN ALLEN PAULOS
- ANATOMY OF CRITICISM by NORTHROP FRYE
- THE MAINSPRING OF HUMAN PROGRESS by HENRY GRADY WEAVER
- MODERN TIMES by PAUL JOHNSON
- MEN TO MATCH MY MOUNTAINS by IRVING STONE
- THE EDUCATION OF HENRY ADAMS by HENRY ADAMS
- THE GREAT BRIDGE by DAVID MCCULLOUGH
- AMERICAN GAY by STEPHEN O. MURRAY
- THE DOUBLE HELIX by JAMES D. WATSON
- THE SENSE OF AN ENDING by FRANK KERMODE
- THE GNOSTIC GOSPELS by ELAINE PAGELS
- EROS THE BITTERSWEET by ANNE CARSON
- THE WESTERN CANON by HAROLD BLOOM
- THE WHITE GODDESS by ROBERT GRAVES
- HEALING OUR WORLD by MARY RUWART
- SILENT SPRING by RACHEL CARSON
- PILGRIM AT TINKER CREEK by ANNIE DILLARD
- SEXUAL PERSONAE by CAMILLE PAGLIA
- THINK AND GROW RICH by NAPOLEON HILL
- A LIFE OF ONE’S OWN by DAVID KELLEY
- DOORS OF PERCEPTION by ALDOUS HUXLEY
- THE DISCOVERY OF FREEDOM by ROSE WILDER LANE
- MORE LIBERTY MEANS LESS GOVERNMENT by WALTER WILLIAMS
- LIBERTARIANISM: A PRIMER by DAVID BOAZ
- BEYOND LIBERAL AND CONSERVATIVE by WILLIAM MADDOX AND STUART LILIE
- A CONFLICT OF VISIONS: IDEOLOGICAL ORIGINS OF POLITICAL STRUGGLES by THOMAS SOWELL
- PARLIAMENT OF WHORES by P. J. O’ROURKE
- SEPARATING SCHOOL AND STATE: HOW TO LIBERATE AMERICA’S FAMILIES by SHELDON RICHMAN
- THE FUTURE AND ITS ENEMIES by VIRGINIA POSTREL
- THE ELEMENTS OF STYLE by WILLIAM STRUNK AND E. B. WHITE
- ORIENTALISM by EDWARD SAID
- ECOTERROR by RON ARNOLD
- WHY GOVERNMENT DOESN’T WORK by HARRY BROWNE
- OUT OF THE CRISIS by W. EDWARDS DEMING
- NOT OUT OF AFRICA by MARY LEFKOWITZ
- THE END OF RACISM by DINESH D’SOUZA
- BEHIND THE MASK by IAN BURUMA
- IN A DARK WOOD by ALSTON CHASE
- PRIVATE PARTS by HOWARD STERN
- THE TELEPHONE BOOK by AVITAL RONELL
- THE MINUTEMAN: RESTORING AN ARMY OF THE PEOPLE by GARY HART
- WAKING AND DREAMING by JOSEPH HART
- THE GREATEST STORY NEVER TOLD by LANA CANTRELL
- RADICAL SON by DAVID HOROWITZ
- UNDER THE SIGN OF SATURN by SUSAN SONTAG
- THE AUTOBIOGRAPHY OF MALCOLM X by ALEX HALEY AND MALCOLM X
- A FEELING FOR BOOKS by JANICE RADWAY
- THE HERO OF A THOUSAND FACES by JOSEPH CAMPBELL
- THE JOB by WILLIAM BURROUGHS
- SILENT INTERVIEWS by SAMUEL R. DELANY
- SLATS GROBNIK AND SOME OTHER FRIENDS by MIKE ROYKO
- RISE OF THE UNMELTABLE ETHNICS by MICHAEL NOVACK
- REVERSE ANGLE by JOHN SIMON
- PLACING MOVIES by JONATHON ROSENBAUM
- RIGHT FROM THE BEGINNING by PATRICK J BUCHANAN
Saya Korban 'Tulah' Buku
Buku memang memiliki kekuatan dalam membentuk pemikiran seseorang.
Konon, ketika buku masih merupakan buku langka, ketika Guttenberg belum
menemukan mesin cetak, hanya orang-orang tertentu dan terpilih saja yang
bisa (boleh) memiliki buku. Injil hanya bisa dimiliki oleh para
petinggi gereja katolik, Al Quran masih mengandalkan hapalan-hapalan
syaikh (guru). Kitab-kitab ditulis di atas berbagai media (kulit, daun
kering, bambu, papan, kain dan bahkan pada batu-batu yang dipahat).
‘Tulah’ buku-buku tersebut seampuh apa yang terkandung di dalamnya.
Buku-buku kemudian mengalami masa transformasi dan ketika mesin cetak
ditemukan Guttenberg, buku-buku mulai diproduksi secara massal dimulai
dengan pencetakan Injil, yang mengawali reformasi protestan di Jerman
(Injil ini kemudian dinamai Injil Guttenberg).
Meski mengalami proses transformasi yang sedemikian pesatnya, ‘tulah’
buku tak pernah hilang, meski kini dimaknai secara berbeda. Buku-buku
adalah katalisator dalam evolusi kesadaran manusia. Buku-bukulah yang
telah melahirkan revolusi komunisme Mao di China dan Lenin dan Uni
Sovyet. Buku-bukulah yang mendasari pembantaian Hitler atas kaum Yahudi.
Dan buku-buku pulalah yang mentransformasi pemikiran saya, seorang awam
yang sedikit maniak pada buku.
Buku-buku memang telah banyak mengubah per-kehidupan saya dan saya
yakin, siapa pun juga di dunia ini, termasuk anda.
Saya masih ingat sejumlah buku yang telah merubah sudut pandang saya
dengan sangat ekstrim. Satu di antaranya karangan Asghar Ali Engineer
berjudul “Islam dan Teologi Pembebasan”. Engineer adalah seorang tokoh
muslim moderat asal India yang juga dekat Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dalam hal pemikiran, kedua tokoh ini memang memiliki persamaan pemikiran
yang memandang Islam secara inklusive.
Senin, 25 April 2011
Mbah Hasyim: Sang Akar Toleransi dan Pluralisme Islam Indonesia
Judul Buku : HADRATAUSSYAIKH HASYIM ASY’ARI
MODERASI, KEUMATAN, DAN KEBANGSAAN
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : KOMPAS Penerbit Buku
Tahun Terbit : 2010 (Januari)
Ketika Abdurrahman Wahid alias Gus Dur didera berbagai persoalan yang membuat para petinggi Nahdlatul Ulama (NU) gerah dan menuntutnya harus melepaskan jabatannya sebagai Ketua NU, ia tetap tak bergeming. Meski begitu banyak ‘dosa-dosa’ yang telah diperbuatnya—puncaknya ketika ia menerima bantuan dari Yayasan SDSB—tak ada yang benar-benar berani memaksanya melepaskan jabatan dan bahkan belakangan memaafkan ‘kenakalan’ tersebut.
