Tampilkan postingan dengan label Islam Studies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Studies. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Lauren Booth: Adik Ipar Mantan PM Inggris Tony Blair yang Mualaf

Setelah membaca status seorang teman di facebook akan pertemuannya dengan Lauren Booth, adik ipar mantan PM Inggris, Tony Blair, yang menghebohkan publik Inggris dengan keputusannya untuk menjadi Mualaf (masuk Islam) pada Oktober tahun 2010 lalu, saya mencari di google perihal wanita aktifis Human Rights ini.

Lauren, yang bekerja untuk Press TV, televisi siaran Iran berbahasa Inggris, merupakan penentang vokal perang Irak. Pada Agustus 2008 dia pergi ke Gaza dengan kapal dari Siprus bersama 46 aktivis lainnya, untuk menyoroti blokade Israel atas Gaza. Dia kemudian ditolak masuk Israel dan Mesir.

Pada 2006, dia merupakan kontestan reality show ‘I am A Celebrity... Get Me Out Of Here!’ di ITV dan mendonasikan fee-nya ke lembaga amal Palestina.

Lauren Booth, memutuskan masuk Islam setelah mendapatkan ‘pengalaman suci’ di Iran. Penyiar dan jurnalis berusia 43 tahun itu menyatakan, sekarang dia mengenakan jilbab ketika keluar rumah, shalat 5 waktu sehari dan mengunjungi masjid bila ada kesempatan.

Dia memutuskan menjadi Muslimah setelah mengunjungi Masjid Fatima Al-Masumeh di Kota Qom, Iran.


“Saat itu Selasa petang dan saya duduk dan merasakan suntikan semangat spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita,” katanya seperti dilansir media Inggris, The Mail, Minggu (24/10/2010). Setelah dia kembali ke Inggris, dia memutuskan pindah keyakinan.

Menanggapi berbagai tudingan yang mengarah padanya tentang pilihannya menjadi Mualaf, ia menulis surat terbuka di Daily Mail akhir Oktober 2010 lalu, ini cuplikan suratnya:

Ditanya mengenai penjelasan singkat tentang bagaimana saya -- seorang jurnalis, orang tua tunggal yang juga wanita karier, bekerja di media Barat -- memilih agama ini, saya selalu menjelaskan tentang pengalaman spiritual paling intens di sebuah masjid di Iran sebulan lalu.

Tetapi, hal ini membawa saya menengok ke belakang, pada Januari 2005, ketika saya datang seorang diri ke Tepi Barat untuk meliput pemilu di sana yang nantinya diterbitkan di The Mail edisi Minggu. Asal Anda tahu, sebelum pergi ke sana, saya belum pernah menghabiskan waktu dengan seseorang berdarah Arab, atau seseorang beragama Islam.

Seluruh pengalaman mungkin akan sangat mengejutkan, namun bukan untuk alasan yang mungkin saya harapkan. Sangat banyak informasi yang kita tahu tentang orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad, walau belakangan saya sadari banyak yang bias.

Intinya, saya tetap terbang ke Timur Tengah, dengan beragam pikiran berkecamuk di kepala saya: ekstremis radikal, kaum fanatik, kawin paksa, bom bunuh diri, dan jihad. Tak banyak brosur perjalanan yang saya bawa.



Pertama menginjakkan kaki, saya datang tanpa mantel, karena otoritas bandara Israel menahan kopor saya. Saat berjalan di Ramallah, saya menggigil, sebelum kemudian seorang wanita tua mencengkeram tangan saya.

Berbicara tak jelas dalam bahasa Arab yang cepat, ia membawa saya masuk ke dalam rumah di sisi jalan. Oh, apakah saya tengah diculik oleh seorang teroris? Saya masih bingung dan bertanya-tanya, ketika ia membuka lemari pakaian dan menarik sebuah mantel, topi, dan scarf.

Saya keluar dari rumah itu dengan mengenakan mantel, topi, dan scaft pemberiannya. Ciuman wanita tua itu mengantarkan kehangatan pada perjalanan saya. Kami tak saling bertukar kata.

Kejadian itu sangat sulit saya lupakan. Dalam wujud yang berbeda, kehangatan yang sama saya dapatkan ratusan kali. Hal yang sungguh tak saya dapatkan dalam apapun yang telah saya baca sebelumnya, atau terlihat di artikel manapun.