Bagaimana Gus Dur bisa seperkasa itu, meski dosa-dosa yang dilakukannya sepertinya tak termaafkan?
Semua itu karena dialah sang pemilik darah biru NU, cucu dari salah satu tokoh Islam terbesar Indonesia yang telah membidani kelahiran NU pada tahun 1926, yaitu KH Hasyim Asy’ari atau Hadrataussyaikh Hasyim Asy’ari. Atas nama kebesaran nama kakeknya inilah Gus Dur menjadi sedikit ‘leluasa’ dalam menciptakan seluruh ‘huru-hara’ yang ditimbulkannya, yang belakangan tidak hanya di NU sebagai institusi keagamaan yang dipimpinnya, tapi juga secara luas di negara ini.
KH Hasyim Asy’ari atau di kalangan keluarga dan santrinya dipanggil Mbah Hasyim atau Kiai Hasyim memang bukanlah tokoh sembarangan. Perannya diakui tidak hanya dalam membesarkan Islam di tanah air di masanya. Konon, penerimaan umat Islam terhadap kepemimpinan Soekarno – Hatta di awal kemerdekaan tak terlepas dari rekomendasinya. Diceritakan bahwa menjelang proklamasi kemerdekaan, Maruto Nitimiharjo, tokoh Murba, diutus oleh pemerintah militer Jepang untuk sowan ke Mbah Hasyim di Tebuireng. Mbah Hasyim ditawari menjadi Presiden RI. Tawaran ini ditolaknya dengan alasan bahwa dia hanyalah seorang Kiai yang tugasnya adalah mendidik santri di pesantren. Ketika ditanya siap tokoh yang tepat untuk menjadi presiden, ia menjawab bahwa menurut putranya Abdul Wahid Hasyim, tokoh yang tepat adalah Soekarno dan Hatta sebagai wakilnya.
Mbah Hasyim memang tidak menjadi presiden. Posisi yang sejak semula harus diembannya itu justru diduduki kemudian hari oleh cucunya, KH Abdurrahman Wahid. Tokoh fenomenal yang banyak berkontribusi bagi perkembangan demokrasi dan pluralisme di Indonesia.
Riwayat Mbah Hasyim memang tak begitu banyak diketahui orang, selain melalui sejumlah buku-buku yang diterbitkan terbatas di kalangan warga NU. Namun catatan sejarah kemudian menunjukkan betapa peran seorang Mbah Hasyim tidak hanya dalam membangun ikatan keumatan di zamannya. Ia juga telah melahirkan seorang KH Wahid Hasyim, Menteri Agama di awal kemerdekaan sekaligus tokoh utama di balik kemerdekaan RI, dan kemudian melahirkan KH Abdurrahman Wahid yang kepopulerannya bahkan melebihi nama besar kakek dan ayahnya.
KH Hasyim lahir di Jombang, 14 Februari 1871. Keluarganya dikenal sebagai keluarga ulama kharismatik. Ayahnya, Kiai Asy’ari adalah seorang ulama asal Demak dan kakeknya, Kiai Usman adalah pendiri pesantren Gedang, Jombang.
Saat masih dalam kandungan, Nyai Halimah, ibunya, melihat tanda-tanda yang luar biasa. Pada suatu malam, ia bermimpi bulan jatuh dari langit dan hinggap di kandungannya. Tanda-tanda lainnya, ketika masih berada dalam kandungan ibunya lebih kurang 14 bulan, ia diramalkan akan menjadi tokoh besar, dan ramalan itu memang terbukti di kemudian hari.
Nenek moyangnya juga sangat istimewa. Dari garis keturunan ayah, ia seorang kiai yang mempunyai pertalian darah dengan Maulana Ishaq hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqir. Dari ibunya ia mempunyai pertalian darah dengan Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang mempunyai anak bernama Jaka Tingkir atau Krebet, yang merupakan raja Pajang pertama dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.
Menurut Zuhairi Misrawi dalam buku ini, Kiai Hasyim merupakan sosok penting karena dua hal. Pertama, Kiai Hasyim merupakan ulama yang secara konsisten menggusung faham Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu faham keagamaan yang dalam aqidah berpegang pada teologi al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah. Paham ini merupakan karakter terlama dan terpopuler yang dianut oleh umat Islam di seluruh dunia. Paham ini dianggap melestarikan mata rantai keulamaan dan keilmuan dalam khazanah Islam.
Kedua, dia adalah salah satu pendiri NU bersama dengan sejumlah ulama pesantren lainnya. NU sendiri kini merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dengan keanggotaan diperkirakan mencapai 40-an juta orang. NU sebagai organisasi berbasis masyarakat pesantren atau kalangan santri, khususnya di Jawa Timur jga telah melahirkan ribuan kader terbaik, tidak hanya mumpuni di bidang keagamaan, namun juga dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam konteks ini akan sangat tak terhitung bagaimana peran seorang Kiai Hasyim dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa, dimana semua pemikiran-pemikirannya masih menjadi rujukan penting hingga setengah abad dari kematiannya dan akan terus berlanjut.
Warisan terpenting yang ditransmisikannya, baik pada anaknya KH Wahid Hasyim, kemudian pada cucunya KH Abdurrahman Wahid adalah sikap moderat dan penghargaannya pada perbedaan. Kiai Hasyim diyakini telah menyelamatkan bangsa ini dari ancaman puritanisme, yang pada akhirnya melahirkan sikap keagamaan yang ekstrim. Istilah moderat ini sendiri, sebagaimana dikatakan Khaled Abou el Fadle dalam the Great Theft: Westling from The Ekstrimists, adalah faham yang mengambil jalan tengah, yaitu tidak berada di ekstrem kanan atau kiri. Ini merujuk pada firman Allah dalam Alquran Surah Albaqarah: 143, “Dan kami telah jadikan kalian sebagai umat yang moderat.”
Sikap toleransi Kiai Hasyim dapat dilihat ketika suatu ketika terjadi polemik antara dirinya dengan Kiai Faqih dari Gresik terkait penggunaan kentongan untuk alat memanggil sholat. Kiai Hasyim sendiri menolak penggunaan kentongan ini dengan argumen kuat, yang kemudian disanggah oleh Kiai Faqih. Menurut Kiai Faqih kentongan sebagai alat pemanggilan sholat tidak masalah karena fungsinya sama dengan beduk. Kiai Hasyim pun kemudian memanggil para kiai di Jombang dan memberitahukan bahwa kentongan dapat digunakan sebagai alat pemanggilan sholat, kecuali di Pesantren Tebu Ireng, pesantren yang dipimpinnya. Sikap toleransi ini kemudian ditiru oleh Kiai Faqih, ketika dalam suatu kunjungan Kiai Hasyim ke daerahnya ia memerintahkan tak ada bunyi kentongan untuk memanggil sholat di setiap masjid ketika Kiai Hasyim masih berada di daerah itu (Sobari, 2010.