Sejak itu, saya setidaknya beberapa kali pergi ke sana selama tiga tahun. Pertama kali saya pergi untuk urusan kerjaan, maka kali lain saya pergi untuk alasan yang berbeda: bergabung dengan relawan pembawa bantuan dan grup pro-Palestina. Saya merasa tertantang oleh kesulitan yang dialami Palestina. Penting untuk diingat, ada umat Kristen di Tanah Suci ini yang telah tinggal selama 2.000 tahun dan bahwa mereka juga menderita di bawah pendudukan ilegal Israel.

Secara bertahap saya menemukan ekspresi seperti 'Masya Allah!' dan 'Alhamdullilah!' (mirip dengan 'Haleluya'), dan itu mulai masuk dalam percakapan sehari-hari saya. Ini adalah seruan gembira yang berasal dari 100 nama Tuhan (maksudnya mungkin 99, red), atau Allah.

Dari semula saya selalu gugup bila berada di dekat kelompok Muslim, kini saya malah mencoba untuk mendekati mereka. Sebuah tantangan bisa ada di dekat kaum terpelajar, yang lebih di atas semua itu, adalah sangat ramah dan murah hati.

Sejak itu, saya tak ragu lagi untuk memulai perubahan pemahaman politik, bahwa sesungguhnya warga Palestina adalah sebuah keluarga yang hangat ketimbang tersangka teror, dan kaum Muslim adalah sebuah komunitas ketimbang serangkaian "Collateral Damage".

(OK, saya hentikan di sini dulu, karena saya harus shalat selama 10 menit. Sekarang pukul 01.30 PM. Ada lima kali waktu berdoa dalam Islam tiap hari, sepanjang tahun sejak terbit matahari hingga malam hari).

Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskupun, saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang Yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.

Mungkin apresiasi saya atas budaya Islam, terutama pada perempuan Muslim, yang menarik saya untuk mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di Inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan di belakang suami mereka, dengan anak-anak berbaju panjang di sekitar mereka.

Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional Eropa yang umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya, sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belahan dada saya. Ini seolah menjadi "jualan" utama kami.

Saat bekerja di dunia broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa: presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam untuk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik "serius" yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagian bentuk liber-ation? Saya mulai bertanya-tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan dalam masyarakat "bebas" kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi di sana, sebagian dari mereka mengenakan cadar. Mereka tetap tampak menawan, mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka semua bukan gadis yang pemalu, atau mereka akan segera dipaksa untuk menikah, seperti yang sering kita dengar di Barat.

Suatu waktu mereka menemani saya mewawancarai seorang syekh yang disebut-sebut dekat dengan milisi Hizbullah. Saya sangat terkejut ketika melihat bagaimana syekh itu memperlakukan pada gadis yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil yang mengenakan surban dan jubah cokelat berbicara tentang topik yang "menantang" -- tentang pertukaran tawanan -- mereka tergelitik untuk angkat bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan apapun, termasuk angkat tangan untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara.

Ada hal lain yang berubah kemudian dalam diri saya. Semakin banyak waktu saya habiskan di Timur Tengah, semakin sering saya minta diantar ke masjid. Hanya untuk kepentingan pesiar, begitu saya selalu meyakinkan pada diri saya. Walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekadar "wisata" belaka.

Bebas dari aneka patung dan bangku, saya melihat mereka duduk begitu saja dengan anak-anak bermain di sekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan wanita tua duduk di atas kursi roda mereka membaca Alquran. Mereka membawa "kehidupan" mereka ke masjid, dan membawa "masjid" ke dalam rumah-rumah mereka.

Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, di bawah kubah emas yang disebut Fatimah Mesumah (Fatimah Sang Teladan), sama seperti perempuan lainnya di sana, tiba-tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika memegang pagar makam Fatimah.

Ketika saya duduk, sebuah kenikmatan spiritual menyergap saya. Bukan kenikmatan yang seolah mengangkat kita dari tanah, tapi kenikmatan yang memberi kedamaian penuh. Saya duduk di sana untuk waktu yang lama. Seorang wanita muda di samping saya membisikkan, "Suatu keajaiban tengah terjadi pada Anda".

Ya, seketika saya tahu. Saya bukan lagi "turis dalam Islam", tapi telah menjadi umat, bagian dari komunitas Muslim, dan terkait dengan seluruh Muslimin.

Untuk pertama kalinya saya merasakan ingin lari dari situasi ini. Ada beberapa alasan; Apakan betul saya telah siap berpindah agama? Apa yang akan ada dalam pikiran teman-teman dan keluarga kalau saya menjadi Muslim? Apakah saya siap untuk mengubah banyak hal dalam perilaku keseharian saya?

Dan yang terjadi kemudian adalah hal yang benar-benar aneh. Saya tidak merasa khawatir tentang hal-hal itu, karena entah bagaimana menjadi seorang Muslim sangat mudah - meskipun masalah yang akan saya hadapi sangat berbeda, tentu saja.

Untuk memulai, Islam menuntut banyak belajar, namun saya ibu dua anak dan bekerja penuh waktu. Anda diharapkan untuk membaca Alquran dari awal hingga akhir, ditambah dengan bertemu imam dan segala macam aturan bagi orang yang sudah tercerahkan. Kebanyakan orang akan menghabiskan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum menyatakan keislamannya. Saya bisa melewatinya.

Kini saya menjalin hubungan dengan beberapa masjid di North London, dan saya pergi ke sana setidaknya sekali seminggu. Saya tidak mengkotakkan diri saya apakah saya seorang Syiah atau Sunni. Bagi saya, hanya ada satu Islam dan satu Allah.

Mengadopsi pakaian, harus saya akui, lebih sulit dari yang Anda pikirkan. Menggunakan jilbab artinya saya berubah secara lebih cepat lagi. Dan, saya melakukannya beberapa pekan lalu. Untunglah, cuaca di luar dingin, jadi hanya sedikit orang yang memperhatikan.

Beberapa orang di tempat kerja saya bisa menerima, sebagian lain mencibir, bahkan menganggap palsu konversi keyakinan saya. Tapi sekarang, saya mulai bisa mengabaikan komentar-komentas negatif mereka. Beberapa orang mungkin tak bisa paham tentang perjalanan spiritual, dan berbincang tentang itu justru membuat mereka ketakutan.

Lepas dari semua itu, satu yang menjadi perhatian saya saat ini adalah: saya akan tetap profesional. Beberapa aktivias lama akan tetap saya lakukan. Saya akan tetap menjadi aktivis pro-Palestina, dan tak akan berhenti. Inggris adalah negara yang lebih toleran, setidaknya dibanding Prancis dan Jerman.

Saya beruntung bahwa saya mempunyai hubungan yang kuat dengan orang-orang di sekitar saya. Reaksi dari teman-teman saya yang non-Muslim lebih pada penasaran daripada bermusuhan. "Apakah itu akan mengubahmu?" Mereka bertanya. "Bisakah kita tetap berteman? Bisakah kita pergi minum?"

Jawaban atas dua pertanyaan pertama adalah: ya. Yang terakhir kemungkinan besar adalah, tidak.

Hubungan saya dengan ayah saya mungkin memang tidak bagus, dan susah memintanya memahami konversi keyakinan saya. Saya dan ibu saya memiliki hubungan yang buruk sejak saya menginjak dewasa, namun kami membangun sebuah "jembatan" hubungan dan dia selalu mendukung saya. Ketika saya bilang saya menjadi Muslim, dia menjawab, "Bukan menjadi itu (Muslim). Kudengar tadinya kau menjadi Budha." Namun kini dia memahami dan menerimanya.

Suatu saat jika harus menikah lagi, saya ingin suami saya seorang Muslim. Jika ditanya apakah anak-anak saya akan menjadi Muslim juga, saya tak bisa menjawabnya. Semua terserah mereka. Anda tak bisa mengubah hati seseorang bukan?