Meski demikian, sikap moderat ini tidaklah berarti harus rela berada dalam penindasan dan kesewenang-wenangan. Ini ditunjukkan Kiai Hasyim tatkala ia mengeluarkan fatwa perlawanan terhadap Belanda. Fatwa tersebut terdiri dari tiga butir. Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dan mengikat dilaksanakan oleh seluruh umat Islam Indonesia. Kedua, kaum Muslimin dilarang menggunakan kapal Belanda selama menunaikan ibadah haji ke Belanda. Ketiga, kaum muslimin dilarang menggunalkan pakaian atau atribut yang menyerupai penjajah.
Kiai Hasyim juga menolak melakukan saikerei, kewajiban memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketundukan pada Dewa Matahari, meski sikap pembangkangannya ini kemudian mendapat ‘ganjaran’ penjara.
Pada akhirnya, memahami NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia takkan pernah lengkap tanpa memahami sikap, perilaku dan pemikiran Kiai Hasyim, diibaratkan bahwa Kiai Hasyim adalah NU besar sedangkan NU secara organisasi sendiri hanyalah NU kecil. Idiom yang juga dilekatkan pada diri cucunya KH Abdurrahman Wahid yang diyakini sebagai prototype dirinya dalam hal pemikiran yang toleran dan menghargai perbedaan.
Buku setebal 374 halaman ini, sebagaimana dikemukakan DR.H.Nadirsyah Hosen, dalam pengantarnya, memberi pemahaman yang penting akan perjalanan hidup dan pemikiran Kiai Hasyim. Di antaranya, pertama, tidak banyak diketahui orang luar pesantren bahwa Kiai Hasyim adalah pakar hadis. Ini sangat penting karemna selama ini NU dicurigai, khususnya dari kalangan Salafi, bahwa mereka tidak peduli pada hadis tapi hanya pada pendapat ulama.
Kedua, memberikan informasi akan aktvitas pengajaran Kiai Hasyim tidak hanya di tanah air, namun juga pernah menjadi guru di Masjidil Haram di masanya, yang menunjukan kedalaman pengetahuan dan kesalehannya. Selama mengajar di Masjidil Haram, Kiai Hasyim mempunyai sejumlah murid, antara lain Syaikh Sa’dullah al-Maimani (mufti India), Syaikh Umar Hamdan (ahli hadis di Mekkah), al-Syihab Ahmad bin Abdullah (Suriah), KH.Wahab Hasbullah (Jombang), KHR.Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH.Bisri Syansuri (Jombang) dan KH. Shaleh (Tayu).
Ketiga, sisitem madrasah yang dirintis oleh Pesantren Tebuireng dengan mengajarkan ilmu-ilmu sekuler, selain ilmu-ilmu agama, telah melahirkan sejumlah cendikiawan muslim yang tidak hanya mampu menguasai kitab kuning, tapi juga bidang lainnya.
Ibaratnya dia adalah sumber mata air, yang peranannya tidak hanya berkontribusi bagi pengembangan umat Islam namun juga bagi bangsa ini secara umum. Ibarat sebuah pohon, maka Kiai Hasyim adalah akar bagi sikap toleransi dan pluralisme, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia Islam pada umumnya. [ ]
Kamis, 21 April 2011
Napoleon Bonaparte: Si Kecil Kutu Buku Penakluk Eropa
Resensi Buku:
Judul : Napoleon: Sang Maha Hebat Pencipta Sejarah
Judul Asli : Napoleon
Penulis : Felix Markham
Penerjemah : Fauzi Iqbal
Editor : Suminaring Prasojo
Penerbit : IRCiSod
Tahun Terbit : Oktober 2009
Cetakan : Pertama
Jumlah Hal : 455
Peresensi : Wahyu Chandra
Siapa yang tak mengenal Napoleon Bonaparte, tokoh yang begitu populer dalam sejarah sehingga oleh Mikchael Hart dicantumkan sebagai urutan ke-34 dari ‘Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia. Setelah ratusan tahun lamanya Perancis dipimpin oleh raja-raja, Napoleon Bonaparte merupakan pemimipin Perancis pertama yang bergelar Kaisar (the emperor of French), ia memerintah pada tahun 1804-1814 dan 1815.
Begitu banyak buku yang ditulis menceritakan berbagai sisi hidup sang Kaisar, bahkan salah satu buku ditulis berdasarkan pandangan istrinya, Josephine. Beberapa buku secara kontraversial juga menulis tentang Napoleon sebagai seorang Muallaf, seperti yang dipaparkan David M. Pidcock dalam sebuah bukunya yang mengutip kembali berita sebuah surat kabar resmi Perancis, Le Moniteur, yang menyebut tentang keislaman Napoleon pada 2 Juli 1798. Terjadi hampir 23 tahun sebelum meninggal dunianya pada 1821.
Salah satu buku yang secara detil menceritakan biogarfi politik Napoleon adalah yang di tulis oleh Felix Markham, yang ditulis pada tahun 1960-an berjudul “Napoleon”, yang di Indonesia baru beredar pada tahun 2009 dengan judul “Napoleon: Sang Manusia Hebat Pencipta Sejarah.”
Buku, yang dalam versi Indonesia setebal 455 halaman ini, menceritakan secara detil kehidupan dan perkembangan karir militer dan politik seorang kopral kecil atau ”Le petit caporal”, hingga menjadi satu-satunya kaisar Prancis, yang wilayah kekuasaannya pernah hampir menguasai seluruh Eropa bahkan mencakup Asia Barat, termasuk Mesir dan Palestina.
Napoleon lahir dari keluarga petani anggur di Ajaccio (Aiacciu) atau disebut Ajax dalam bahasa Latin di Pulau Corsica yang terletak di bagian tenggara Prancis pada 15 Agustus 1769. Pulau Corsica berada di bawah jajahan Prancis yang merupakan pulau keempat terbesar setelah Pulau Sicily, Sardinia dan Cyprus di Laut Mediterranean. Waktu masih bayi ia sering sakit-sakitan karena ketika menjelang kelahirannya ibunya tinggal di pegunungan sebagai seorang pengungsi.
Ayah Napoleon, Carlo Buonoparte, adalah salah satu letnan pengikut Paoli dalam perang gerilya melawan Prancis. Ia dibaptis dengan nama saudara sepupunya yang gugur dalam peperangan tersebut. Verifikasi resmi tentang garis keturunannya menunjukkan bahwa Carlo, ayah Napoleon, berasal dari Fiorentine, Italia, yang bisa ditelusuri hingga abad kesebelas dan kemudian menjadi warga Corsica sejak dua ratus tahun sebelumnya. Ibunda Napoleon, Marie Letizia Ramolino, adalah anak seorang insinyur sipil. Menikah di usia 14 tahun Letizia melahirkan 13 anak, meski hanya 8 yang bertahan hidup hingga dewasa, yaitu Joseph, Napoleon, Lucien, Elisa, Louis, Pauline, Caroline dan Jarome.
Ketika sekolah ia sering menjadi olokan teman-temannya karena logat bahasanya yang berbeda dengan kebanyakan teman-temannya. Ia seorang penyendiri, jago matematika dan gemar membaca (kutu buku). Seorang gurunya bahkan mengakui kemampuan matematika Napoleon kecil yang jauh melebihi teman-temannya.
Kopral Kecil (”Le petit caporal”) –demikian julukannya karena bertubuh pendek dibanding rata-rata orang Eropa– mengawali karir militer dengan menjadi perwira artileri. Ia kemudian berhasil memadamkan pemberontakan terhadap Konvensi Nasional di Paris pada tahun 1795. Dalam penaklukan Italia dari 1796 hingga 1797, Napoleon mengalahkan pasukan Austria yang saat itu menguasai sebagian Italia. Akan tetapi, upaya menaklukkan Mesir kandas setelah armadanya dilumpuhkan oleh armada Inggris di bawah Laksamana Nelson pada 1798. Walau begitu, di mata rakyat Prancis, Napoleon adalah pahlawan dan diharapkan mengembalikan kejayaan negaranya yang memudar akibat ketamakan Raja Louis XIV dengan semboyannya: “L`Etat Cest Moi” atau “Negara adalah Saya”.
Setelah dukungan rakyat dan prajurit berada di genggaman tangan, Napoleon pun menggulingkan pemerintah Prancis pada 1799. Napoleon menjadi Konsul Pertama dan mengangkat dirinya sebagai kaisar. Sedangkan jasa yang terbesar bagi negaranya adalah kodifikasi hukum yang dikenal sebagai Code Napoleon–yang hingga kini masih menjadi dasar hukum Prancis.
Peperangan demi peperangan dimenangkan Napoleon dengan gemilang pada rentang 1800 hingga 1808. Dengan enteng pula Napoleon menentukan batas-batas negara yang tentunya menguntungkan pihak Prancis. Kegemilangan Napoleon memang tak terlepas dari sejumlah strategi jitu yang diterapkan. Sukses Napoleon di medan perang jelas mengangkat Prancis menjadi kekuatan utama di Eropa, sekalipun penyerbuannya ke Rusia pada 1812 mengalami kegagalan. Namun, dua tahun kemudian, arus balik menghantam Napoleon. Ia beserta pasukannya mulai menderita kekalahan demi kekalahan. Napoleon akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Elba, bagian barat Samudra Pasifik.
Akan tetapi, Napoleon dengan bantuan sejumlah pendukung setianya berhasil melarikan diri. Berita lolosnya Sang Kaisar, membuat ribuan prajurit Napoleon yang setia kembali menyiapkan senjata. Mereka pun menyambut gembira kedatangan Napoleon di Prancis. Tak lama kemudian, Napoleon kembali menabuh genderang perang dan maju ke medan laga melawan pasukan koalisi pimpinan Inggris dan Austria.
Sebagai seorang yang berasal dari keluarga dan daerah yang miskin, Napoleon tak pernah malu mengakuinya. Hal ini tercermin ketika menjabat sebagai kaisar, salah satu perwiranya mempersoalkan keputusannya mengangkat para anggota the ancienne noblesse, ia berkata, “Apakah saya seorang keturunan bangsawan? Saya adalah seorang keturunan Corsica yang miskin.” Hingga akhir hayatnya ia tetap menjaga kesetiaan dan kode etik keluarga yang menjad ciri khas karakter orang Corsica.
Kaisar Perancis yang sempat menikmati masa-masa kejayaan dengan menguasai hampir seluruh daratan Eropa itu dikucilkan di pulau terpencil di Samudera Atlantik bagian selatan. Enam tahun kemudian, Bonaparte menghembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun.
Sebagai seorang pemikir yang brilian, Napoleon mengaku memiliki teoi-teori yang amat penting mengenai seni memerintah, yang cukup sering ia tularkan ke saudara-saudaranya—pengusaan mutlak, pengawasan terus-menerus, dan menebarkan ketakutan, “Baik di luar maupun di dalam istana, satu-satunya cara memerintah ialah dengan menebarkan rasa takut,” katanya. Kepada sekretarisnya, Fain, Napoleon menjelaskan bahwa kemarahannya sering kali adalah sesuatu yang sudah dperhitungkan untuk menebarkan rasa takut, “Jika tidak mereka akan menemuiku untuk menggigitku,” ungkapnya.
Kekuatan karakter dengan menebarkan rasa takut untuk ketaatan memang menjadi karakter politik Napoleon, yang membuatnya mampu membangun kesetiaan dari para pendukungnya dan sebaliknya membuat ‘keder’ musuh-musuhnya. Tak henti-hentinya ia mengingatkan orang-orang terdekatnya untuk menggunakan metode ini dalam mencapai suatu kekuasaan mutlak. Kepada adiknya Louis, yang menjadi Raja Holland, ia menjelaskan, “Seorang penguasa yang dianggap baik di tahun pertama kekuasaannya adalah seorang pangeran yang dicaci maki di tahun kedua kekuasaannya. Dalam hal ini, mungkin ia sepakat dengan Thomas Hobbes, penulis buku Leviathan, bahwa “Kedermawanan sanga jarang ditemukan beriringan, terutama bagi para pemburu kekayaan, kekuasaan, dan seks yang merupakan porsi terbesar hasrat manusia. Hasratnya digantungkan pada ketakutan.”
Napoleon, sebagaimana dijelaskan buku ini, dikenal memiliki disiplin yang tinggi, di samping keberanian dan kedekatannya dengan seluruh pasukannya. Inspeksi yang dlakukan secara rutin dan kehadirannya di medan pertempuran membuat Napoleon mampu mencapai kontak personal yang luar biasa dengan seluruh pasukannya, khususnya dengan pasukan gardanya. Duke of Wellington, bangsawan Inggris musuh bebuyutan Napoleon, menghitung efek moral kehadiran Naopelon bersama pasukan gardanya setara dengan 40 ribu pasukan. Dalam pertempuran Essling pafa 1809, pasukan garda menolak bertempur, kecuali sang Kaisar memiliki posisi yang aman. Ini menunjukkan kecintaan besar para pasukannya pada sosok kontraversial ini. Contoh paling gamblang pengaruh Napoleon di kalangan para serdadunya adalah ketika ia hengkang dari Elba pada 1815. Sewaktu berjalan endiri menuju batalion yang dikirim untuk menangkap atau malah membunuhnya. Napoleon berteriak, “Bunuh saja kaisarmu, jika itu yang memang kalian inginkan.” Dan tak satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menembaknya, bahkan mereka berpencar mengelilingi dan menyanjungnya.