(Sumber: Harian Republika, 3 dan 5 November 2010; voa-islam.com, 24 Oktober 2010)

Rabu, 04 Mei 2011

Agama Versus Modernitas

Oleh Wahyu Chandra
 
Ketika majalah Playboy versi Indonesia terbit pertama kali, Inul Daratista, sang penyanyi dangdut yang kerap menyulut kehebohan, baik dengan goyangannya yang “panas” maupun dengan pernyataan-pernyataannya yang kadang malah jauh lebih “panas”, menyatakan kesiapannya untuk tampil di majalah itu dan malah secara lantang menyalahkan pemrotes majalah tersebut sebagai sebuah sikap monopolistik moral dari agama tertentu. Ironisnya pernyataan itu diucapkan justru di tengah kontraversi RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (APP) .
            Inul adalah sebuah fenomena dalam pentas budaya Indonesia kontemporer. Di satu sisi dipuja sebagai ikon kebebasan berekspresi, namun di sisi lain ia juga dituding sebagai pembawa masalah, perusak moral bangsa, dan berbagai tuduhan negative lainnya. Inul dalam hal ini telah menempatkan dirinya pada sebuah titik pertentangan antara agama dan modernitas.

Modernitas, Globalisasi, dan Geliat Komsumerisme
            Modernitas sebagai sebuah arus perubahan peradaban, muncul sebagai akses langsung dari proses industrialisasi yang telah mengawali terjadinya proses penduniaan atau globalisasi. Dalam perjalanannya, proses besar ini menggiring manusia untuk mengindustrikan apa saja yang ada. Termasuk dalam hal ini adalah ”tubuh”.
            Kemolekan tubuh wanita disadari belakangan merupakan produk industri yang menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seiring dengan perkembangan industri entertainmen, seperti majalah, film dan pertelevisian dan periklanan. Majalah Playboy, misalnya, yang sebagian besar isinya berupa eksploirasi atas tubuh wanita, di negara asalnya sendiri, Amerika Serikat, setiap kali terbit bertiras 2 juta oplah, belum termasuk produk-produk lainnya, yang dijual dengan harga yang lebih mahal karena dinilai memiliki kelas tersendiri.  
Dalam bidang periklanan, kemolekan tubuh para selebritis dianggap sebagai ”penglaris” atas produk-produk yang mereka jajakan. Sebuah iklan dianggap ”kering” jika tidak menampilkan kecantikan dan sensualitas wanita dalam tampilannya.
            Globalisasi pun menggiring ”agama” baru ini menjelajah hingga ke pelosok setiap negeri, bahkan hingga ke pedalaman-pedalaman terpencil. Akses atas televisi yang benar-benar menasional dan hadirnya parabola yang mampu menghadirkan siaran-siaran luar negeri tanpa saring, berperan penting dalam membentuk paradigma baru masyarakat atas berbagai pernik kehidupan, sangat jauh dari keyakinan ataupun persepsi mereka selama ini.  
Keberadaan internet juga berperan besar dalam proses pendunia ini. Majalah Playboy dan bermacam-macam majalah sejenis bahkan bisa diakses langsung dimana saja di dunia ini melalui situsnya di dunia maya (internet), tanpa harus terbatasi oleh aturan-aturan atau larangan-larangan tertentu.
            Menampilkan lekuk-lekuk tubuh yang selama ini dianggap sebagai tabu dan bahkan haram, pada akhirnya kini difahami sebaliknya sebagai bentuk aktualisasi kedirian ataupun ekspresi atas tubuh yang ”merdeka”. Proses pengjungkirbalikan nilai terjadi tanpa tertahankan, bahkan tidak oleh agama, yang menjadi benteng moral masyarakat selama ini.
            Kehadiran Inul yang membawa trah baru di dunia dangdut kontemporer dan diterima secara luas di masyarakat menegaskan betapa modernitas beserta globalisasi telah menyusup ke dalam pola perilaku budaya masyarakat Indonesia dan mengubah secara drastis persepsi sebagian masyarakat atas ”tubuh”. Tubuh bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus ditutup-tutupi dan dikungkung namun harus menampakkan dirinya sebagai sebuah diri yang merdeka.
            Pada ranah lain, massivitas kebebasan dan budaya populer telah merangsang bagi tumbuhnya budaya baru yang bernama komsumerisme. Sebuah sikap hidup yang berorientasi ”belanja”. Beban budaya yang berat dan intens ini tidak dibarengi oleh perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang memadai. Akibatnya muncullah akses negatif dari semua ini, seperti maraknya pencurian, penjambretan dan bahkan perampokan yang disertai pembunuhan sadis. Sikap toleransi antar sesama turut memudar. Yang berkembang malah sikap saling ”memangsa” satu sama lain.
            Pergeseran pola hidup, perilaku dan ataupun budaya ini perlahan namun pasti telah menggeser ”agama” ke wilayah pinggiran dan bahkan telah secara terbuka dicaci–maki dan dilecehkan sedemikian rupa atas nama demokrasi dan kebebasan. Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Agama terseret lebih jauh ke arah pengucilan dan dijadikan tak lebih sebagai simbol, seiring dengan semakin menipisnya modal-modal sosial di tengah masyarakat.