Membaca buku yang bercerita dengan gaya novel secara menarik ini memberi sebuah pencerahan baru, dan bisa menjadi rujukan yang berarti dalam dunia politik, bagaimana kemunculan seorang elit dan bahkan menjadi tokoh besar sepanjang masa, yang ditakuti sekaligus dihormati oleh kawan dan lawan-lawannya bukan semata merupakan produk dari kebangsawanan, keturunan, kekayaan dan kekuatan secara fisik belaka. Sebagaimana ditulis dalam buku ini, nenek moyang Napoleon adalah keturunan Italia yang kemudian berimigrasi ke Corsica, yang kemudian menjadi jajahan Prancis. Ayahnya bahkan pernah menjadi bagian dari pasukan yang melawan kekuasaan Prancis, negara yang kemudian dipimpinnya. Keluarganya hidup dari hasil pertanian dari daerah Corsica yang tidak begitu diperhitungkan secara politik di Prancis. Ia juga memiliki postur tubuh yang kecil, sehingga dijuluki Kopral Kecil dan di masa kecilnya sering sakit-sakitan karena harus hidup di pengungsian. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan membaca, yang terus berlanjut hingga menjadi kaisar, sehingga kemana pun ia berada setumpuk buku akan selalu menyertainya. Secara tipikal ia tidak termasuk dalam sosok yang patut menjadi seorang pemimpin.
Kelebihan utama yang kemudian menjadi modal bagi kesuksesan kariernya adalah kecerdasan, kecerdikan, keberanian, kenekatan, integritas dan kemampuannya untuk memahami karakter orang lain. Dengan pemahaman inilah ia kemudian menyadari bahwa salah satu cara dalam menguasai orang lain, khususnya musuh-musuhnya, adalah dengan menebarkan rasa takut. Dengan rasa takut inilah ia mampu mengatur ritme kekuasaannya dan menebarkan ideologi-ideologi dan pemikiran-pemikirannya ke seantero Eropa. Gaya hidup yang sederhana juga bisa menjadi model kepemimpinan yang patut diteladani dari diri seorang Napoleon. Ia dikenal sangat sederhana dalam hal penampilan dan gaya hidup, sangat kontras dengan kehidupan bangsawan pada zamannya.
Judul : Napoleon: Sang Maha Hebat Pencipta Sejarah
Judul Asli : Napoleon
Penulis : Felix Markham
Penerjemah : Fauzi Iqbal
Editor : Suminaring Prasojo
Penerbit : IRCiSod
Tahun Terbit : Oktober 2009
Cetakan : Pertama
Jumlah Hal : 455
Peresensi : Wahyu Chandra
Siapa yang tak mengenal Napoleon Bonaparte, tokoh yang begitu populer dalam sejarah sehingga oleh Mikchael Hart dicantumkan sebagai urutan ke-34 dari ‘Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia. Setelah ratusan tahun lamanya Perancis dipimpin oleh raja-raja, Napoleon Bonaparte merupakan pemimipin Perancis pertama yang bergelar Kaisar (the emperor of French), ia memerintah pada tahun 1804-1814 dan 1815.
Begitu banyak buku yang ditulis menceritakan berbagai sisi hidup sang Kaisar, bahkan salah satu buku ditulis berdasarkan pandangan istrinya, Josephine. Beberapa buku secara kontraversial juga menulis tentang Napoleon sebagai seorang Muallaf, seperti yang dipaparkan David M. Pidcock dalam sebuah bukunya yang mengutip kembali berita sebuah surat kabar resmi Perancis, Le Moniteur, yang menyebut tentang keislaman Napoleon pada 2 Juli 1798. Terjadi hampir 23 tahun sebelum meninggal dunianya pada 1821.
Salah satu buku yang secara detil menceritakan biogarfi politik Napoleon adalah yang di tulis oleh Felix Markham, yang ditulis pada tahun 1960-an berjudul “Napoleon”, yang di Indonesia baru beredar pada tahun 2009 dengan judul “Napoleon: Sang Manusia Hebat Pencipta Sejarah.”
Buku, yang dalam versi Indonesia setebal 455 halaman ini, menceritakan secara detil kehidupan dan perkembangan karir militer dan politik seorang kopral kecil atau ”Le petit caporal”, hingga menjadi satu-satunya kaisar Prancis, yang wilayah kekuasaannya pernah hampir menguasai seluruh Eropa bahkan mencakup Asia Barat, termasuk Mesir dan Palestina.
Napoleon lahir dari keluarga petani anggur di Ajaccio (Aiacciu) atau disebut Ajax dalam bahasa Latin di Pulau Corsica yang terletak di bagian tenggara Prancis pada 15 Agustus 1769. Pulau Corsica berada di bawah jajahan Prancis yang merupakan pulau keempat terbesar setelah Pulau Sicily, Sardinia dan Cyprus di Laut Mediterranean. Waktu masih bayi ia sering sakit-sakitan karena ketika menjelang kelahirannya ibunya tinggal di pegunungan sebagai seorang pengungsi.
Ayah Napoleon, Carlo Buonoparte, adalah salah satu letnan pengikut Paoli dalam perang gerilya melawan Prancis. Ia dibaptis dengan nama saudara sepupunya yang gugur dalam peperangan tersebut. Verifikasi resmi tentang garis keturunannya menunjukkan bahwa Carlo, ayah Napoleon, berasal dari Fiorentine, Italia, yang bisa ditelusuri hingga abad kesebelas dan kemudian menjadi warga Corsica sejak dua ratus tahun sebelumnya. Ibunda Napoleon, Marie Letizia Ramolino, adalah anak seorang insinyur sipil. Menikah di usia 14 tahun Letizia melahirkan 13 anak, meski hanya 8 yang bertahan hidup hingga dewasa, yaitu Joseph, Napoleon, Lucien, Elisa, Louis, Pauline, Caroline dan Jarome.
Ketika sekolah ia sering menjadi olokan teman-temannya karena logat bahasanya yang berbeda dengan kebanyakan teman-temannya. Ia seorang penyendiri, jago matematika dan gemar membaca (kutu buku). Seorang gurunya bahkan mengakui kemampuan matematika Napoleon kecil yang jauh melebihi teman-temannya.
Kopral Kecil (”Le petit caporal”) –demikian julukannya karena bertubuh pendek dibanding rata-rata orang Eropa– mengawali karir militer dengan menjadi perwira artileri. Ia kemudian berhasil memadamkan pemberontakan terhadap Konvensi Nasional di Paris pada tahun 1795. Dalam penaklukan Italia dari 1796 hingga 1797, Napoleon mengalahkan pasukan Austria yang saat itu menguasai sebagian Italia. Akan tetapi, upaya menaklukkan Mesir kandas setelah armadanya dilumpuhkan oleh armada Inggris di bawah Laksamana Nelson pada 1798. Walau begitu, di mata rakyat Prancis, Napoleon adalah pahlawan dan diharapkan mengembalikan kejayaan negaranya yang memudar akibat ketamakan Raja Louis XIV dengan semboyannya: “L`Etat Cest Moi” atau “Negara adalah Saya”.
Setelah dukungan rakyat dan prajurit berada di genggaman tangan, Napoleon pun menggulingkan pemerintah Prancis pada 1799. Napoleon menjadi Konsul Pertama dan mengangkat dirinya sebagai kaisar. Sedangkan jasa yang terbesar bagi negaranya adalah kodifikasi hukum yang dikenal sebagai Code Napoleon–yang hingga kini masih menjadi dasar hukum Prancis.
Peperangan demi peperangan dimenangkan Napoleon dengan gemilang pada rentang 1800 hingga 1808. Dengan enteng pula Napoleon menentukan batas-batas negara yang tentunya menguntungkan pihak Prancis. Kegemilangan Napoleon memang tak terlepas dari sejumlah strategi jitu yang diterapkan. Sukses Napoleon di medan perang jelas mengangkat Prancis menjadi kekuatan utama di Eropa, sekalipun penyerbuannya ke Rusia pada 1812 mengalami kegagalan. Namun, dua tahun kemudian, arus balik menghantam Napoleon. Ia beserta pasukannya mulai menderita kekalahan demi kekalahan. Napoleon akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Elba, bagian barat Samudra Pasifik.
Akan tetapi, Napoleon dengan bantuan sejumlah pendukung setianya berhasil melarikan diri. Berita lolosnya Sang Kaisar, membuat ribuan prajurit Napoleon yang setia kembali menyiapkan senjata. Mereka pun menyambut gembira kedatangan Napoleon di Prancis. Tak lama kemudian, Napoleon kembali menabuh genderang perang dan maju ke medan laga melawan pasukan koalisi pimpinan Inggris dan Austria.
Sebagai seorang yang berasal dari keluarga dan daerah yang miskin, Napoleon tak pernah malu mengakuinya. Hal ini tercermin ketika menjabat sebagai kaisar, salah satu perwiranya mempersoalkan keputusannya mengangkat para anggota the ancienne noblesse, ia berkata, “Apakah saya seorang keturunan bangsawan? Saya adalah seorang keturunan Corsica yang miskin.” Hingga akhir hayatnya ia tetap menjaga kesetiaan dan kode etik keluarga yang menjad ciri khas karakter orang Corsica.
Kaisar Perancis yang sempat menikmati masa-masa kejayaan dengan menguasai hampir seluruh daratan Eropa itu dikucilkan di pulau terpencil di Samudera Atlantik bagian selatan. Enam tahun kemudian, Bonaparte menghembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun.
Sebagai seorang pemikir yang brilian, Napoleon mengaku memiliki teoi-teori yang amat penting mengenai seni memerintah, yang cukup sering ia tularkan ke saudara-saudaranya—pengusaan mutlak, pengawasan terus-menerus, dan menebarkan ketakutan, “Baik di luar maupun di dalam istana, satu-satunya cara memerintah ialah dengan menebarkan rasa takut,” katanya. Kepada sekretarisnya, Fain, Napoleon menjelaskan bahwa kemarahannya sering kali adalah sesuatu yang sudah dperhitungkan untuk menebarkan rasa takut, “Jika tidak mereka akan menemuiku untuk menggigitku,” ungkapnya.
Kekuatan karakter dengan menebarkan rasa takut untuk ketaatan memang menjadi karakter politik Napoleon, yang membuatnya mampu membangun kesetiaan dari para pendukungnya dan sebaliknya membuat ‘keder’ musuh-musuhnya. Tak henti-hentinya ia mengingatkan orang-orang terdekatnya untuk menggunakan metode ini dalam mencapai suatu kekuasaan mutlak. Kepada adiknya Louis, yang menjadi Raja Holland, ia menjelaskan, “Seorang penguasa yang dianggap baik di tahun pertama kekuasaannya adalah seorang pangeran yang dicaci maki di tahun kedua kekuasaannya. Dalam hal ini, mungkin ia sepakat dengan Thomas Hobbes, penulis buku Leviathan, bahwa “Kedermawanan sanga jarang ditemukan beriringan, terutama bagi para pemburu kekayaan, kekuasaan, dan seks yang merupakan porsi terbesar hasrat manusia. Hasratnya digantungkan pada ketakutan.”
Napoleon, sebagaimana dijelaskan buku ini, dikenal memiliki disiplin yang tinggi, di samping keberanian dan kedekatannya dengan seluruh pasukannya. Inspeksi yang dlakukan secara rutin dan kehadirannya di medan pertempuran membuat Napoleon mampu mencapai kontak personal yang luar biasa dengan seluruh pasukannya, khususnya dengan pasukan gardanya. Duke of Wellington, bangsawan Inggris musuh bebuyutan Napoleon, menghitung efek moral kehadiran Naopelon bersama pasukan gardanya setara dengan 40 ribu pasukan. Dalam pertempuran Essling pafa 1809, pasukan garda menolak bertempur, kecuali sang Kaisar memiliki posisi yang aman. Ini menunjukkan kecintaan besar para pasukannya pada sosok kontraversial ini. Contoh paling gamblang pengaruh Napoleon di kalangan para serdadunya adalah ketika ia hengkang dari Elba pada 1815. Sewaktu berjalan endiri menuju batalion yang dikirim untuk menangkap atau malah membunuhnya. Napoleon berteriak, “Bunuh saja kaisarmu, jika itu yang memang kalian inginkan.” Dan tak satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menembaknya, bahkan mereka berpencar mengelilingi dan menyanjungnya.