Agama Versus Modernitas
            Munculnya gerakan-gerakan keagamaan sempalan seperti Forum Pembela Islam ataupun ataupun Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menandakan sudah semakin kerasnya modernitas menggiring agama ke wilayah-wilayah marjinal. Kelahiran kelompok-kelompok ini tidak bisa disalahkan begitu saja, karena mereka tak lebih dari ”produk” dari arus budaya menyimpang tersebut. Negara yang diharapkan mampu meredam akses negatif dari proses modernitas dan globalisasi ini tidak mampu berbuat banyak ataupun memformalisasikan kebijakan-kebijakan yang mampu menengahi benturan yang terjadi. Tengoklah misalnya pada kasus penerbitan Playboy ini. Di satu sisi pemerintah membiarkan media ini diterbitkan atas dasar kebebasan pers, namun di sisi lain aparat pemerintah juga melakukan sweeping majalah ini dengan alasan sebuah tindakan persuasif untuk meredakan kemarahan massa yang mulai anarkis. Sebuah sikap kemenduaan yang malah semakin membingungkan masyarakat.
            Penerbitan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang awalnya diharapkan menjadi penengah dan rambu yang jelas atas pertikaian ini juga belum membuahkan produk hukum seperti yang diharapkan dan malah memicu konflik baru antara moralitas dan kebebasan. Wacana ini malah seakan dibiarkan terus berlarut-larut untuk menutupi permasalahan utama yang sebenarnya dihadapi masyarakat saat ini: kemiskinan, korupsi yang merajalela, penggusuran dimana-mana dan semakin kurangnya kualitas hidup masyarakat dari segi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan hidup.
            Inilah kompleksitas yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Masalah-masalah bercampur aduk tanpa sebuah penyelesaian yang jelas. Sebuah penyelesaian yang bijak dan bisa diterima oleh berbagai pihak mustahil akan lahir dalam kondisi ini dan malah akan semakin berlarut-larut dan melahirkan masalah-masalah lain.
Masyarakat yang mulai tidak percaya dengan itikad baik dan kemampuan pemerintah dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada pada akhirnya menempuh cara sendiri-sendiri secara anarkis. Tindakan ini meskipun efektif, namun sifatnya hanya sementara waktu. Dan yang pasti akan memicu sikap apriori masyarakat terhadap langkah-langkah yang tidak elegan tersebut. Agama pun lagi-lagi disalahkan.  
Pada akhirnya agama dan modernitas seakan diperhadapkan untuk saling mengalahkan satu sama lain. Dalam kondisi ini, kejernihan dalam menyelesaikan masalah dan sikap arif antara berbagai kalangan menjadi solusi yang memadai untuk menyelesaikan konflik-konflik ini. Termasuk menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan saling menyerang satu sama lain. Modernitas seharusnya dilihat sebagai sebuah proses evolusi yang positif bagi pembentukan karakter manusia untuk lebih beradab dan lebih ”manusia”, bukan malah sebaliknya. Dan sebaliknya agama, seharusnya menjadi ”energi” bagi keberlangsungan proses ini, yang melakukan perannya secara bijak dan rahmatan lilalamin dan tanpa ada upaya untuk saling mengalahkan satu sama lain.**

Rabu, 15 September 2010

Agama Tak Mengajarkan Kekerasan


konflik, yang diduga, bermuatan SARA, kembali menyeruak, berpotensi memecah belah bangsa ini. orang-orang, yang merasa faham persoalan, sibuk mencaci-maki, tuding-menuding, di berbagai media, termasuk di facebook dan twitter. urusannya pun merambah kemana-mana. bahkan Tuhan pun, yang seharusnya disucikan, menjadi sasaran caci-maki. entah bagaimana logika yg digunakan para pencaci ini.