Membaca buku yang bercerita dengan gaya novel secara menarik ini memberi sebuah pencerahan baru, dan bisa menjadi rujukan yang berarti dalam dunia politik, bagaimana kemunculan seorang elit dan bahkan menjadi tokoh besar sepanjang masa, yang ditakuti sekaligus dihormati oleh kawan dan lawan-lawannya bukan semata merupakan produk dari kebangsawanan, keturunan, kekayaan dan kekuatan secara fisik belaka. Sebagaimana ditulis dalam buku ini, nenek moyang Napoleon adalah keturunan Italia yang kemudian berimigrasi ke Corsica, yang kemudian menjadi jajahan Prancis. Ayahnya bahkan pernah menjadi bagian dari pasukan yang melawan kekuasaan Prancis, negara yang kemudian dipimpinnya. Keluarganya hidup dari hasil pertanian dari daerah Corsica yang tidak begitu diperhitungkan secara politik di Prancis. Ia juga memiliki postur tubuh yang kecil, sehingga dijuluki Kopral Kecil dan di masa kecilnya sering sakit-sakitan karena harus hidup di pengungsian. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan membaca, yang terus berlanjut hingga menjadi kaisar, sehingga kemana pun ia berada setumpuk buku akan selalu menyertainya. Secara tipikal ia tidak termasuk dalam sosok yang patut menjadi seorang pemimpin.
Kelebihan utama yang kemudian menjadi modal bagi kesuksesan kariernya adalah kecerdasan, kecerdikan, keberanian, kenekatan, integritas dan kemampuannya untuk memahami karakter orang lain. Dengan pemahaman inilah ia kemudian menyadari bahwa salah satu cara dalam menguasai orang lain, khususnya musuh-musuhnya, adalah dengan menebarkan rasa takut. Dengan rasa takut inilah ia mampu mengatur ritme kekuasaannya dan menebarkan ideologi-ideologi dan pemikiran-pemikirannya ke seantero Eropa. Gaya hidup yang sederhana juga bisa menjadi model kepemimpinan yang patut diteladani dari diri seorang Napoleon. Ia dikenal sangat sederhana dalam hal penampilan dan gaya hidup, sangat kontras dengan kehidupan bangsawan pada zamannya.
Rabu, 20 April 2011
8 Resep Kebangkitan China Naisbitt
Judul Buku : China’s Megatrends: 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China
Judul Asli : China’s Megatrends
Penulis : John and Doris Naisbitt
Penerjemah : Hendro Prasetyo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : I
Jumlah Hal : xxv+255
Peresensi : Wahyu Chandra
Pada tahun 1982, John Naisbitt menghebohkan dunia dengan karyanya berjudul Megatrends. Buku ini berada dalam daftar buku terlaris versi New York Times selama lebih dari dua tahun, dan secara global menikmati kesuksesan yang sangat luar biasa. Di China saja, buku ini terjual sebanyak 20 juta eksemplar. Bahkan boleh dikata buku itu telah menjadi motivasi tersendiri bagi kelompok masyarakat menengah ke atas di China. “Anda tak tahu betapa terkenalnya anda di China,” seloroh Presiden Jiang kepada Naisbitt, sebagaimana diceritakan Naisbitt dalam pengantar buku terbarunya “China’s Megatrends”.
China memang negara yang luar biasa dalam dua dekade terakhir ini. Negara berideologi politik komunis ini secara berani melakukan reformasi di bidang ekonomi dengan mengadopsi sistem ekonomi liberal. Suatu hal yang tabu bagi negara-negara penganut faham komunis. Uni Sovyet ketika mencoba melakukan hal yang sama tak berdaya menahan goncangan dan berakhir dengan ambruknya negara ini menjadi pecahan-pecahan, dan begitu sulit untuk bangkit kembali hingga saat ini.
China di saat yang sama menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, justru ketika negara-negara lain anjlok dilanda krisis global. China tidak hanya sukses secara pertumbuhan ekonomi, namun perlahan mampu menciptakan pemerataan pembangunan. Angka pengangguran negara ini perlahan menurun seiring dengan semakin terbukanya industri dan lapangan kerja. Korupsi pun berhasil ditekan seiring dengan kebijakan hukuman mati bagi pelaku korupsi. Tak ada yang pernah menyangka bahwa dalam kerangkeng sistem politik yang tertutup, masyarakat China justru menikmati tingkat kesejahteraan ekonomi yang luar biasa.
Menurut Naisbitt (h.xviii), China menciptakan masyarakat sosial dan ekonomi yang sama sekali baru dengan ‘budaya perusahaan’ yang melayani kebutuhan perusahaan serta orang-orangnya dalam alurnya sendiri menuju modernitas dan kesejahteraan. Deng (Deng Xiaoping), bapak China modern, sejak awal menciptakan pendekatan ala China untuk menyehatkan kembali China yang sakit. Hal ini, menurut Naisbitt, menimbulkan banyak perselisihan, baik di dalam maupun di luar negeri China, mengenai kesesuaian politisnya. Kesalahpahaman ini berasal dari interpretasi atas kata-kata mutiaranya yang terkenal, “Tidak perduli apakah kucing itu hitam atau putih, yang penting dia dapat menangkap tikus.”
Bagi Deng, lanjut Naisbitt, pertanyaannya bukan apakah komunisme atau kapitalisme yang terbaik bagi China; pertanyaan sebenarnya adalah mana yang efektif dan mana yang tidak bagi bangsa itu untuk meraih potensinya pada masa mendatang. Maka pertanyaan apakah China negara kapitalis berjubah komunis atau negara komunis berjubah kapitalis tidaklah benar. China bukan salah satunya, tetapi kedua-keduanya.
Naisbitt selanjutnya mengkritik cara pandang Barat selama ini. Menurutnya orang Barat suka memandang ‘reformasi dan pembukaan diri’ China menurut pola pikir Barat—dengan keyakinan bahwa model Barat adalah bentuk pemerintahan terbaik. Pendekatan ini dinilai hanya akan berujung pada kekecewaan dan harapan yang tidak realistis. Jawabannya bukan ideologi tetapi pada kinerja.
Kebangkitan China dan ketertinggalan Barat menurut Naisbitt bukanlah tanpa sebab. Menurut Naisbitt, Barat dengan senang hati mendukung esai Francis Fukuyama, “The End Of Histrory” (1989 dan 1992), saat dia menulis model demokrasi Barat mungkin adalah tahap final evolusi sosial budaya manusia dan bentuk akhir pemerintahan. Hal ini mengarahkan pada pemikiran ‘misionaris’ dan meningkatkan rasa keterpanggilan untuk mensejahterakan semua bangsa dengan nilai-nilai Barat tersebut. Namun apa yang dianggap sebagai ‘dukungan’ untuk mencapai tingkat evolusi Barat seringkali diterima negara-negara lain sebagai ‘ceramah’ belaka. China di sisi lain sangat menyadari bahwa dirinya baru setengah jalan sehingga masih perlu melakukan koreksi, perbaikan dan penambahan. Keyakinan inilah yang membentuk China menjadi masyarakat pembelajar, terbuka dengan semua teori atau praktik yang bermanfaat bagi tujuannya.