ada apa dg bangsa ini? maksud sy, ada apa dengan kita? bukankah agama adalah sesuatu yg suci dan mulia. tak ada agama yg mengajarkan keburukan dan kekerasan. kalau pun terjadi kekerasan, itu bukan ajaran agama. itu adalah interpretasi pribadi dari orang-orang yg merasa lebih beragama di banding yang lain. atau bisa jd ini adalah ‘kerjaan’ dr orang-orang yg senang dengan kerusuhan, chaos, karena biasanya, dalam kondisi seperti itu akan sangat mudah untuk menjadi pahlawan.


mengapa kita tak berpikiran jernih, merembukkan semua yag belum tuntas. membicarakan yg dianggap tabu dan tak patut dibicarakan? kita malah lebih memilih saling tuding-menuding, caci memaki dan Tuhan orang lain pun kita najiskan dan hinakan. nausubillah.


ini bukan konflik beragama, menurut saya. ini adalah konflik antara ego-ego kita yg selalu merasa menjadi pemilik sah kebenaran dan menafikan kebenaran yg lain.


saya selalu membayangkan hubungan agama di indonesia sebagai hubungan kakak adik, yang kakak (mayoritas) menyayangi si adik (minoritas), dan si adik membalas dengan menghormati si kakak. tapi bisakah kita seperti itu, karena pada kenyataannya yg ada hanya hubungan saling curiga mencurigai? dan lebih para lagi si ayah (pemerintah) menjadi pusing sendiri.

Sabtu, 27 Februari 2010

Madrasah, Pesantren, Mimpi-Mimpi Wahabi dan Kita

Ketika masa pencalonannya sebagai Presiden AS, Barrack Obama sempat dicecar dengan isu “madrasah”. Lawan politiknya menggelindingkan isu bahwa Obama ketika tinggal di Indonesia pernah menempuh pendidikan di salah satu “madrasah”. Publik AS pun sepertinya beraksi keras mendengar kata “madrasah” ini. Akhir cerita, isu ini pun terklarifikasikan, sehingga Obama pun lolos dari jeratan lawan-lawan politiknya.


Apa yang salah dengan kata “madrasah” ini?

Menurut pengertiannya madrasah adalah sekolah, tempat seseorang menempuh pendidikan formal. Di Indonesia sendiri jenjang pendidikan madrasah bertingkat, Madrasah Ibtidaiyah untuk tingkat SD, Madrasah Tsawaniyah untuk SLTP dan Madrasah Aliyah untuk SLTA (MAN), yang semuanya berada dalam kordinasi Departemen Agama. Jika madrasah adalah sekolah, kenapa publik AS begitu phobia dengan kata ini?
“Madrasah” bagi Barat (AS dan negara-negara Eropa) tak ubahnya adalah sebuah teror, sama ketika mereka mendengar kata “NAZI”, “Hitler”, “Komunis”, “Osama bin Laden”, “Al Qaeda”, “Taliban”, “Jihad” dan sejumlah kata-kata yang akarnya banyak ditemukan dalam peristilahan Islam. Bahkan kata “Islam” sendiri bagi sebagian orang berkonotasi teror.

Tiap konsep memiliki sejarah tersendiri sehingga dianggap menjadi penting artinya di masa depan. Apa yang dipersepsikan seseorang tentang sebuah konsep akan sangat tergantung pada sejarah pembentukan konsep tersebut agar bermakna sesuatu bagi seseorang, apakah itu positif atapun negatif. Islam, sebagaimana dikatakan Karen Amstrong, menjadi entitas yang dibenci di masyarakat Barat karena sejarah panjang konflik Islam – Barat di masa lalu (Perang Salib), yang melahirkan berbagai streotatif yang menakutkan tentang Islam. Apalagi di beberapa negara Islam menggunakan bendera yang bergambarkan pedang, sehingga Islam pun dikonotasikan sebagai agama ‘pedang’ atau agama kekerasan. Begitupun juga dengan kata “madrasah” ini. Dan peristiwa 911 atau serangan kelompok “teroris” (setidaknya menurut AS dan sekutu-sekutunya yang lain) adalah momentum dimana kata “madrasah” ini lahir menjadi sebuah konsep yang tak kalah menakutkannya dengan konsep “Islam” dan “teroris” itu sendiri.

Dalam pandangan Barat “madrasah” adalah tempat penggemblengan atau “kawah candradimuka” para “mujahid” yang banyak menyerang kepentingan Barat di seluruh dunia, bahkan di negara-negara Islam sendiri. Tentara Taliban di Afghanistan adalah alumni-alumni madrasah yang jumlahnya mencapai puluhan ribu, baik yang berada di Afghanistan sendiri, maupun di negara tetangganya, Pakistan. Untuk Pakistan saja, menurut penelitian Bank Dunia, hingga 2001 tercatat sekitar duapuluh ribu madrasah dibangun di negara ini dengan siswa mencapai dua juta siswa. Kurikulum yang diajarkan berbasiskan Islam. Seorang wartawan yang berbasis di Lahore Pakitan, Ahmed Rashid, memperkirakan bahwa lebih dari delapan puluh ribu siswa madrasah siswa ini menjadi prajurit Taliban. Memang tak semua madrasah ini menjadi tempat penggodokan ekstremisme, namun Bank Dunia menyimpulkan bahwa 15 hingga 20% siswa madrasah menerima latihan militer, disertai kurikulum yang menekankan jihad serta kebencian terhadap orang Barat dengan mengorbankan materi-materi seperti seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan sastra.

Menurut Rashid, umumnya murid-murid dari madrasah ini adalah mereka yang “tak memiliki akar dan gelisah, pengangguran serta serba kekurangan dan sangat sedikit bahkan sama sekali tak memiliki pengetahuan umum”. Mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. Kepercayaan mereka yang sederhana terhadap suatu bentuk Islam puritan dan fanatik yang dijejalkan pada mereka oleh mullah-mullah desa sederhana adalah satu-satunya keyakinan yang mereka pegang dan memberi sedikit makna dalam hidup mereka.
Madrasah yang paling terkenal dan memiliki tiga ribu murid adalah Madrasah Darul Ulum Haqqania di Kota Attock dekat Pashwar, Pakistan, yang mendapat julukan “Universitas Jihad” karena lulusannya mencakup pemimpin tertinggi Taliban, seorang ulama misterius bermata satu, Mullah Omar, dan sebagian besar pemimpin puncaknya.

Lalu darimana biaya pembangunan puluhan ribu madrasah ini? Dalam laporan perjalanannya, Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang beralih menjadi aktivis pendidikan di Pakistan, di bukunya “Three Cups of Tea” (2007), menyebutkan bahwa semua pembiayaan ini aliran dananya berasal dari kaum Wahabisme dari Saudi Arabia.

Wahabisme adalah cabang konservatif dan fundamentalis dari Islam Sunni serta merupakan agama negara resmi para pengusaha Saudi Arabia. Banyak orang Saudi penganut aliran ini menganggap istilah itu berbau penghinaan, dan lebih suka menyebut diri mereka Al-Muwahiddun atau “Penganut monotheisme”. Akan tetapi di Pakistan dan di negara-negara miskin lain tempat pengaruh Wahabi cukup terasa, sebutan “Wahabi” itu sudah terlanjur melekat. Pengaruh Wahabisme yang bahkan ikut merekrut para “mujahid” dari kalangan Syiah juga sebuah fenomena sendiri, mengingat kedua mahzab ini, Sunni dan Syiah adalah dua entitas yang sulit dipertemukan.

Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan dengan nama `Abd al-Wahhab yaitu bapak dan pengagasnya, al-Syaikh Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Ia tidak dinamakan al-Muhammadiyyah yang mungkin boleh dikaitkan dengan nama Muhammad bin `Abd al-Wahhab bertujuan untuk menggalakkan persamaan di antara para pengikut Nabi Muhammad (s.`a.w) dengan mereka, dan juga bertujuan untuk menghalang berbagai bentuk eksploitasi (istighlal). Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) kerana mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah.

Muhammad bin `Abd al-Wahhab, sebagai pendiri ajaran ini, dilahirkan di perkampungan `Uyainah, salah satu kampung di Najd di bagian selatan pada tahun 1115H/1703M. Bapaknya, `Abd al-Wahhab merupakan seorang Qadhi. Muhammad dikatakan pernah mempelajari bidang fiqh al-Hanbali dengan bapaknya, yang juga adalah salah seorang tokoh ulama al-Hanabilah. Semenjak kecil, dia mempunyai hubungan yang erat dengan pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab tafsir, hadits dan akidah.