Pada akhirnya, dalam buku ini Naisbitt menjelaskan 8 pilar atau 'resep'yang membuat China mampu muncul sebagai negara tangguh di antara negara-negara lain, antara lain: 1) emansipasi pikiran, 2) penyeimbangan top-down dan bottom-up, 3) membingkai hutan dan membiarkan pepohonan tumbuh, 4) menyeberangi sungai dengan merasakan bebatuan, 5) persemaian artistik dan intelektual, 6) bergabung dengan dunia, 7) kebebasan dan keadilan, 8) dari medali emas olimpiade menuju hadiah nobel.
Kedelapan pilar inilah yang menggerakkan China dan menjadi sistem baru China. Meski Naisbitt mengakui Barat masih jauh di depan China namun menurutnya China sudah menjadi persaing setara di pasar global dan tengah menciptakan model politik tandingan bagi demokrasi modern Barat, yang sesuai dengan sejarah masyarakat China—seperti halnya Amerika menciptakan model yang sesuai dengan sejarah dan masyarakatnya lebih dari 2000 tahun lalu. []
Judul Asli : China’s Megatrends
Penulis : John and Doris Naisbitt
Penerjemah : Hendro Prasetyo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : I
Jumlah Hal : xxv+255
Peresensi : Wahyu Chandra
Pada tahun 1982, John Naisbitt menghebohkan dunia dengan karyanya berjudul Megatrends. Buku ini berada dalam daftar buku terlaris versi New York Times selama lebih dari dua tahun, dan secara global menikmati kesuksesan yang sangat luar biasa. Di China saja, buku ini terjual sebanyak 20 juta eksemplar. Bahkan boleh dikata buku itu telah menjadi motivasi tersendiri bagi kelompok masyarakat menengah ke atas di China. “Anda tak tahu betapa terkenalnya anda di China,” seloroh Presiden Jiang kepada Naisbitt, sebagaimana diceritakan Naisbitt dalam pengantar buku terbarunya “China’s Megatrends”.
China memang negara yang luar biasa dalam dua dekade terakhir ini. Negara berideologi politik komunis ini secara berani melakukan reformasi di bidang ekonomi dengan mengadopsi sistem ekonomi liberal. Suatu hal yang tabu bagi negara-negara penganut faham komunis. Uni Sovyet ketika mencoba melakukan hal yang sama tak berdaya menahan goncangan dan berakhir dengan ambruknya negara ini menjadi pecahan-pecahan, dan begitu sulit untuk bangkit kembali hingga saat ini.
China di saat yang sama menikmati pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, justru ketika negara-negara lain anjlok dilanda krisis global. China tidak hanya sukses secara pertumbuhan ekonomi, namun perlahan mampu menciptakan pemerataan pembangunan. Angka pengangguran negara ini perlahan menurun seiring dengan semakin terbukanya industri dan lapangan kerja. Korupsi pun berhasil ditekan seiring dengan kebijakan hukuman mati bagi pelaku korupsi. Tak ada yang pernah menyangka bahwa dalam kerangkeng sistem politik yang tertutup, masyarakat China justru menikmati tingkat kesejahteraan ekonomi yang luar biasa.
Menurut Naisbitt (h.xviii), China menciptakan masyarakat sosial dan ekonomi yang sama sekali baru dengan ‘budaya perusahaan’ yang melayani kebutuhan perusahaan serta orang-orangnya dalam alurnya sendiri menuju modernitas dan kesejahteraan. Deng (Deng Xiaoping), bapak China modern, sejak awal menciptakan pendekatan ala China untuk menyehatkan kembali China yang sakit. Hal ini, menurut Naisbitt, menimbulkan banyak perselisihan, baik di dalam maupun di luar negeri China, mengenai kesesuaian politisnya. Kesalahpahaman ini berasal dari interpretasi atas kata-kata mutiaranya yang terkenal, “Tidak perduli apakah kucing itu hitam atau putih, yang penting dia dapat menangkap tikus.”
Bagi Deng, lanjut Naisbitt, pertanyaannya bukan apakah komunisme atau kapitalisme yang terbaik bagi China; pertanyaan sebenarnya adalah mana yang efektif dan mana yang tidak bagi bangsa itu untuk meraih potensinya pada masa mendatang. Maka pertanyaan apakah China negara kapitalis berjubah komunis atau negara komunis berjubah kapitalis tidaklah benar. China bukan salah satunya, tetapi kedua-keduanya.
Naisbitt selanjutnya mengkritik cara pandang Barat selama ini. Menurutnya orang Barat suka memandang ‘reformasi dan pembukaan diri’ China menurut pola pikir Barat—dengan keyakinan bahwa model Barat adalah bentuk pemerintahan terbaik. Pendekatan ini dinilai hanya akan berujung pada kekecewaan dan harapan yang tidak realistis. Jawabannya bukan ideologi tetapi pada kinerja.
Kebangkitan China dan ketertinggalan Barat menurut Naisbitt bukanlah tanpa sebab. Menurut Naisbitt, Barat dengan senang hati mendukung esai Francis Fukuyama, “The End Of Histrory” (1989 dan 1992), saat dia menulis model demokrasi Barat mungkin adalah tahap final evolusi sosial budaya manusia dan bentuk akhir pemerintahan. Hal ini mengarahkan pada pemikiran ‘misionaris’ dan meningkatkan rasa keterpanggilan untuk mensejahterakan semua bangsa dengan nilai-nilai Barat tersebut. Namun apa yang dianggap sebagai ‘dukungan’ untuk mencapai tingkat evolusi Barat seringkali diterima negara-negara lain sebagai ‘ceramah’ belaka. China di sisi lain sangat menyadari bahwa dirinya baru setengah jalan sehingga masih perlu melakukan koreksi, perbaikan dan penambahan. Keyakinan inilah yang membentuk China menjadi masyarakat pembelajar, terbuka dengan semua teori atau praktik yang bermanfaat bagi tujuannya.
Pada akhirnya, dalam buku ini Naisbitt menjelaskan 8 pilar atau 'resep'yang membuat China mampu muncul sebagai negara tangguh di antara negara-negara lain, antara lain: 1) emansipasi pikiran, 2) penyeimbangan top-down dan bottom-up, 3) membingkai hutan dan membiarkan pepohonan tumbuh, 4) menyeberangi sungai dengan merasakan bebatuan, 5) persemaian artistik dan intelektual, 6) bergabung dengan dunia, 7) kebebasan dan keadilan, 8) dari medali emas olimpiade menuju hadiah nobel.
Kedelapan pilar inilah yang menggerakkan China dan menjadi sistem baru China. Meski Naisbitt mengakui Barat masih jauh di depan China namun menurutnya China sudah menjadi persaing setara di pasar global dan tengah menciptakan model politik tandingan bagi demokrasi modern Barat, yang sesuai dengan sejarah masyarakat China—seperti halnya Amerika menciptakan model yang sesuai dengan sejarah dan masyarakatnya lebih dari 2000 tahun lalu. []
Langganan:
Postingan (Atom)