Pada bulan Desember 2000, koran Saudi, Ain Al Yaqeen, melaporkan bahwa satu dari empat organisasi utama penyebar ajaran Wahabi yaitu yayasan Al-Haramain, telah membangun 1.100 mesjid, sekolah dan Islamic Center di sejumlah negara Islam dan membayar gaji tiga ribu orang pendakwah di tahun sebelumnya.
Ain Al Yaqeen juga melaporkan bahwa yang paling aktif di antara keempat group tersebut, International Islamic Relief Orghanization (Organisasi Bantuan Islam Internasional) yang dituding oleh Komisi 11/9 sebagai organisasi pendukung Taliban dan Al-Qaeda, dalam periode yang sama telah menyelesaikan pembangunan tiga ribu delapan ratus mesjid, menghabiskan 45 juta dollar untuk “pendidikan Islam” dan memperkerjakan enam ribu guru, yang kebanyakan dari Pakistan.

Berbagai aksi kekerasan pengeboman di Indonesia pun disinyalir dibiayai oleh para pendukung Wahabisme ini, yang menurut salah seorang ustadz yang pernah saya tanyai, memang membenarkan cara-cara kekerasan dalam pencapaian tujuan-tujuan perjuangannya, yaitu menciptakan sebuah kepemimpinan Islam secara global dan menolak segala bentuk imperialisme kaum kafir (Barat), yang dibingkai dalam konsep “Jihad”.
Dengan latar sejarah seperti inilah “madrasah” kemudian mengalami degradasi makna dari sesuatu yang bersifat mulia, yaitu sekolah, tempat dimana proses pemanusiaan manusia dilakukan, menjadi sebuah “teror” bagi kemanusiaan itu sendiri, dan semua itu karena mimpi-mimpi para penganut Wahabisme yang menjadikan madrasah sebagai tempat rekruitmen para ‘mujahid’ yang menjadi pionir mereka dalam menyampaikan ‘pesannya’ melalui berbagai aksi teror di seluruh penjuru dunia.

Berbeda dengan madrasah di negara-negara Islam lainnya, madrasah di Indonesia, meski tetap mengedepankan pendidikan Islam dan akhlak, juga tetap mengajarkan pendidikan-pendidikan umum dan mengajarkan pendidikan Islam secara moderat dengan kurikulum yang berada dalam kendali pemerintah (Departemen Agama). Maka hampir bisa dipastikan madrasah di Indonesia adalah tak ubahnya sekolah-sekolah umumnya lainnya, bukan sesuatu yang harus ditakuti dan distreotatif-kan dengan konsep kekerasan seperti selama ini ada di benak masyarakat Barat.

Jika wadah penggemblengan para aktivis ekstremis ini di negara-negara Timur Tengah dituding berada di madrasah, maka di Indonesia tudingan ini justru dialamatkan ke pesantren-pesantren.
Kita di Indonesia pun kini berupaya mendegradasikan makna “pesantren” menjadi sebuah makna “teror”. Kita seakan melupakan sejarah betapa pentingnya keberadaan pesantren dalam proses kemerdekaan bangsa ini. Konsepsi kita akan sesuatu pun hanya berkiblat akan apa yang ‘orang lain’ katakan. Kita tidak memiliki diri, pikiran dan tindakan kita sendiri.

Pesantren-pesantren dicurigai, diawasi, dan segera dikonotasikan sebagai tempat rekruitmen para teroris secara generalisasi, tanpa melihat kenyataan bahwa para pelaku tersebut semata hanya ‘keluaran’ dari pesantren tersebut, dimana segala tindakannya tak terkait sama sekali dengan faham keagamaan dari pesantren itu sendiri. Kita telah terlanjur mengeneralisasi.

Masyarakat kita pun tak ubahnya seperti itu adanya. Jika melihat orang yang berjanggut dan bersorban maka dengan secara berbisik-bisik kita langsung menuding ke orang tersebut sebagai ‘teroris’, meskipun mungkin hanya bersifat candaan. Kita tak pernah sadar bahwa apa yang kita katakan, pikirkan dan rasakan dalam hati sebenarnya bukan lagi perkataan, pikiran dan perasaan kita sendiri, tapi sudah menjadi milik orang lain. Milik mereka yang memaksakan pemahaman itu pada kita. Milik Barat, milik media, milik pemerintah ataupun siapapun dia. Dengan kondisi ini masihkah kita menjadi pribadi yang bebas?